Antares

Antares
Keterasingan



Kukira inilah makna dari pengasingan. Bukan pada tempatnya namun dirikulah, yang ternyata seorang asing di tanah leluhur. Dan aku membubuhkan daftar keterasingan di samping daftar kemiskinanku. 


Tetapi apakah rasa asing sama dengan rasa miskin? Sesuatu yang terasa asing bukankah karena kita miskin akan informasi mengenainya? Aku belum mahir memilah, sementara biarlah mereka kudaftar di halaman berbeda.


Keterasingan masih berlanjut di atas meja yang tertata apik di ruang makan, menyajikan deretan lauk asing. Piring-piring itu seperti sudah terbiasa disajikan, sementara aku adalah pendatang asing yang baru mengetahui keberadaan mereka. Selain nasi aku tak bisa mengenali isi piring lainnya. 


Oke, tidak persis seperti itu. Aku masih bisa mengenali potongan ikan dan ayam pada masing-masing piring. Tetapi ikan dan ayam di tempat pengasingan pasti mempunyai nama sendiri. Ikan dan ayam konsumsi yang dijual di kota pastilah berbeda dari ikan ayam di piring itu. Demikian juga dengan pelbagai jenis tetumbuhan yang tersaji segar. Aku hanya tahu selada untuk dimakan mentah. 


Daun tajam yang seperti cemara jarum itu, apakah itu untuk dikunyah segar? Apa namanya?


"Makanlah, lalap dan ikan gurame dari kebun dan kolam belakang, beda dari yang dijual. Ikan kita lebih manis dan gurih."


Apa kubilang! 


Apapun bentuk yang kita klaim menjadi milik "kita" pastilah mempunyai kelebihan. Aku menunggu pernyataan Iyang Uti tentang ayam berbumbu di piring satunya.


"Nah, kalau ayam ini khusus untuk menyambutmu. Ayam kampung muda yang tulang dan dagingnya masih lunak. Tidak setiap hari kita bisa memotong ayam dengan usia yang tepat."


Kembali kucatat dalam daftar di otakku. Bahwa usia ayam kampung haruslah tepat saat dikonsumsi. Sebab sehari-hari ayam yang kutemui sudah beku berhari-hari. Entah ketika kumakan usianya sudah tepat atau sebetulnya pembekuan itu adalah salah satu cara mengawetkan agar usianya tidak terlewat.


Entah apapula jenisnya, dia ayam kampung yang baru saja tiba ataukah ayam kota yang dulunya berasal dari kampung. Sebab orang kota tidak beternak ayam kota. Ada ayam yang seragam bentuk dan rupa. Ayam ras atau ayam negeri. Atau ayam petelur? Ayam pedaging? Ayam seratus hari? Apakah ada yang menjadi pembeda? Kenapa manusia senang sekali membedakan segala sesuatunya?


Supir yang sudah memiliki nama tersebut tinggal untuk makan malam. Dan seorang anak lelaki yang bernama Surya Kencana. Mereka ikut makan dengan lahap. Entah penolakannya sesaat lalu suatu bentuk kesopanan atau tentang harga diri? Bukankah beberapa jam lalu dia beralasan ada urusan yang seperti maha penting dan tak bisa ditinggal?


"Putri sudah kenal Ares?"


"Ares tinggal di depan rumah kita. Tetangga kita dari kecil. Ia suka kesini menolong Bibi. Nanti kalian berangkat sekolah bersama."


Baiklah, jadi seorang bernama Ares ini benar bukanlah kerabatnya. Hanya seorang yang tinggal di depan rumah. 


"Kita" adalah kata ganti yang sering disematkan Bibi dan Iyang Uti untuk membuatnya ikut merasa memiliki. Tetangga Bibi Tantri dan Iyang Uti bukanlah tetangga miliknya dari kecil. Ikan dan ayam kita tidaklah sama dengan "tetangga kita". 


"Berangkat bareng?" aku mendengar nada panik dalam suaraku.


"Iya, Bibi sudah mendaftarkanmu di sekolah yang sama dengan Ares. Kalian satu kelas." 


Aku capek menambahkan daftar. Kemiskinanku lalu keterasinganku, dan haruskah kutambah penderitaan juga? Ini sebetulnya bentuk hukuman apa? Permusuhannya sejak dari bandara hingga pelataran teras rumah jelas tidak akan menghilang di aspal saat kami berangkat bersama menuju sekolah. Aku bisa jamin itu.


Meski aku belum sepenuhnya mengerti pokok masalah dari rasa benci yang diruapkannya ke wajahku. Aku belum membenci sebanyak matanya membenciku. Sebab kubilang aku harus butuh awal. Bagaimana aku membenci orang yang belum pernah kutemui?  


Oke, aku tersinggung dengan perlakuan kasarnya saat di bandara. Tapi jika ada alasan pembenaran, rasa tersinggungku akan berubah menjadi sebuah pemakluman. 


Tapi benakku sudah letih dengan banyaknya informasi yang sejak tadi kudaftar. Daftar kemiskinan, kurang kaya, keterasingan dan kelanjutan derita. Jika esok berlanjut sebagai penderitaan tentunya. 


Sebab aku Putri Maharani, aku putri dan ratu di kerajaan sendiri. Aku harus bisa menciptakan rasa nyaman di tempat yang kumasuki. 


--