
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Ting tong ting tong!
Tok tok tok!
Kamar hotel Rachel masih tertutup rapat, padahal Castel sudah mengetuk pintu beberapa kali, bahkan membunyikan bel pintu juga. Tapi nyatanya tidak ada Rachel yang datang membukakan pintu kamar tersebut.
"Kemana Rachel? apa dia sedang keluar kamar?" tanya Castel dengan bergumam.
Di lorong hotel lantai 11 juga sepi. Tidak ada seorangpun yang tampak terlalu lalang atau berjalan, membuat Castel tidak bisa bertanya pada orang yang kebetulan sedang lewat.
"Sepi sekali? tidak ada satupun petugas yang lewat juga." Castel akhirnya memutuskan untuk kembali, dan mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Rachel.
Dia berpikir jika Rachel sedang pergi keluar bersama dengan teman-temannya, mencari suasana lain untuk menghibur Rachel, yang tentunya sedang merasa sedih, karena adanya banyak pemberitaan tentang dirinya.
"Maaf Rachel. Semoga setelah jumpa pers untuk klarifikasi tadi bisa membawa dampak yang baik, bukan hanya untukku, tapi juga untukmu."
"Tapi... siapakah sebenarnya orang-orang yang ada di sekitarmu? kenapa Aku merasa tidak tenang, setelah melihat kilatan mata iblis dari temanmu yang duduk bersamamu kemarin? Lalu, apakah benar Kamu adalah gadis suci yang harus Aku lindungi?"
Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di benak Castel, yang masih berada di depan pintu kamar hotel Rachel.
Dia tidak menyadari kalau beberapa paparazzi, sedang mengintainya, dan kamera cctv yang ada di lorong tersebut, juga sudah disetting sedemikian rupa, menggunakan kekuatan Erlik sebagai iblis, supaya mencari kambing hitam atas hilangnya Rachel nanti.
Dan sekarang justru Castel White sendiri yang terekam berada di sana, di depan pintu kamar hotel yang ditempati oleh Rachel. Dia tidak tahu jika semua sudah direncanakan oleh Erlik, sang iblis yang merencanakan semua ini.
*****
Di sebuah ruangan gelap, yang tidak diketahui keberadaannya ada di mana, tampak seorang gadis yang terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri, dengan kedua kaki dan tangannya yang terikat di keempat sisi tempat tidur yang terbuat dari besi.
"Apa dia sudah sadar?"
Seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut bertanya pada dua orang, yang memang berada di ruangan tersebut, duduk tak jauh dari ranjang besi yang ditempati oleh gadis yang diikat tadi.
"Belum. Dia belum sadarkan diri," jawab satu diantara mereka, yang cewek, sedangkan yang satunya lagi cowok, hanya mengangguk saja tanpa menyahut.
"Dia tidak mati kan?" tanya orang itu lagi, sepertinya merasa khawatir dengan keadaan gadis yang sedang mereka jaga.
"Tidak. Denyut nadinya masih normal, meskipun dia sedang pingsan."
"Bagus kalau begitu. Aku sudah membuat keadaan di hotel sesuai dengan rencana kita. Aku pastikan bahwa hilangnya Rachel ini tidak akan ada yang mencurigai kita bertiga, bahkan tidak ada yang menyadari jika Rachel sudah tidak ada di kamarnya, kecuali mereka mengecek cctv."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh orang tersebut, kedua orang yang tadi duduk mengerutkan keningnya.
"Bagaimana jika kita ketahuan dari kamera cctv itu?" tanya yang cewek lagi.
"Hehhh! Aku itu tidak bodoh! Aku sudah merekayasa cctv tersebut, sehingga bukan gambar kita yang akan tertangkap kamera cctv, melainkan orang lain, yang satu jam kemudian melewati atau ada di depan pintu kamarnya Rachel, setelah kita pergi."
Plok plok plok!
"Wahhh... Mas Erlik memang hebat!"
Keduanya memuji Erlik, yang ternyata merencanakan penculikan Rachel ini.
Ternyata dia adalah seorang Iblis, sama seperti Calista dan Aditya juga, yang diberi tugas untuk memburu target kerajaan mereka yaitu gadis suci.
Target utama mereka yang merupakan seorang gadis suci ini, dipercaya bisa membawa mereka untuk masuk ke surga, yang tentunya jauh lebih baik dibandingkan berada di neraka.
Para iblis ingin menguasai nerka dan juga surga, sehingga mereka bisa bebas menentukan apapun dan di manapun mereka mau tinggal.
"Kita tidak boleh gagal, karena jika kita gagal, kita tidak akan pernah bisa ke surga. Kita akan selamanya kekal berada di neraka, dan tentu saja kita tidak bisa merasakan kenikmatan yang ada di surga."
Calista dan Aditya menganggukkan kepalanya bersama-sama, paham dengan apa yang dikatakan oleh Erlik.
"Kemarin, saat menemukan Rachel itu bagaimana mas Erlik?" Calista bertanya, karena dia ingin tahu, awal mula Erlik memutuskan mengajak Rachel, dengan cara mengadakan kuis yang disebarluaskan ke media sosial.
Padahal yang sebenarnya semua itu sudah diatur oleh mereka juga, jika hanya Rachel yang bisa menjadi pemenangnya, diapit oleh Calista dan Aditya, yang merupakan komplotan Erlik sendiri. Mereka berdua juga sesama iblis.
"Aku tahu dari sinar matanya yang bening tentara seperti matahari. Aku menemukannya pada saat berjalan-jalan mencari keberadaan gadis suci itu, dan setara kebetulan aku bertemu dengannya di pinggir sebuah gang. Karena rasa penasaran, Aku akhirnya mengikuti dia sampai di tempat kerja, bahkan Aku menunggunya seharian hingga dia pulang, dan melihat kondisi rumahnya sendiri."
"Ohhh..."
"Wahhh..."
Calista dan Aditya memberikan apresiasi yang besar, dengan kekagumannya pada pekerjaan yang dilakukan oleh Erlik.
"Kalian sih malah sibuk mencari-cari di media sosial saja! Padahal pencarian itu lebih afdol jika dicari secara langsung."
Erlik kembali memberikan keterangan tentang cara mencari keberadaan gadis suci. Ini karena sinar mata gadis suci berbeda, seandainya tidak menemuinya secara langsung.
"Hehehe..., maaf Mas."
"Iya Mas, maaf. Kami pikir sama saja, dan jalan yang kami tempuh itu tentunya lebih praktis."
Keduanya, Calista dan Aditya, meminta maaf dengan memberikan alasan yang mereka miliki.
"Halah alasan saja kalian ini!"
*****
Sehari kemudian, disaat tim Castel bertanding lagi, Rachel tidak bisa menonton. Dia tidak mungkin bisa melihat pertandingan sepakbola lagi, karena sudah berada di dalam suatu ruangan yang akan dijadikan sebagai tempat persembahan atau pengorbanan gadis suci. Di jaga oleh Calista bersama dengan Aditya.
Castel sudah mengedarkan pandangannya ke seluruh kursi penonton, tapi dia tetap tidak bisa melihat keberadaan Rachel.
"Rachel tidak ada? Kemana sebenernya dia pergi?" batin Castel, sebelum pertandingan dimulai.
Di tengah-tengah pertandingan, sinyal bahaya dirasakan oleh Castel, mengenai gadis suci, yang membuatnya ingin segera menyelesaikan pertandingan sepak bola ini untuk mencari keberadaan gadis suci tersebut, yang belum bisa dipastikan juga siapa orangnya.
"Ada apa ini? Kenapa Aku merasa telah terjadi sesuatu pada gadis tersebut? Tapi... siapa sebenarnya gadis itu ya?"
Sekarang Castel jadi dilema, antara melanjutkan pertandingan atau pergi mencari keberadaan gadis suci.
*****
#Kira-kira Castel memutuskan seperti apa ya? 🤔🤔🤔