Angel Keeper

Angel Keeper
Sebuah Rasa



Pagi telah datang. Rachel sudah siap dan kini berdiri di depan cermin. Melihat pantulan dirinya sendiri yang kini sudah memakai kemeja lengan pendek, dipadukan dengan celana panjang.


Rachel siap untuk berangkat ke Mall, ke tempat kerjanya yang dulu. Dia ingin meminta maaf, karena pada akhirnya terlalu lama berada di Qatar. Meskipun demikian dia juga sudah memberikan paper pada atasannya.


Setelah persiapan selesai, dia pergi menggunakan jasa ojek yang pada di gang depan. Dia masih terbiasa dengan kehidupannya yang dulu. Apalagi Castel juga tidak memberikan batasan untuknya, bahkan tadi saat Rachel mengatakan ingin ke Mall, Castel juga tidak keberatan.


Dia memperhatikan bagaimana kondisi jalanan kota Jakarta yang selalu macet setiap hari. Ada banyak kendaraan yang ada di depannya, saling menyalip, berburu dengan waktu, supaya tidak terlambat atau bisa datang ke tempat tujuan dengan cepat.


Setibanya di Mall, pintu utama masih tutup. Tapi Rachel yang biasa masuk sebagai karyawan tentu saja tahu pintu mana yang harus dia lalui. Dengan demikian, dia bisa sampai ke dalam al tanpa harus melalui pintu masuk utama Mall besar ini.


"Rachel? Kamu tambah cantik aja sih?" puji temannya, yang melihat kedatangan Rachel.


"Hai Dahlia!"


Mereka berdua, Rachel dan Dahlia, saling berpelukan untuk melepas rindu yang ada selama mereka terpisah.


"Aku yakin jika Kamu berhasil, karena Kamu punya bintang keberuntungan. Dan Kamu itu cantiknya memukau." Bisik Dahlia, saat bertanya soal hubungan Rachel dengan Castel.


Entah kebetulan atau itu adalah sebuah keberuntungan untuknya, Rachel tersenyum dan bersyukur telah mendapatkan perhatian Castel selama ini.


Ternyata hari ini pengawas yang ada pada divisinya tidak masuk kerja. Jadi Rachel tidak bisa bertemu dengan supervisor, yang dulu telah memberinya izin dan mengusahakan cuti yang panjang untuknya, sehingga dia bisa pergi ke Qatar.


"Jadi Aku harus balik besok lagi?" tanya Rachel memastikan.


"Lusa saja Rachel. Tapi jika Kamu mau datang ke sini setiap hari juga tidak apa-apa kok," ujar Dahlia bergurau.


"Hehehe... Aku tentunya ada kegiatan lain Rachel. Demi menyambung hidup!" jelas Rachel sambil terkekeh sendiri.


"Hehehe... iya deh yang mau menikah... asyik..." olok-olok Dahlia, yang sudah tahu rencana Rachel bersama dengan Castel, yang ingin menikah dalam waktu dekat.


"Ihhh jangan disebar dulu beritanya, Aku mau memastikan terlebih dahulu. Takutnya sesuai dengan rencana dan akhirnya mundur."


Dahlia menunjukkan dua jarinya, dengan membentuk huruf V.


"Ya sudahlah ya, Aku balik dulu kalau begitu."


"Ok Rachel, selamat berbahagia ya!"


Rachel mengedipkan sebelah matanya pada Dahlia, sebelum pergi meninggalkan tempat kerjanya yang dulu.


***


Sementara di tempat lain, terlihat lelaki tampan yang nampak kesal, "Ayo cepat! kita sudah terlambat dan suruh sekretaris mu untuk segera menyusul!" Ucap laki-laki tersebut dengan wajah masam.


Dan pada saat itu juga, ada Castel yang berniat mengetuk untuk pintu, tapi malah mengetuk dada bidang laki-laki tersebut, karena lelaki itu baru saja membuka pintu.


"Oh astaga, Kamu pikir Aku pintu, hah!" bentaknya pada Castel yang mengangguk untuk meminta maaf.


"Maaf, aku tidak tahu jika Anda membuka pintu secara tiba-tiba," jawab Castel dengan penuh penyesalan. Dia harus berpura-pura sebagai manusia yang membutuhkan, sebab saat ini dia sedang datang untuk sebuah pekerjaan atau kerjasama.


"Kamu?"


"Saya Castel. Castel White."


"Hmm... kalau tidak salah, Kamu yang semalam mengirim email?" tanya laki-laki itu menebak-nebak.


"Maaf Mr, Saya tidak mengenali Anda."


Laki-laki tersebut meminta maaf setelah mengetahui siapa Castel White. Orang yang saat ini berada di depannya, yang tadi sempat mengetuk dadanya juga.


"Iya Tuan, tidak apa-apa. Saya justru yang meminta maaf." Castel mengucapkan permintaan maaf, sambil membungkukkan badannya sedikit.


"Saya bahkan baru saja mau pergi menemui Anda, tapi ternyata sekarang justru Anda muncul di kantor ini. Apa Anda tidak membaca balasan email?" tanya laki-laki itu dengan menyipitkan matanya, melihat bagaimana Castel yang sedang mengerutkan keningnya.


"Tidak Tuan. Saya langsung datang ke sini, dan belum memeriksa email lagi."


Dengan terpaksa akhirnya laki-laki tersebut membawa Castel masuk bersamanya, ke ruang kerjanya. Dua juga mau minta pada anak buahnya untuk memberikan kabar kembali pada sekertarisnya.


"Mr Castel White sudah datang ke sini, jadi kasih tahu sekretaris untuk balik lagi!"


"Baik Tuan."


*****


Castel merasa puas dengan presentasi yang dilakukan oleh laki-laki tersebut, yang ternyata bernama Rian. Bahkan Rian langsung setuju dengan semua kerjasama yang diajukan olehnya.


"Aku akan menemui Rachel untuk memberikan kabar baik ini."


Siang ini akhirnya Castel menghubungi Rachel, menanyakan apakah urusannya sudah selesai atau belum di Mall.


Tapi ternyata gadis itu sudah pulang ke rumah sedari tadi, karena atasan yang akan ditemui sedang cuti. Dengan demikian, Castel memutuskan untuk datang ke rumahnya Rachel saja, dengan membawakan makanan untuk makan siang mereka berdua nanti.


Ada sesuatu yang membuat Castel merasa sangat senang, selain nanti bisa bertemu dengan gadisnya, dia juga berhasil mendapatkan kerjasama dengan perusahaan besar, yang akan melakukan berbagai macam jenis kegiatan olah raga. Dan Castel bekerja sama dengan perusahaan tersebut untuk pengiriman alat-alat olahraga dan pelatih diperlukan.


Castel sadar jika harus bisa mendapatkan penghasilan, agar hidupnya tidak tergantung dari uang tabungannya saja. Meskipun jumlah tabungannya sangat banyak, tapi jika tidak ada usaha atau pekerjaan, sedikit demi sedikit tabungan tersebut juga akan habis juga nantinya.


"*Aku tidak mau jika hanya mengandalkan tabungan yang ada. Aku juga tahu bagaimana sifat dan kebiasaan Rachel yang suka bekerja keras, dan tidak mau berpangku tangan."


"Jika hanya untuk hidup enak dengan berfoya-foya, tentu saja dia akan menggunakan uang yang ada pada kartu yang Aku tinggalkan untuknya.Tapi nyatanya tidak."


"Gadis suci tersebut justru rela bekerja apa saja untuk bertahan hidup selama menungguku di Qatar waktu itu."


"Bagaimana Aku tidak mencintainya, jika dia tidak mau memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadinya sendiri."


"Aku benar-benar merasa sangat bahagia dengan rasa cinta ini*."


Nyatanya Castel mencintai Rachel dari waktu ke waktu, yang terus bertambah seiring berjalannya sang waktu.


Tin tin!


Mobil Castel berhenti tepat di halaman rumah Rachel, dengan membunyikan klakson, sehingga pemilik rumah keluar untuk menyambutnya.


"My Angel..."


"My princess..."


Keduanya saking tersenyum, di saat pandangan mata mereka saking bertemu.


Sebenarnya Rachel maupun Castel ingin saling berpelukan. Tapi status mereka berdua masih diperhatikan oleh warga sekitar, sehingga mereka harus bisa menahan diri.