
Perpisahan antara Rachel dan Castel, tidak bisa dielakkan lagi. Semua harus terjadi juga, karena berakhirnya tugas yang di emban oleh Castel di bumi.
Setelah selesai dengan hipporia kemenangan tim sepakbola, Castel mengajak Rachel untuk mendatangi kamar Calista. Dia ingin memastikan jika ketiga iblis benar-benar pergi dari tubuhnya Erlik dan kedua temannya.
Castel tidak bisa tenang seandainya meninggalkan Rachel sendiri, sebelum mendapatkan kepastian.
Pada pagi dini hari, mereka berdua tiba di dalam kamarnya Calista. Dia menggunakan kekuatannya untuk memastikan, jika ketiga orang yang sedang berbaring tersebut hanyalah manusia tanpa ada kekuatan iblis lagi.
Teryata dugaan Castel benar. Erlik, Aditya dan Calista ternyata belum benar-benar terlepas dari pengaruh iblis-iblis yang ada di tubuh mereka.
"Aku harus membakar iblis tersebut dengan kekuatan sinar matahari terlebih dahulu," gumam Castel, dengan menatap ke arah tiga orang yang masih berbaring tidak berdaya di tempatnya berada.
Wusss...
Slah...
Akhirnya iblis-iblis menghilang setelah Erlik dan kedua temannya terbakar oleh sinar yang keluar dari tangan Castel, bahkan di saat ketiga iblis tersebut menggunakan kekuatan terakhir mereka untuk mengelak, dengan cara mereka yang berusaha membawa serta Rachel bersama mereka.
"Aku akan membawa serta gadis suci ini!" bentak Erlik yang sudah hampir hangus.
"Biarkan kami pergi bersamanya!"
Calista juga ikut berbicara padahal banyak tinggal bentuk bayangan yang tak nampak sama sekali. Sedangkan Aditya berusaha menarik tangan Rachel, membantu kedua rekannya.
Tapi hal tersebut tentunya tidak dibiarkan begitu saja oleh Castel. Dia berusaha menggunakan kekuatannya untuk tetap mempertahankan Rachel, dengan cara mengepakan sayapnya untuk melindungi tubuh gadis tersebut.
Blum!
Pyarrr...
Akhirnya ketiga iblis itu benar-benar telah pergi, dengan gumpalan asap hitam yang terbang melalui jendela kamar hotel Calista.
"Huhfff... Akhirnya benar-benar selesai."
Castel bernafas dengan lega, karena telah benar-benar menyelesaikan misinya di bumi. Dia memastikan keselamatan Rachel, bahwa tidak akan ada lagi iblis yang mengganggunya.
"Kamu sudah aman Rachel," ucap Castel dengan memegang kedua tangan Rachel, kemudian mencium punggung tangan tersebut.
Cup!
"Berbahagialah..."
Ucapan Castel berhenti, di saat melihat air mata Rachel yang menetes. Bahu Rachel juga naik turun, pertanda jika gadis tersebut sedang menahan isakan tangisnya.
Grep
"Maafkan Aku Rachel. Tapi ini adalah tugasku, dan Aku tidak bisa terus berada di bumi untuk menemanimu, meskipun sebenarnya..."
Kepala Rachel mengeleng beberapa kali, membuat Castel tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Dia tahu jika Rachel sedang menolak kenyataan, jika perpisahan mereka berdua ada di depan mata.
"Aku tidak mungkin menyatakan rasa cintaku, karena ini bisa membuatnya tambah bersedih." Castel menahan diri untuk tidak bicara soal perasaan hatinya.
Begitu juga Rachel, yang diam-diam telah memiliki perasaan yang sama seperti Castel. Tapi dia malu untuk mengaku, karena dia hanyalah gadis biasa yang tidak punya kekuatan apapun yang bisa menghentikan langkah Castel untuk kembali ke surga.
Rachel lupa, jika orang yang sedang dibicarakan dalam hati ini adalah seorang malaikat, yang tentunya bisa mendengar kata hatinya. Dia juga tidak tahu, jika apa yang dia rasakan juga dirasakan oleh Castel saat ini.
Kebersamaan keduanya beberapa saat ini telah menumbuhkan benih-benih cinta yang sebenarnya dalam hati, dalam keadaan yang sulit untuk mereka uraikan.
Dari kejadian yang dia alami inilah, Rachel akhirnya mengetahui identitas Castel yang sebenarnya. Dan dia mau tidak mau harus merelakan Castel kembali ke surga. Meskipun dia sangat bersedih hati.
"*Aku tidak bisa egois untuk menahan dirinya untuk terus berada di bumi. Dia memiliki tugas sendiri, yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain."
"Aku tetap merasa bersyukur telah mengenalnya, mengenal sosoknya yang baik meskipun sebelumnya Aku tidak tahu bahwa dia adalah seorang malaikat. Tapi bagiku dia tetaplah seorang malaikat, yang tidak perlu diakui oleh siapapun. Cukup Aku saja yang tahu bagaimana kebenaran yang ada tentang dirinya selama ini*."
Rachel sedang menguasai perasaannya sendiri, agar bisa menerima kenyataan bahwa dia dan Castel tidak mungkin bisa menjadi satu dalam hubungan percintaan. Meskipun sebenarnya mereka berdua sama-sama memiliki perasaan yang kuat satu dengan yang lain.
"Apakah Kamu percaya dengan takdir dan usaha untuk bisa mengubah sebuah takdir?" tanya Castel tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Castel, Rachel memandang laki-laki penyelamat tersebut dengan pandangan sayu dan sedih. Dia merasa bukan siapa-siapa yang bisa mengubah sebuah takdir.
"Aku hanya gadis biasa yang tidak memiliki kekuatan ataupun kemampuan untuk mengubah garis takdir. Aku hanya berdoa untuk keselamatan atas tugas yang mungkin Kamu emban di kemudian hari. Tapi Aku juga memiliki sebuah harapan, jika suatu saat nanti Aku masih memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dan bersatu dengan Kamu malaikatku."
Perkataan Rachel membuat Castel membulatkan tekadnya untuk bisa mendapatkan ijin dari surga. Dia ingin mendapatkan kesempatan untuk hidup di bumi, bersama dengan cintanya ini.
"Apakah Kamu mau menungguku di sini?"
"Buat apa?" tanya Rachel bingung.
"Menungguku untuk meminta ijin ke surga. Aku ingin mendapatkan ijin, supaya bisa menjalani kehidupan ini bersama denganmu. Apakah Kamu mau?"
Mata Rachel berbinar-binar, mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan yang diucapkan oleh Castel padanya.
"Benarkah?" tanya Rachel memastikan, bahwa pendengarannya benar.
Kepala Castel mengangguk pasti, membuat Rachel tersenyum dalam tangisan kebahagiaan.
"Hiks hiks hiks... jika itu adalah sebuah kebenaran, Aku pasti sangat bahagia. Aku akan dengan sabar menunggumu Castel, malaikat cintaku."
Keduanya kembali berpelukan, sebelum Castel benar-benar pergi meninggalkan Rachel sendirian di Qatar.
*****
Seminggu telah berlalu. Rachel masih setia menunggu kedatangan Castel, yang berjanji akan kembali secepatnya.
"Aku berharap agar Kamu bisa memberikan penjelasan dan alasan yang tepat pada surga, sehingga memberimu ijin untuk bisa pembeli ke bumi dan menemuiku."
Setiap hari Rachel selalu berdoa dalam harapannya, agar bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menemani Castel dengan mendapatkan restu dari surga.
Dia yakin jika surga tahu apa yang terbaik untuk kehidupannya bersama dengan Castel. Apakah mereka berdua memang harus terpisah, atau bahagia dengan bersatunya cinta mereka.
"Castel, malaikatku. Aku masih menunggu di sini, meskipun sebenarnya Aku sudah tidak ada teman lagi karena semua sudah kembali ke Indonesia."
Sebenarnya Rachel juga kebingungan sendiri dengan kesendiriannya di Qatar. Teman-temannya yang datang dari Indonesia, bukan hanya Erlik, Calista dan Aditya, tapi beberapa orang yang memang datang secara mandiri dari Indonesia juga sudah kembali. Sebab pagelaran piala dunia memang sudah selesai seminggu yang lalu.
"Apakah Aku harus tetap menunggu? Tapi sampai kapan?" tanya Rachel yang mulai kebingungan.