
"Maaf. Saya memang tamu dari Nona Rachel, tapi Saya ini kekasihnya." Castel berbicara di depan semua orang termasuk pak RT, yang mendatangi rumahnya Rachel.
"Bahkan kami akan segera menikah dalam waktu dekat," sambung Castel memberikan penjelasan.
Rachel terkejut saat mendengar pernyataan Castel barusan, sebab tadi baru saja membicarakan tentang hubungan mereka untuk selanjutnya, tapi belum sampai ke taraf pernikahan. Dan sekarang malaikat tersebut, Castel White, justru membicarakan tentang pernikahan pada semua orang.
"Wah... ternyata seperti itu ya Nak, maaf jika para warga salah paham." Pak RT mengucapkan permintaan maaf, karena warganya yang sudah berpikir macam-macam tentang keadaan di rumah Rachel.
"Tidak apa-apa Pak RT, Saya memaklumi hal ini. Saya juga belum sempat untuk melaporkan kedatangan Saya ke rumah Pak RT, jadi Saya juga minta maaf."
Rachel buru-buru meminta maaf pada Pak RT, sebab dia memang belum melaporkan kepulangannya. Apalagi dengan membawa seorang laki-laki pulang ke rumahnya, yang belum pernah dikenal warga sebelumnya.
Akhirnya permasalahan dengan warga diselesaikan secara baik-baik, setelah saling memberikan penjelasan dan meminta maaf.
Sekarang Rachel dan Castel melanjutkan kegiatan mereka untuk menyiapkan makan siang yang tadi tertunda, sebab perut mereka juga sudah merasa lapar. Padahal suara cacing-cacing memberontak untuk segera mendapatkan asupan makanan, terdengar sedari tadi. Tapi mereka berdua tetap tidak menghiraukannya, sebab sedang berbincang dengan pak RT dan beberapa warga.
"Maaf my Angel, kita jadi terlambat untuk makan siang." Rachel meminta maaf, karena makanan mereka belum juga tersedia.
"Bagaimana jika kita pergi keluar untuk mencari makan?" tanya Castel memberi usulan. Apalagi dilihatnya makanan yang mau masak belum ada yang matang satu pun.
Mendengar usulan tersebut, Rachel tersenyum canggung karena merasa tidak becus menyiarkan makanan.
"Tidak apa ayok!"
"Wir können das Essen nicht aufschieben, wenn wir nicht in Ohnmacht fallen wollen!"
Akhirnya Rachel menurut. Dia melepaskan celemek yang dia kenakan, begitu juga dengan Castel. Setelahnya mereka berjalan keluar dari rumah, menuju ke depan gang untuk mencari angkutan atau tukang ojek.
"Bagaimana jika setelah makan nanti kita ke showroom?" tanya Castel pada Rachel, dengan memberikan usulan lagi.
Rachel mengerutkan keningnya, mendengar usulan dari Castel. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh malaikat cintanya itu.
"Kita butuh kendaraan untuk transportasi my Angel, jadi setidaknya ada 1 mobil untuk transportasi kita." Castel menerangkan maksud dari usulannya yang tadi.
Rachel tersenyum kecut, setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Castel. Dia merasa tidak bisa memberikan apa-apa untuk kekasihnya, yang baru saja ikut bersama dengannya ke Indonesia. Padahal malaikatnya itu sudah berkorban untuk tinggal di bumi demi dirinya.
"Tidak perlu sungkan my Angel. Aku mencintaimu sebagaimana adanya Kamu."
"I love you sincerely, and not because of what is in you." Castel menggenggam tangan Rachel, sambil tersenyum menenangkan.
"Thank you my Angel. I'm so lucky to be your heart's choice. Aku adalah gadis yang paling beruntung karena bisa mendapatkan dirimu malaikat ku."
Keduanya sama-sama tersenyum, masih dengan posisi berjalan mencari kendaraan, yang bisa membawa mereka ke restoran atau rumah makan. Dan itu juga membuat pikiran Rachel bingung, sebab dia tidak tahu makanan apa yang kira-kira cocok dengan lidahnya Castel.
"Kita mau makan di mana?" tanya Castel memberi mengehentikan sebuah taksi.
"My Angel mau makan apa?" Bukannya menjawab, Rachel justru bertanya balik. Karena sebenarnya dia sudah ingin bertanya sedari tadi, tapi belum mendapatkan waktu yang tepat.
"Aku bisa merasakan makanan apa saja yang bisa Kamu makan." Senyum kebahagiaan terbit di bibirnya Rachel, mendengar jawaban yang diberikan oleh Castel.
Hati Rachel berbunga-bunga, dengan semua rasa yang dia miliki saat ini. Dan semua itu karena kehadiran malaikat penolongnya.
*****
Castel White yang awalnya adalah seorang bintang dunia, karena profesinya sebagai seorang kiper terbaik, tentu saja akan ada banyak orang yang mengenalnya dengan apa yang ada pada dirinya, meskipun saat ini tidak berada di negara asalnya ataupun di pagelaran piala dunia.
"Wahhh... itu kan kiper Castel?"
"Benarkah?"
"Tapi sedang apa dia berada di Indonesia?"
"Apa dia sedang berlibur setelah piala dunia berakhir?"
"Mungkin saja."
"Aku ingin meminta tanda tangannya atau foto bersama!"
"Aku juga mau!"
"Kiper Castel White..."
"Aku mengenalmu!"
Castel dan Rachel cukup terkejut mendengar pembicaraan mereka-mereka yang mengenal Castel White, padahal Castel sudah berusaha untuk mengubah penampilannya supaya tidak dikenali di tempat umum.
Tapi ada kenyataannya tetap saja ada yang mengenalnya, sehingga itu membuat ke hiburan di tempat tersebut.
"Apakah itu gadis Indonesia yang digosipkan bersamanya dulu, sewaktu ada piala dunia di Qatar?"
"Iya-iya, seperti itu emang gadis tersebut!"
Akhirnya orang-orang tadi membuka berita-berita piala dunia Qatar, yang sudah berlalu selama kurang lebih 3 bulan. Mereka ingin mencari kebenaran tentang keberadaan Castel White yang sedang bersama seorang gadis, dengan berita-berita yang dulu pernah muncul dan sempat memanas.
"Bagaimana ini?" tanya Rachel panik.
Dia tidak siap menghadapi kerumunan orang-orang yang akan memberikan banyak pertanyaan, terkait hubungan mereka berdua.
"Kamu tenang dulu my Angel. Kita harus tetap tenang dan berusaha mengalihkan perhatian mereka. Lagipula mereka juga belum yakin dan menemukan tentang kebenaran soal kita berdua."
Castel berusaha untuk menenangkan Rachel, yang tidak biasa menghadapi kerumunan orang-orang untuk kegiatan sosial media. Sebab dengan adana ini, bisa dipastikan akan ada berita-berita yang sama seperti waktu dulu, di saat mereka menghadapi berita-berita viral di Qatar.
"Bagaimana jika kita pergi dari sini dan mencari tempat lain?" tanya Rachel bingung.
"Seandainya kita mencari tempat lain, jika ada yang mengenal kita nantinya juga sama seperti situasi di sini."
Dalam hati Rachel membenarkan jawaban tersebut, karena di manapun tempatnya mereka berada, jika orang-orang mengenal Castel White, maka bisa dipastikan akan ada kejadian seperti ini.
Akhirnya Rachel menurut saja. Dia merasa yakin jika Castel memiliki solusi sendiri.
"Semoga saja orang-orang itu melihat kami bukanlah seperti yang mereka anggap, jika sudah berada di dekat kami." Begitulah kira-kira harapan Rachel.
Berita-berita yang dulu sempat menyudutkan Rachel, tentu saja cukup membekas dalam ingatannya, dengan berita yang menyebarkan informasi tidak benar. Sebab dia dianggap sebagai gadis yang dituduh telah menyebabkan Castel dibenci oleh rekan-rekannya satu timnya.
Castel mengambil tangan Rachel, kemudian menggenggamnya erat. Memberikan rasa tenang untuk hati dan pikiran gadis sucinya tersebut, "Aku tidak akan membiarkanmu ada dalam situasi yang sama seperti dulu."