Angel Keeper

Angel Keeper
Rencana Untuk Bertemu



Suasana sarapan pagi masih sama seperti biasanya. Dingin dan tidak ada perbincangan yang hangat antara anak dan mamanya.


Mr Andreas sebenarnya sudah bosan dengan suasana seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, mamanya memang selalu dingin setelah suaminya meninggal dunia, sedangkan anak perempuannya yang telah hilang sejak bayi belum bisa ditemukan.


"Ma."


Mr Andreas memanggil sang Mama. Dia ingin membicarakan tentang calon istri dari rekan bisnisnya yang baru, sebab dia menemukan ciri-ciri tanda lahir yang sama seperti yang dimiliki adiknya.


Tapi sang mama diam saja, hanya melirik sekilas kemudian kembali menyantap makanan yang ada di piringnya.


"Andre melihat tanda lahir yang mirip dengan milik adik."


Mr Andreas mencoba untuk memancing perhatian mamanya, dengan menceritakan tentang ciri-ciri tanda lahir yang tak sengaja ditemukannya pada Rachel.


"Di mana?" tanya mamanya cepat.


Ternyata pancingan Mr Andreas berhasil.


"Hahhh... ada pada seorang gadis. Tapi Andre tidak tahu, apakah itu benar atau tidak."


"Ajak Mama untuk bertemu dengan gadis itu," sahut mamanya cepat.


"Tapi..."


"Sekarang Andre. Mama akan mengetahui apakah gadis itu bener adikmu atau tidak!"


Sang Mama, Yunita, justru tidak sabar dan menyudahi sarapannya. Dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan gadis yang diceritakan oleh anak laki-lakinya.


Sekarang Mr Andreas justru yang bingung, sebab dia juga tidak tahu di mana rumah Rachel. Dan untuk heri ini dia tidak ada janji temu dengan Castel, rekan kerjanya.


"Mama sabar dulu. Andre akan menyelidikinya terlebih dahulu untuk memastikan kebenarannya atau tidak."


Tapi Yunita tidak mau menunggu. Dia menggeleng dengan cepat karena tidak setuju dengan rencana anaknya, Andreas.


"Tidak Andre. Mama harus bertemu dengannya sekarang juga!"


Mr Andreas menyesal telah menceritakan tentang Rachel pada mamanya, karena sekarang dia sendiri yang harus kerepotan untuk mencari cara agar bisa bertemu dengan gadis tersebut.


"Ayo Andre!"


Yunita sudah terdiri dari tempat duduknya, mengajak anaknya untuk segera pergi. Dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan gadis yang diceritakan anaknya barusan. Dia benar-benar tidak dapat menahan diri, sebab sudah bertahun-tahun lamanya mencari keberadaan anaknya yang hilang. Dan sampai sekarang belum juga bertemu.


Mr Andreas menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia harus mencari cara, supaya bisa bertemu dengan Castel. Tapi harus bersama dengan Rachel juga.


"*Apa yang harus Aku katakan untuk alasannya?"


"Tidak mungkin juga Aku langsung mengatakan bahwa calon istrinya itu adalah adikku yang hilang, atau Rachel itu memiliki ciri-ciri tanda lahir yang sama seperti adikku."


"Ahhh, kenapa tadi Aku harus bercerita*?"


Mr Andreas kebingungan sendiri dengan cara yang akan dilakukannya. Tapi permintaan dari mamanya juga tidak mungkin diabaikan. Apalagi dia juga sama penasarannya juga.


Akhirnya Mr Andreas menemukan cara agar bisa bertemu dengan Rachel, tapi tetap Castel ada bersama dengan gadis tersebut.


"Sebentar Ma. Andre telpon teman dulu."


Yunita yang sudah tidak sabar hanya bisa mengangguk saja. Dia tidak mau jika anaknya itu akan membatalkan rencana untuk bisa bertemu dengan gadis yang tadi diceritakan.


"*Semoga kali ini benar. Aku sudah lelah menunggu dan mencari keberadaannya. Kini, disaat Aku sudah ikhlas justru Andre bertemu dengan sosok gadis yang memiliki ciri-ciri yang sama seperti milik adiknya."


"Apakah ini adalah tertanda yang baik?"


"Tuhan, bantu Aku untuk kuat seandainya nanti salah lagi. Aku akan tetap ikhlas*."


Yunita tersadar dari lamunannya, saat Mr Andreas mengajaknya pergi. Anaknya itu sudah selesai menghubungi temannya.


"Apa dia setuju?" tanya Yunita penuh harap.


Mr Andreas hanya mengangguk saja, kemudian membuka pintu mobil untuk mamanya, baru kemudian dia masuk. Dia meminta pada supir untuk menuju ke suatu tempat, di mana dia sudah membuat janji temu dengan Castel.


Di tempat itulah nanti Mr Andreas akan mempertemukan mamanya dengan Rachel.


Dia juga berharap lebih dekat pertemuan mereka nanti, sebab dia merasa sangat bahagia seandainya benar bahwa Rachel itu adalah adiknya yang telah hilang berpuluh-puluh tahun yang lalu.


"Mama gugup Andre."


Mendengar perkataan mamanya, Mr Andreas mengambil tangan sang mama dan menepuk-nepuk punggung tangan tersebut dengan satu tangannya yang lain.


Puk puk puk


"Tenang Ma. Kita berdoa saja semoga kali ini memang benar."


Yunita mengangguk mengiyakan dengan mengamini doa dan harapan anaknya dalam hati. Dia sendiri terus berdoa sedari tadi.


*****


Di apartemen Castel.


Castel baru saja selesai berganti pakaian, disaat mendapatkan panggilan telpon dari Mr Andreas. Rekan bisnis yang menjalin hubungan kerja dengannya.


Ternyata Mr Andreas memintanya untuk bertemu, tapi dengan mengajak Rachel.


Sebenarnya permintaan Mr Andreas ini membuat Castel kesal dan tersinggung, tapi di saat Mr Andreas mengutarakan maksud dan alasannya, Castel akhirnya menyetujui permintaan tersebut.


Dia akan mengajak calon istrinya itu untuk bertemu dengan Mr Andreas, yang katanya ingin mempertemukan Rachel dengan seseorang yang sangat penting.


"Aku penasaran dengan sosok penting yang dimaksud Mr Andreas. Apalagi ini katanya ada hubungannya dengan Rachel sendiri di masa lalu. Apa ya kira-kira?"


Castel bergumam seorang diri, dengan rasa penasaran yang dia miliki.


Tapi setelah itu dia langsung menghubungi Rachel, supaya bersiap-siap untuk pergi bersama dengannya ke suatu tempat.


Untungnya calon istrinya itu tidak merasa keberatan. Padahal hari ini sebenarnya mereka sudah ada acara sendiri, yaitu pergi bersama dengan tim WO untuk mencicipi menu makanan yang akan dihidangkan dalam pesta pernikahan mereka nantinya.


Tapi rencana itu bisa dilakukan nanti, setelah pertemuan ini selesai. Dengan demikian, Castel harus menghubungi pihak WO, supaya memundurkan jadwal mereka.


Beberapa menit kemudian.


"Huhfff..."


Castel bisa bernafas lega, setelah dia selesai menghubungi Rachel dan pihak WO juga.


"Apa ya kira-kira yang ingin disampaikan oleh Mr Andreas? atau siapa kira-kira orang yang katanya penting untuk Rachel?"


Castel kembali bergumam seorang diri, mempertanyakan teka-teki yang tidak bisa dia jawab saat ini.


"Semoga saja ini adalah hal yang baik-baik."


Dengan harapan yang seperti itu, Castel tidak lagi memikirkan banyak hal. Tapi dia akan tetap berhati-hati saat bertemu dengan Mr Andreas. Dia belum lama kenal dengan rekan kerjanya itu, jadi tidak mengetahui seluk beluk kehidupan dan keluarga Mr Andreas.


Meskipun dia bisa saja menggunakan kekuatan malaikatnya untuk mencari tahu, tapi itu tidak dilakukan Castel.


Dia tidak ingin menggunakan kekuatan malaikatnya, jika tidak dalam keadaan terdesak saja.


Semua harus dilakukan dan dijalani oleh Castel secara umum, sebagaimana manusia biasa yang hidup dari hasil usahanya sendiri. Tidak harus selalu tergantung dengan kekuatan yang luar biasa yang dimilikinya, sebagai seorang malaikat.