
"Apapun yang terjadi di tim, Aku pastikan akan baik-baik saja. Tapi keadaan Rachel belum tentu bisa baik-baik saja, seandainya Aku tidak segera menyelamatkannya."
Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya Castel, sehingga dia tetap meneruskan misinya, dan tidak memperdulikan keadaan sekitar, terutama media sosial yang memberitakan tentang dirinya yang sekarang ini dinilai buruk.
Tapi Castel tidak peduli, karena dia harus menyelesaikan misi dari surga untuk menyelamatkan gadis suci. Karena seandainya dia gagal, dia sendiri tidak akan pernah bisa kembali ke surga, bahkan jiwa dan raganya hangus tanpa sisa.
Dengan segala cara dan upaya yang dilakukan oleh Castel, pertempuran mereka yang sebenarnya tidak imbang akhirnya bisa seimbang. Castel bisa melakukan perlawanan untuk ketiga lawannya, yang tentu saja tidak perlu diragukan kemampuannya sebagai iblis yang sakti dan kuat.
Tubuh Rachel yang dalam keadaan polos, hanya tertutup kelopak-kelopak bunga pada bagian tertentu, membuat Castel harus mencari waktu untuk bisa mendapatkan kain atau apapun, yang bisa digunakan untuk menutup tubuh gadis tersebut.
Slasss!
Brek!
Akhirnya Castel bisa kasih tipis yang ada di bagian dalam gorden, karena kain tebalnya telah diikat sedemikian rupa sehingga Castel kesusahan untuk menariknya.
Berrr...
Brak!
Globrang!
Klontang!
Shiuttt...
Dengan gerakan cepat, Castel menutup tubuhnya Rachel sambil menendang meja ritual yang berada di sampingnya tempat tidur. Meja yang digunakan untuk meletakkan semua keperluan untuk sesaji.
"Sial!"
"Damn you bastard!"
Erlik mulai mengumpat kesal, karena melihat keberhasilan Castel yang baru saja menghancurkan meja sesaji, yang sudah dipersiapkan oleh mereka bertiga, hingga sedemikian rupa untuk ritual yang akan mereka lakukan.
Kini semuanya hancur dan sia-sia. Mimpinya akan keberhasilan ritual ini sudah tidak ada lagi. Di tambah dengan waktunya puncak purnama hanya ada malam ini. Besok sudah tidak lagi purnama penuh.
Calista dan Aditya hanya bisa menghela nafas panjang, melihat semuanya berantakan. Mereka berdua merasa yakin, jika Erlik pasti akan mengamuk karena apa yang terjadi sekarang ini.
Dan benar saja, tak lama kemudian Erlik mengubah wujudnya seperti makhluk aneh, atau bisa juga dikatakan sebagai monster yang sangat mengerikan.
Tanduk di atas kepalanya tidak hanya ada dua saja, tapi ada lima tanduk, yang semuanya berbentuk runcing. Siapa saja yang tertusuk tanduk tersebut, bisa dipastikan akan terkoyak-koyak, yang pada akhirnya mati.
Matanya Erlik google berubah besar, sama seperti lebar sebuah piring, dengan kulit tubuhnya yang kasar seperti berduri.
"Dia sudah mulai menunjukkan wujud aslinya, dan kekuatannya juga sempurna dengan wujud tersebut. Aku harus bisa lebih berhati-hati," batin Castel memperingatkan dirinya sendiri agar lebih waspada terhadap Erlik dah segala kemungkinan yang terjadi.
"Kalian bisa mengubah wujud kalian berdua sekarang!" Erlik memberikan aba-aba pada kedua anak buahnya, Calista dan Aditya, supaya mengikuti apa yang dilakukannya sekarang.
Calista dan Aditya hanya mengangguk patuh, karena mereka juga sudah merasa kewalahan pada saat melawan Castel tadi.
Shiuttt...
Berrr...
Tak tak srak!
Sekarang Calista dengan Aditya sama-sama berubah seperti seekor singa, tapi dalam wujud monster.
Kaki mereka telah menjadi empat, dengan kepala iblis yang hampir sama seperti wujud dari Erlik. Tapi mereka dua tidak memiliki tanduk yang runcing berjumlah 5, dan hanya tanduk pendek di kepala bagian atas telinga masing-masing.
Kata keduanya juga tidak selebar miliknya Erlik, tapi sama-sama berwarna merah.
"Mengerikan sekali wujud mereka bertiga. Untungnya kamar ini kedap suara, sehingga tidak terdengar sampai ke luar kamar." batin Castel mengucapkan rasa syukur, meskipun dia tetap tidak bisa tenang, karena harus menghadapi ketiga iblis yang menjadi lawannya saat ini.
Prang!
Tiba-tiba lampu hias yang ada di kamar Calista ini terjatuh, tepat di depannya Castel.
"Hah! Aku hampir saja mati terkena jebakan mereka," kesah Castel, menyadari jika semua yang terjadi saat ini adalah kekuatan Erlik, dengan mengendalikan benda dari jarak jauh.
Sekarang Castel mengambil dupa, yang sudah batam dan berserakan di lantai. Dia segera melemparkan ke arah Erlik, sehingga mengenai muka iblis tersebut.
Brek...
"Br3ngs3k!"
Erlik kembali mengumpat marah, karena wajahnya di serang Castel dengan menggunakan dupa, yang tadi dipersiapkan oleh mereka untuk acara persembahan.
Kini semua bahan dan perlengkapan ritual tersebut seperti menjadi senjata bagi musuh untuk melawannya. Tentu saja ini membuat Erlik sangat marah.
"Calista, Aditya. Cepat gunakan seluruh kekuatan kalian berdua untuk melawannya! Pastikan dia tidak bisa lolos!"
Bugh bagh bugh...
Dagh bugh dagh dugh...
Suara gaduh karena perkelahian mereka seperti sebuah irama yang memekakkan telinga siapa saja, yang bisa mendengarnya.
Hal ini membuat Erlik tidak sabar untuk segera menyalahkan lawannya, yang hanya sendirian saja tanpa ada yang bisa membantunya.
Tapi Castel tidak hilang akal. Dia mengunakan meja dan mangkuk-mangkuk sesaji, untuk dijadikan alat melawan ketiga iblis tersebut.
Prakk...
Brak...
Slash...
Mangkuk-mangkuk tersebut beterbangan tidak karuan, dikendalikan dengan kekuatan, dan di tolak menggunakan kekuatan juga, sehingga mangkuk-mangkuk tersebut hancur dan berhamburan dari atas ke lantai.
"Aku harus segera menyelesaikan urusan ini. Jika tidak, maka waktunya untuk bisa menyelesaikan misi ini juga akan menghilang!"
Castel berkata dalam hati melihat jarum jam yang ada di dinding kamar Calista. Ternyata dia masih memiliki waktu 5 menit untuk bisa menyalahkan iblis. Jika sampai Castel ceroboh dan tidak tepat waktu, maka dia dan Rachel bisa dipastikan tidak akan pernah bisa keluar dari kamar ini, alias kalah.
Padahal pada iblis tidak mungkin memberikan mereka ampunan, meskipun sudah menyatakan menyerah.
Kini dengan memejamkan matanya, Castel kembali menghimpun kekuatan ke seluruh kehidupan yang ada di bumi dan langit, supaya dia bisa menghancurkan ketiga iblis yang saat ini sudah mulai bangkit.
Duk Duk Duk...
Langkah kaki Erlik dan berdua temannya itu menggema di seluruh ruangan kamar. membuat getaran-getaran yang menakutkan karena ini seperti sebuah gempa.
Castel melirik ke arah luar jendela uang tertutup rapat, karena dia mengunakan mata malaikatnya, jadi dia bisa memantau keadaan di luar sana.
"Tim akan segera bertanding lagi. Aku juga harus cepat menyelesaikan misi ini, supaya Aku bisa menepati janji, dengan memberikan kemenangan kepada tim klub. Aku harus bisa membuktikan pada seluruh dunia, bahwa Aku tetap mampu dan layak menerima dan menjalankan tugasku sebagai seorang kiper."
Akhirnya Castel bisa menyelamatkan Rachel, pada detik-detik terakhir sebelum tim sepak bolanya bertanding.
Brak...
"Arghhh..."