
"Di mana Castel?"
"Eh iya, kemana tuh anak?"
"What is Castel doing?"
"How can he not be here when the match is about to start!"
Teman-temannya Castel mencari keberadaanya, karena dia belum datang dan ikut berbaris bersama dengan anggota tim lain. Padahal lapangan sepak bola sudah dipersiapkan sedemikian rupa, siap untuk digunakan sebagai acara pertandingan final piala dunia Qatar tahun ini.
Perhelatan piala dunia Qatar sedang berada pada waktu puncak. Dua tim terkuat di dunia bertanding untuk mendapatkan pengakuan, bahwa mereka adalah klub yang terbaik.
Tapi kini satu tim belum lengkap formasinya, karena kiper utamanya belum juga menampakan diri, sehingga kasak kusuk yang terdengar juga bermacam-macam. Ada yang menyalahkan Castel dengan segala urusan pribadinya, tapi tetap ada yang mendukung dan optimis, jika Castel ajan datang tepat pada waktunya.
Sekarang yang dinanti-nantikan telah tiba. Castel yang tadi sedang berwujud malaikat telah meletakkan Rachel dalam keadaan baik-baik saja, tanpa terlihat pernah mengalami satu kejadian yang buruk. Secara keseluruhan, Rachel datang dengan sendirinya dan berpakaian layaknya para penonton yang hadir di stadion Olahraga terbesar Qatar.
Lusail Stadium yang berlokasi 15 km di utara dari ibukota Doha merupakan stadion terbesar yang dibangun Qatar untuk Piala Dunia. Di Lusail Stadium ini juga yang menjadi tempat dilangsungkannya pertandingan final Piala Dunia Qatar. Desain stadion ini terinspirasi oleh perpaduan antara cahaya dan bayangan yang terlihat di lampion Fanar. Peradaban dunia islam menjadi salah satu struktur dari stadion Lusail.
Struktur dari Lusail Stadium memperlihatkan Dunia Islam di Arab pada zaman awal peradaban. Berbagai wilayah hijau dan sistem tram juga dibentuk di sekitar stadion ini. Menurut rencana, setelah Piala Dunia usai, bangku di Lusail Stadium akan dibongkar. Stadion ini akan dijadikan pusat komunitas dengan sekolah, toko, kafe, fasilitas olahraga, dan klinik kesehatan.
Tapi dari semua itu, Lusail stadium benar-benar megah dan istimewa.
Kini Castel bisa bermain dengan tenang dan tidak lagi memikirkan banyak hal, karena Rachel duduk manis diantara para penonton yang lainnya.
Waktu pertandingan sepak bola adalah 2 babak. Lama satu babak permainan sepak bola adalah 45 menit belum termasuk tambahan waktu.
Waktu tambahan ini merupakan akumulasi waktu yang terbuang dalam satu babak pertandingan sepak bola. Bagi yang masih bingung, waktu tambahan ini merupakan bentuk tambahan waktu dari wasit apabila dalam satu babak ada waktu yang terbuang akibat pelanggaran, pemain cedera, dan masih banyak lagi.
Extra time atau waktu tambahan saat laga dalam 90 menit berakhir imbang. Durasi extra time adalah 15 menit dan dilakukan dengan dua babak atau 30 menit secara total. Extra time atau babak tambahan hanya diberikan dalam pertandingan dengan sistem gugur, bukan liga.
Tapi lepas dari semua itu, pertandingan final piala dunia Qatar ini berlangsung sangat seru dan menegangkan. Dan tim Castel keluar menjadi pemenangnya.
"Yeehhh..."
"Akhirnya Kamu busa!"
"Yeyeye... menang, winner!"
"You are the champion!"
"I love you!"
"Jangan pernah menyerah di lapangan, perang akan terus berlanjut!"
"All your hard work paid off!"
"Win, be strong, shine!"
"Aku datang untuk melihatmu, dan Aku puas dengan kemenangan yang Kamu raih ini!"
Teriakan-teriakan dari para penonton terus terdengar, bersama dengan hero pikuk musik kemenangan yang dimainkan oleh pemain musik yang sudah dipersiapkan.
Rachel menangis haru di tempatnya berdiri, melihat ke arah Castel yang berdiri di antara teman-teman satu timnya.
*****
Flashback saat penyelamatan Rachel.
Di saat Erlik dan kedua orang anak buahnya, Calista dan Aditya kalah, Castel telah melakukan sesuatu pada mereka, yang membuat mereka tidak akan pernah kembali pada wujud iblis.
Begitu juga dengan keadaan kamar hotel Calista. Semuanya sudah diperbaiki dalam keadaan bersih, sama seperti sebelum terjadinya kekacauan. Semua barang-barang yang seharusnya digunakan untuk ritual persembahan gadis suci juga sudah disingkirkan, menggunakan kekuatan pastel sebagai malaikat.
Pada saat itu, Castel juga sudah mengganti pakaian Rachel dengan pakaian biasa sehingga dia tidak lagi polos, dan hanya tertutup tirai tipis.
Rachel juga telah disadarkan kembali oleh Castel, kemudian dia bawa ke stadion dalam keadaan sadar. Jadi Rachel sekarang tahu jika Castel bukan hanya sekedar seorang kiper terbaik, tapi juga malaikat yang sudah menyelamatkan dirinya dari niat jahat iblis yang menempati tubuh ketiga temannya.
"Aku tidak pernah menyangka kalau Aku adalah gadis yang menjadi target mereka," kesah Rachel saat mendengarkan cerita Castel.
"Tapi semua sudah berakhir Rachel. Mereka bertiga juga tidak bisa mengingat apapun yang terjadi, pada saat mereka menjadi iblis."
Rachel mengangguk paham, di saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh Castel padanya. Apalagi saat ini dia ada di dalam pelukan laki-laki yang telah menyelamatkan hidupnya. Bukan, bukan hanya sekedar seorang laki-laki. Tapi malaikat yang berwujud manusia yang telah menjadi kiper idolanya.
Tapi hal ini juga menjadi kesedihan Castel, bukan hanya Castel tapi juga Rachel, karena setelah ini waktunya Castel berada di dunia telah habis.
Dia akan segera kembali ke surga, setelah menyelesaikan misinya dan tugasnya untuk menyelamatkan gadis suci. Dan tanggung jawabnya sebagai kiper tim sepak bola kini juga telah berakhir, dengan kemenangan yang akan diraihnya nanti.
"Ayo ke stadium. Kita harus segera ke sana, karena waktunya final telah dimulai. Apakah Kamu tidak ingin melihat babak final?"
Rachel mendongakkan kepalanya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Castel padanya barusan. Dia mengangguk mengiyakan, karena di dalam hatinya Rachel ingin tetap berada di dekat malaikat ini.
"Jika diperbolehkan, Aku ingin terus ada di dekatmu Castel. Apakah ini diperbolehkan? Sedangkan Aku hanyalah manusia biasa bukan sepertimu yang seorang malaikat."
Flashback end.
*****
Sorak sorai kemenangan masih terdengar di sana-sini, dan banyak diantara para penonton yang masih tetap berada di tempatnya duduk, melihat bagaimana tim mereka menang sedang menerima piala dan ucapan selamat dari semua pemain lawan.
Dari tengah lapangan, Castel tersenyum bahagia karena bisa meraih kemenangan dan melihat bagaimana Rachel juga sudah bisa tersenyum bahagia melihat kearahnya.
"Aku bahagia melihat senyummu yang secerah mentari pagi Rachel," batin Castel di tengah-tengah lapangan bersama dengan tim dan pelatihnya yang sedang melakukan foto-foto untuk para awak media.
Malam ini adalah kemenangan yang sebenarnya untuk Castel, dengan keberhasilan kedua tugas yang harus dilaksanakan. Dan kemenangan ini membuatnya sangat bersyukur, karena dengan demikian tugasnya di bumi juga sudah selesai.
"Tapi kenapa Aku merasa berat untuk meninggalkan gadis tersebut?" batin Castel gundah dengan perasaannya sendiri.