
Rachel akhirnya menjadi depresi, karena merasa bersalah atas kekalahan tim Castel. Meskipun sebenernya mereka tetap menang di babak kedua.
Tapi hal ini tetap saja mempengaruhi perasaannya yang disebutkan dari berbagai pihak, sehingga dia tidak mau bertemu dengan Castel lagi. Dan berkeinginan untuk kembali pulang ke indonesia.
Tapi tentu saja dia tidak bisa pulang seenaknya sendiri, karena tiket kepulangan masih dipegang oleh Erlik, sebagai penanggung jawab atas keberangkatan dan kepulangan mereka, yang memenangkan tiket gratis menonton ke Qatar.
Hal ini membuat Rachel depresi.
Dia merasa bersalah dan bersedih, sehingga tidak bersemangat dan kehilangan minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasanya dia lakukan dengan senang hati.
Meskipun orang lain mungkin tidak memerhatikan gejala depresi ringan yang terjadi pada Rachel, sikap dan tingkah mereka justru dapat mempengaruhi perasaan Rachel yang sedang merasa putus asa, merasa bersalah dan bersedih hati. Membuatnya kesulitan untuk bisa fokus, karena tidak ada motivasi dan selalu ingin sendirian.
Hal ini karena Rachel merasa sangat bersalah, sehingga apapun yang dilakukan oleh orang lain juga terlihat salah di matanya, sebab dia sedang dalam mode yang mudah tersinggung atau sensitif.
Apalagi dengan adanya pemberitaan dan komentar-komentar fans-fans yang frustasi dari tim Castel, dengan perkataan mereka di berbagai media sosial.
Bahkan pihak BBC juga bertanya, apakah ada unsur kesengajaan dengan pemberitaan skandal Castel dan Rachel, sehingga membuat tim sepakbola Castel kalah. Sebab hal seperti itu sudah biasa terjadi pada event-event besar yang berskala internasional.
Para penggemar bola bahkan memberitakan, jika keberadaan Rachel adalah sebuah rencana atau misi rahasia dari pihak musuh, demi mendapatkan kemenangan, dengan cara mengalahkan tim sepakbolanya Castel.
Merespons banyaknya pemberitaan miring, dengan berbagai gosip yang beredar, pihak manajemen dari tim sepak bola Castel sampai membuat konfirmasi di akun resmi mereka, dengan sebuah permintaan maaf karena sudah mengecewakan para penggemarnya di babak awal.
Untuk pihak panitia penyelenggara Piala Dunia Qatar juga ikut memberikan penjelasan, jika gadis yang diberitakan sedang dekat dengan kiper Castel hanyalah menonton biasa, yang datang dari negara indonesia.
Apalagi pihak penyelenggara juga memberikan kemudahan dan jaminan keamanan untuk para penonton berjenis kelamin perempuan, dengan adanya beberapa aturan ketat yang berlaku selama pertandingan.
Salah satu alasan yang membuat penonton perempuan yaman adalah, dilarangnya berjualan atau mengonsumsi minuman beralkohol di sekitar stadion.
Meskipun sempat diprotes oleh sejumlah pihak, nyatanya banyak juga orang yang mengapresiasi keputusan dan aturan tersebut. Terutama para suporter perempuan, yang menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia di Qatar. Termasuk Rachel dan Calista yang datang dari indonesia.
Banyak perempuan mengatakan, larangan penjualan minuman keras (miras) di dekat stadion sepak bola, membantu mengurangi suasana permusuhan selama pertandingan berlangsung.
Piala Dunia Qatar oleh sebagian pihak disebut perlu menjadi contoh bagi penyelenggaraan turnamen sepak bola di tempat lain, dengan adanya aturan tersebut.
Hal ini menjadi salah satu alasan pernyataan itu dilontarkan, sebab dampak aturan pelarangan penjualan minuman beralkohol di sekitar stadion juga tidak ada pelecehan seksual dan seksisme.
Beberapa perempuan bahkan berkomentar secara life di media sosial bahwa, stadion tempat diselenggarakannya turnamen lebih ramah daripada yang dia harapkan. Terutama dengan penyelenggaraan Piala Dunia yang dikelola secara hati-hati.
Pertandingan Piala Dunia kali ini telah menampilkan penyisihan grup yang sangat kompetitif, peningkatan representasi global di babak sistem gugur, kekecewaan yang dramatis dan penampilan individu yang luar biasa. Sama seperti yang terjadi pada Rachel dan Castel, yaitu antara penggemar dan pemain.
Selain tuduhan penyuapan terhadap pejabat FIFA, muncul pertanyaan tentang bagaimana negara kecil dengan sejarah sepak bola atau infrastruktur mereka yang terbatas, bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Terpilihnya Qatar juga memperumit suasana. Ini karena Qatar adalah negara gurun dengan musim panas yang sangat panas, bahkan sampai membuat jadwal acara yang biasanya diselenggarakan bulan Juni-Juli, menjadi tidak memungkinkan dan harus digeser ke bulan November-Desember.
Asosiasi sepak bola Eropa menganggap hal ini mengganggu agenda-agenda rutin mereka.
Tapi masih ada banyak yang membela Qatar, sebagai tuan rumah yang akan menekankan tentang peningkatan infrastruktur jangka panjang dan penggunaan teknologi keberlanjutan yang mutakhir.
Pentingnya membawa Piala Dunia ke Timur Tengah dan membangun jembatan budaya melalui acara olahraga damai, memberikan kesempatan bagi Qatar untuk menampilkan identitas modernnya.
Tapi dari kejadian awal kekalahan tim Castel, membuat para pengemar bola memiliki serangkaian pendapat-pendapat yang berbeda, dalam memandang hubungan antara olahraga dan politik.
Hal yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum untuk setiap politisi dan diplomasi dunia, demi mewujudkan sesuatu yang jauh lebih besar, dibandingkan hanya keuntungan untuk menyelenggarakan event besar ini.
Masyarakat internasional dapat melihat Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia dari perspektif positif, yaitu kesempatan bagi Qatar untuk mengembangkan sumber daya yang berarti, resources untuk melibatkan dunia dalam dialog yang produktif, engagement yang menunjukkan identitas Qatar, identity nya kepada dunia.
Pada saat yang sama, dunia juga bisa melihat dampak negatif akibat Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia, yakni pemborosan sumber daya manusia (yang menyebabkan hilangnya nyawa) hanya demi “pertunjukan” yang digelar, demi tujuan membersihkan reputasi Qatar melalui olahraga, bread and circus and image.
Terlepas dari pandangan mana yang paling berpengaruh, Piala Dunia FIFA mengingatkan kita bahwa olahraga itu kompleks dan menegangkan, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Sama halnya seperti perasaan Rachel, yang tidak bisa tenang, sejak dia mengenal dan mengetahui identitas Castel White yang sebenarnya.
"Sudah Rachel, semua akan baik-baik saja."
Calista berusaha untuk menghibur Rachel, yang mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar, meskipun bersama dengan teman-temannya yang lain dari Jakarta.
"Aku mau pulang saja! Aku tidak mau melihat pertandingan lagi." Ungkapan perasaan Rachel ini tentu saja bukanlah yang sebenarnya.
Dan Calista tentu saja sangat tahu, sebab dia juga seorang perempuan, yang kadangkala mengatakan "tidak" tapi ternyata berbeda dengan yang ada di dalam hati.
"Tapi Kamu tidak bisa pulang begitu saja. Atau Kamu punya cukup uang untuk membeli tiket pulang ke jakarta?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Calista, akhirnya membuat Rachel sadar. Jika dia datang ke Qatar ini dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Menghabiskan semua tabungannya untuk uang sakunya. Dan itu adalah uang pemberian dari Erlik, yang memintanya untuk tetap ikut bersama dengannya pergi ke Qatar sesuai dengan jadwal sebagai pemenang kuis.
Ingat dengan hal tersebut, Rachel menjadi sadar, kemudian menunduk dengan wajah sedih.