
Seminggu kemudian, semua persiapan untuk hari H pernikahan telah selesai dilakukan.
Drettt drettt drettt...
"Ehhh..."
Rachel terkejut saat handphonenya bergetar, menandakan ada panggilan telpon dari seseorang untuk dirinya.
"Honey..."
Sekarang Rachel memiliki sebutan nama untuk Castel, yaitu Honey. Sedangkan Castel akan memanggilnya dengan sebutan My Angel.
Dengan tersenyum senang, Rachel menerima panggilan telpon dari calon suaminya.
..."Halo Honey..."...
..."Halo juga my Angel. Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?" ...
..."Ya. Aku sangat nyenyak. Terima kasih Honey. Aku bisa merasakan kebahagiaan ini seterusnya." ...
..."Sama-sama My Angel. Oh ya, Kamu mau ke mana hari ini my Angel?" ...
..."Pagi ini mau ke Mall. Pamit sekalian memberikan undangan pernikahan untuk mereka Honey." ...
..."Apa perlu Aku jemput?" ...
..."Tidak. Tidak perlu Honey. Aku bisa naik ojek atau taksi." ...
..."Baiklah. Aku jemput di di Mall saja ya? Aku akan langsung ke Mall begitu urusanku selesai. Tapi Kamu tidak pergi ke mana-mana setelah dari devisi mu." ...
..."Iya Honey. Aku malah bisa yang berbincang-bincang dengan teman-temanku dengan puas nantinya." ...
..."Ok. See you..." ...
..."See you Honey." ...
Klik!
Panggilan telpon dari Castel akhirnya di tutup. Rachel mengumpulkan undangan-undangan yang sudah dirapikan untuk di bawa nanti, kemudian bersikap untuk mandi.
Dia memang belum mandi, sebab mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu.
Sekarang dia sudah membawa handuk mandi, baru kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Tapi langkah kakinya terhenti, sebab ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Siapa ya?" tanya Rachel pada dirinya sendiri.
Tidak ada nomor yang dikenal atas pesan tersebut. Rachel jadi bertanya-tanya nomor siapakah yang memberinya pesan saat ini.
Kamu akan menyesal telah menikahi laki-laki seperti Castel White!
Pesan tersebut memberinya warning, hal yang sama sekali tidak benar. Sebab selama dia mengenal Castel White, laki-laki tersebut sangat bertanggung jawab dan sabar.
"Ini pastinya hanya orang-orang yang merasa tidak senang atas keputusanku, yang menikah dengan Castel White. Atau bisa jadi dia adalah cewek yang patah hati, karena Castel lebih memilihku?"
Berbagai macam pertanyaan dan praduga muncul di benak Rachel atas pesan yang diterimanya barusan. Tapi dia belum bisa memastikan siapa yang telah mengirimi dirinya pesan seperti itu. Sebab setahu Rachel, pergaulan Castel di jakarta juga belum luas, karena Castel adalah pendatang baru dan juga bukan ahli tebar pesona pada lawan jenis.
Jika ada cewek yang merasa dirugikan dengan keputusan Castel menikahinya, itu hanyalah perasaan cewek tersebut yang salah mengartikan kebaikan Castel.
"Hahhh... Aku harus mulai mempersiapkan diri untuk bisa menjadi seorang istri yang baik dan sabar. Sosok malaikatku itu memang menjadi idaman semua wanita, jadi tidak perlu merasa baper jika ada pesan atau telpon yang akan menyulitkan nya suatu hari nanti."
Dengan demikian, Rachel akhirnya memantapkan hati pada posisi yang lebih besar berada di hatinya Castel.
*****
Suasana jalanan kota Jakarta yang tidak pernah sepi, kadang kadang memang membuat hati dan perasaan kesal, marah dan lebih parahnya lagi ada yang tidak bisa mengendalikan diri.
Mereka, para pengguna jalan, akhirnya saling salip menyalip kendaraan satu dengan yang lainnya. Membuat kemacetan dan kadang kala sumpah serapah juga terdengar, jika ada sesuatu yang terjadi atas perbuatan mereka sendiri.
Rachel sedang naik di atas jok motor ojek.
"Tidak perlu terburu-buru Pak. Saya tidak sedang berburu waktu untuk bekerja. Saya hanya akan memberikan kabar pada teman-teman kok," ujar Rachel menasehati pak ojek, supaya tidak ngebut dan menyalip-nyalip kendaraan yang lain.
"Oh iya Neng," sahut pak ojek mengiyakan.
Sekarang pak ojek mengarahkan laju motornya lebih ke tepi, memberikan kesempatan pada teladan yang lain untuk melaju terlebih dahulu.
Rachel juga tersenyum di jok belakang, melihat bagaimana pak ojek mengerti apa yang dia katakan. Dia hanya ingin selamat sampai tujuan, dan tidak terjadi sesuatu pada pak ojek beserta kendaraannya juga.
"Neng Rachel kan mau menikah dengan laki-laki ganteng itu kan? kenapa tidak minta motor atau mobil sendiri Neng?" tanya pak ojek, yang sebenarnya memang masih tetangga Rachel sendiri. Sebab rumahnya ada di gang sebelah, dan Rachel sendiri juga sering menggunakan jasa ojeknya jika pergi kemana-mana.
Tapi Rachel tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan pak ojek.
Dia tidak perlu menjawab dan memberikan penjelasan, sebab memang tidak perlu mengatakan apapun untuk memberitahu orang lain siapa Castel White yang sebenarnya.
Orang-orang akan tahu dengan sendirinya, jika mereka telah menikah nanti.
Meskipun sebenarnya Castel sudah pernah menawarinya untuk membeli mobil atau setidaknya sepeda motor, guna kendaraan Rachel sendiri, tapi dia tidak mau.
Rachel berpikir bahwa, Castel sedang membutuhkan banyak modal untuk usaha dan bisnis barunya. Sedangkan dia belum perlu untuk memiliki kendaraan pribadi.
Masih ada ojek dan kendaraan umum lainnya, yang mudah ditemukan kapan saja di kota besar seperti Jakarta ini.
Meskipun tengah malam sekalipun, ada saja kendaraan yang bisa ditemui jika dingin pergi ke suatu tempat. Karena Rachel sedari kecil sudah paham dengan kehidupan kota Jakarta.
Sekarang dia sudah sampai di depan Mall. Rachel mengucapkan terima kasih kepada pak ojek setelah membayarnya, "terima kasih ya Pak! Nanti Rachel pulangnya gak usah dijemput. Calon suaminya Rachel akan mengantar Rachel pulang nanti."
"Oh gitu ya Neng? Ya sudah hati-hati ya Neng kalau begitu."
Rachel mengangguk mengiyakan perkataan pak ojek. Selalu seperti itu setiap pak ojek selesai mengantarnya ke suatu tempat, menjadi tujuannya.
Setelah pak ojek pergi, Rachel masuk ke Mall yang sudah buka. Sebab saat ini memang sudah jam 11.00 siang.
"Aku kok deg degan ya, mau ketemu teman-teman kerjaku dulu. Meskipun Aku sudah memberitahu supervisor melalui telpon dan pesan, Aku juga sudah memberikan kabar pada teman-teman yang lainnya juga."
"Tapi entah kenapa Aku masih merasa deg degan saja ini. Apa karena mau memberi mereka undangan ya?"
Rachel merasa tidak nyaman dengan perasaannya sendiri. Entah apa yang dia rasakan saat ini, tapi yang jelas dia merasa jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
Akhirnya Rachel mengambil nafas panjang, kemudian membuangnya pelan-pelan. Hal ini dilakukannya beberapa kali, sehingga dia merasa lebih tenang.
"Huhfff... Aku harus bisa tenang, meskipun hatiku merasa was-was. Aku seakan-akan memiliki firasat, jika akan terjadi sesuatu. Tapi entah apa itu."