Angel Keeper

Angel Keeper
POV Mr Andreas



Aku adalah anak tunggal dari keluargaku. Tapi tidak, bukan tunggal karena mamaku hanya memiliki Aku sebagai anaknya.


Ada adik perempuan yang Aku miliki, tapi dia hilang pada saat berumur kurang dari 1 tahun. Dan adikku itu tidak bisa ditemukan keberadaannya, papa dan mamaku sudah melaporkan kejadian tersebut pada pihak yang berwajib.


Bahkan papaku, semasa hidupnya, masih terus mencarinya, dengan menyewa orang-orang yang biasa melakukan pekerjaan seperti detektif.


Tapi pada kenyataannya, adikku itu tidak bisa ditemukan. Keberadaannya seperti ditelan bumi, atau di tutup kekuatan supranatural lain, sehingga tidak diketahui secara pasti.


Setiap ada anak perempuan yang mirip, orang-orang suruhan Papa selalu memberikan informasi. Tapi begitu papa dan mama datang ke lokasi, anak perempuan tersebut bukanlah adikku.


Kata mama, adikku itu memiliki tanda lahir yang unik dan diyakini Mama jika hanya Adikku yang memiliki tanda lahir tersebut di dunia ini.


Tanda lahir tersebut ada di bawah telinga, dengan tiga titik yang bersebelahan seperti membentuk segitiga.


Pernah aku bertanya pada mama, jika kemungkinan tanda lahir itu akan pudar seiring dengan berjalannya waktu, sama seperti tanda lahir yang kadang kala ada pada orang-orang pada umumnya.


"Tidak mungkin Andre."


"Adikmu itu tanda lahirnya beda, dan itu sangat jelas. Dokter yang membantu Mama persalinan saja kagum dengan tanda tersebut. Seperti sebuah tanda hipnotis atau apa gitu katanya."


Begitulah mama pernah bercerita, dan Aku sendiri tidak pernah mendapati seorang wanita atau anak perempuan yang memiliki tanda lahir seperti itu.


Bertahun-tahun lamanya, bahkan berpuluh-puluh tahun mama dan papa tidak berhenti mencari keberadaan adikku itu. Tapi tetap saja tidak ada hasilnya hingga papa meninggal dunia, barulah mama tidak lagi memiliki harapan dan menghentikan pencarian tersebut.


Mama mengikhlaskan kepergian adikku, dengan doa dan harapan. Jika adikku itu telah tiada, semoga bisa bertemu dengan Papa. Tapi jika masih hidup, semoga tetap sehat dan dalam keadaan baik, mendapatkan perlindungan dari Tuhan.


Bahkan di saat Aku memiliki seorang istri, mama sampai terobsesi dengan menantunya.


Mama menganggap istriku itu sebagai barang yang harus dijaga ketat, tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa pengawalan dan pengawasan. Hal inilah yang membuat istriku merasa hidup di dalam tahanan, sehingga sering protes padaku.


Aku sendiri sudah pernah menegur mama, tapi jawaban mama justru membuatku merasa bersalah dan bersedih lagi.


"Istrimu itu seorang perempuan. Mama tidak mau jika ada mengalami hal yang sama seperti adikmu."


Tapi Aku juga tidak tahu bagaimana caranya untuk menasehati istriku, supaya dia bisa menerima keadaan mama yang posesif.


Sayangnya istriku tidak terima dengan perlakuan dan keadaan mama.Dia justru marah besar, bahkan di saat Aku mengajaknya untuk pindah rumah, dia malah semakin marah-marah dengan mengatai mama sebagai seseorang yang sudah gila.


"Mama itu sudah gila Mas, jadi sebaiknya di bawa saja ke rumah sakit jiwa!"


Aku tentu saja marah dan tidak terima dengan perkataan istriku itu. Aku mendiamkannya selama dua hari, tapi malam harinya Aku tidak menemukan keberadaan istriku itu di dalam kamar.


Pada saat Aku mencarinya di semua ruangan rumah, mama mengatakan bahwa istriku pergi bersama dengan seorang lelaki.


Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan jawaban Mama. Tapi ketika Aku melihat cctv rumah, ternyata apa yang dikatakan oleh mama memang benar. Bahkan semua perhiasan dan sejumlah uang di laci lemari juga tidak ada, Katena di bawa pergi istriku.


Di saat Aku datang ke rumah mertuaku, Aku justru menerima fitnahan yang tidak pernah Aku lakukan.


"Jika Kamu memang sudah tidak mau lagi menjadikan dirinya sebagai seorang istri, Kamu bisa mengembalikan anak kami ke rumah dengan baik-baik. Bukan mengusirnya!"


Perkataan mertuaku itu bagaikan petir yang menyambar malam hari, sebab malam itu juga Aku datang langsung ke rumah mereka untuk mencari keberadaan istriku.


Sayangnya apa yang Aku dengar ini justru kebalikannya. Dan pembelaan ku tidak pernah mereka percayai.


Ya, Aku tahu jika mereka tentunya lebih percaya pada anaknya sendiri dibandingkan dengan Aku, yang hanya seorang menantu.


Tapi sampai sekarang Aku tidak pernah mau menandatangani surat persetujuan dari gugatan cerai yang dilayangkan oleh istriku.


Persidangan yang alot dan tidak ada habisnya, membuatnya lelah karena Aku bisa selalu hadir dalam sidang perceraian bersama dengan pengacaraku.


Dengan pengaruh dan kekuasaan yang Aku miliki, Aku bisa membuat istriku itu kalah dengan semua gugatannya. Bahkan google tanya itu ditolak oleh hakim, karena bukti cctv rumah yang memperlihatkan dia pergi dengan sendirinya dari rumah, bahkan dengan dijemput oleh laki-laki lain.


Hal ini tentu saja membuat istriku itu menyerah kalah. Mertuaku juga meminta maaf padaku, karena telah kasar dan menuduhku yang bukan-bukan. Padahal anaknya sendiri yang salah.


Aku dan istriku memang sudah bercerai secara agama yang kami anut, tapi untuk administrasi negara di catatan sipil belum.


Itulah sebabnya, dia jadi kesulitan untuk mendapatkan suami lagi. Dia tidak bisa menikah karena belum ada akta cerai resmi dari pengadilan agama.


Itulah yang Aku lakukan untuk memberikan hukuman untuknya.


Tapi beberapa saat terakhir kemarin, Aku seperti melihat sosok Adikku pada calon istri relasi bisnis baruku.


Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku padanya, karena Aku ingin memastikan bahwa dia memiliki tanda lahir yang sama seperti yang dimiliki oleh adikku.


Tapi apa yang Aku lakukan justru membuatnya merasa risih, bahkan calon suaminya juga menatapku dengan tatapan mata yang tajam beberapa kali.


Aku mengabaikan peringatan yang lebih mirip seperti sebuah peringatan. Dan Aku justru semakin merasa penasaran.


Aku menurut orang lain untuk menyelidikinya, tapi orang tersebut justru salah paham.


Orang suruhan ku itu mengira, jika Aku menginginkan gadis tersebut untuk menjadi seorang istri atau kekasih. Itulah sebabnya dia justru mengirim pesan yang tidak-tidak, yang membuatnya harus menerima hukuman dariku. Sebab apa yang dilakukannya itu justru membuat gadis tersebut ketakutan.


Bagaimana caranya Aku bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa membuktikan, bahwa gadis tersebut memang Adikku atau tidak?


Apakah Aku harus memberitahu mama?


Aku takut jika semuanya dugaan ku ini salah dan membuat mama justru kembali bersedih hati, karena ingat dengan kejadian waktu itu.


Tapi jika Aku tidak segera mencari cara, Aku takut jika ternyata gadis itu memang adikku.


Tuhan, apa yang harus Aku lakukan agar bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa membuktikan kebenaran ini?


Aku tidak mau ada kesalahpahaman antara rekan bisnis ku itu, sehingga kejadian yang tidak diinginkan akan mempengaruhi apapun yang menjadi kerja sama kami.