Angel Keeper

Angel Keeper
Siapa?



Sekitar pukul 03.15 sore, Castel datang menjemput Rachel di Mall. Dia sudah memberi kabar pada kekasihnya itu, untuk menunggunya di restoran bagian depan, tak jauh dari pintu masuk Mall.


"Hai My Angel... sudah lama ya? maaf ya Sayang," sapa Castel dengan permintaan maafnya, sebab dia sedikit terlambat.


"Tidak Honey. Aku juga baru sekitar 3 atau 5 menit yang lalu tiba," sahut Rachel memberitahu.


Akhirnya Castel memesan minuman terlebih dahulu untuk menemani Rachel yang sedang menikmati es krim dalam mangkuk.


"Cuma es krim?"


Rachel mengganggukan kepalanya cepat. Dia memang hanya memesan es krim karena tidak tahu, apakah Castel akan datang lebih cepat atau terlambat. Dia tidak mau jika harus menghabiskan waktunya lebih banyak seandainya Castel ajan segera datang.


"Apakah Kamu tidak lapar my Angel?" tanya Castel mengeryit heran.


"Tadi Aku sudah makan siang bersama Dahlia di jam istirahat Honey. Jadi Aku belum begitu lapar," ujar Rachel memberikan alasan.


"Tapi Aku lapar. Meskipun tadi Aku juga sudah makan siang, tapi sekarang Aku lapar lagi," rengek Castel seperti anak kecil yang sedang meminta jajanan.


Rachel sampai terkikik geli sendiri, melihat tingkahnya yang tidak biasa.


"Hihihi... baiklah. Kamu mau pesan apa Hon?" Akhirnya Rachel mengalah juga dengan memberikan tawaran pada Castel.


"Aku mau spaghetti, Kamu?" Castel balik bertanya, setelah memberikan jawaban untuk makanan yang akan dia inginkan sore ini.


"Aku belum begitulah paris jadi aku ambil sup jagung dan kentang goreng saja."


Akhirnya Rachel memangil pelayanan restoran, memesan kembali makanan yang diinginkan oleh Castel, dengan camilan untuknya juga.


Sambil menunggu pesanan yang datang, mereka berbincang-bincang hal yang ringan.


"Aku mendapat pesan dari seseorang yang tidak Aku kenal Hon," kata Rachel memberitahu permasalahannya padi tadi.


Mendengar perkataan calon istrinya, Castel mengerutkan keningnya penasaran. Dia ingin tahu, apa yang terjadi pada wanita di depannya saat ini, sebab bisa jadi itu adalah hal yang membahayakan.


"Pesan apa my Angel?"


Rachel membuka tas nya, kemudian menunjukkan pesan yang dia terima pagi tadi dari seseorang yang tidak dia kenali.


Castel membaca pesan tersebut dengan teliti. Tapi dia juga tidak tahu, nomor ponsel siapa yang memberikan pesan pada calon istrinya pagi ini. Dia juga tidak mengenali no ponsel tersebut.


"Apa kita perlu melaporkan ini pada polisi?" Rachel bertanya dengan usulannya.


"Tidak perlu. Anggap saja ini adalah para penggemarmu yang patah hati, jadi mereka berusaha untuk membuatmu cemburu sehingga membatalkan rencana kita ini."


Mendengar perkataan calon suaminya, Rachel mengerutkan keningnya. Dia coba untuk berpikir lebih keras, siapa kira-kira orang yang berbuat demikian. Selama ini dia tidak memiliki teman dekat laki-laki, sehingga dia tidak menemukan siapapun nama-nama yang bisa dicurigai.


"Sudah my Angel. Tidak perlu dipikirkan."


"Tapi Aku merasa penasaran Hon," sahut Rachel dengan rasa penasaran yang tinggi.


Dia memang sudah mencoba untuk melupakannya, dengan berkeliling Mall ini untuk belanja, dan juga bersenda gurau bersama Dahlia. Tapi kenyataannya dalam alam bawah sadarnya, tetap saja memikirkan permasalahan ini.


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha untuk menemukan orangnya dan memberikan pelajaran padanya."


"Sekarang tidak perlu berpikir terlalu jauh. Dan tetaplah berada di sisiku saja."


*****


Castel mengantar Rachel pulang ke rumah pada malam hari sekitar jam 08.00 malam.


"Terima kasih Hon," ucap Rachel.


"Sama-sama My Angel."


"Kamu tidak usah meladeni pesan ataupun telpon yang masuk, tapi tidak dikenal. Kamu juga jangan kepikiran atau berpikir aneh-aneh setelah mendapatkan pesan tersebut."


"Trust me, and ignore all those who don't like our relationship."


Anggukan kepala Rachel menandakan bahwa dia mengerti. Dia juga tidak mau jika ada sesuatu yang akhirnya menjadi pikirannya yang aneh-aneh.


"Cepat tidur ya!"


Rachel mengangguk sekali lagi, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Castel.


"Iya Honey."


Setelahnya Castel langsung kembali pulang. Dia tidak mau mengganggu waktu istirahat Rachel, sebab seharian ini mereka tidak ada waktu untuk beristirahat sejenak.


Ada banyak sekali yang harus mereka kerjakan untuk keperluan rencana acara pernikahan. Jadi dia juga harus segera pulang dan beristirahat, sebab besok masih harus melakukan pemeriksaan di perusahaan bersama dengan Mr Andreas.


Mengingat tentang Mr Andreas, Castel sedikit banyak jadi teringat dengan acara makan malam mereka.


Pada waktu itu, Mr Andreas seakan-akan tidak melepaskan perhatiannya dari Rachel. Meskipun Mr Andreas berusaha untuk mengalihkan pandangannya, tapi mata malaikat yang dimiliki oleh Castel tentu saja jauh lebih jeli melihat keadaan yang ada.


Dia jadi berpikir bahwa, Mr Andreas memiliki perasaan khusus terhadap Rachel. Secara Mr Andreas itu juga belum memiliki istri, meskipun pada awalnya mempunyai istri, tapi menurut kabar yang beredar, istrinya Mr Andreas pergi bersama dengan mantan kekasihnya yang sekarang ini berada di Eropa.


"Apa mungkin ini adalah permainan Mr Andreas?" gumam Castel memikirkan kejadian yang dialami oleh Rachel.


Mr Andreas bisa saja melakukan semua itu, dengan bantuan dari beberapa orangnya, yang tentu saja mereka bisa dengan mudah mendapatkan nomor ponselnya Rachel.


"Bisa jadi, tapi bisa juga tidak."


Castel tidak mau berpikir yang tidak-tidak terlebih dahulu. Dia juga belum begitu paham dengan karakter Mr Andreas, secara dia baru mengenal pengusaha sukses tersebut.


"Bisa jadi itu adalah ulah orang-orang iseng yang tidak suka melihat Rachel bahagia."


Akhirnya Castel kembali berkonsentrasi pada setir dan pikirannya sendiri tentang pernikahan yang akan segera di gelar. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu di dekat-dekat waktu yang dia butuhkan bersama dengan Rachel.


"Hahhh... sebaiknya Aku memikirkan rencana pernikahanku saja. Jika sampai ada hal yang tidak diinginkan, Aku akan segera bertindak lebih dahulu sebelum terjadi sesuatu pada gadisku itu."


Castel tiba di apartemennya pada pukul setengah sepuluh malam. Dia langsung menuju ke kamarnya, yang berada di lantai 5. Dia juga butuh istirahat yang cukup banyak, sebab badannya memang terasa lelah.


"Hemmm... ternyata menyiapkan acara pernikahan memang melelahkan. Apalagi ada banyak pekerjaan yang baru dan harus Aku selesaikan juga."


Castel segera masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai 5. Dia butuh segera mandi supaya tubuhnya kembali lebih segar dan bisa berpikir lebih jernih lagi.


Tapi baru saja dia keluar dari dalam lift, terlihat banyangan seseorang yang dia kenal dengan cukup baik untuk waktu-waktu terakhir ini.


"Itu... itu kan..."