
"Hai Dahlia," sapa Rachel di saat sudah tiba di tempat kerjanya yang dulu.
"Hai hello Rachel..."
Dahlia seakan-akan surprise mendapati Rachel berkunjung ke tempat kerjanya, dan dua juga melihat penampilan rachel yang sedikit berbeda.
"Kamu... Kamu tambah cantik sekali!" puji Dahlia pada rekan kerjanya yang dulu pergi ke Qatar, sehingga terdampar di sana beberapa bulan dan akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya.
"Hehehe... maaf ya, kemarin Aku tidak langsung datang. ada beberapa pekerjaan dan kepentingan yang Aku kerjakan jadi ya begitulah... dan sekarang Aku datang untuk..."
"Rachel..."
Dari arah samping ada seseorang yang menyapa Rachel, dan ternyata itu adalah Atiya, supervisor Rachel, yang belum sempat dia temui secara langsung.
"Bu..."
Rachel memeluk mantan atasannya dengan haru. Dia berterima kasih kepada mantan supervisor nya, karena telah memberikan kesempatan pada dirinya untuk mengajukan cuti dengan waktu yang singkat, bahkan pada akhirnya terpaksa harus mengundurkan diri. Semua itu karena dia harus menetap di Qatar beberapa bulan, di saat menunggu kedatangan Castel.
"Apa kabar Kamu Rachel?"
"Saya baik Bu. Emhhh... Saya minta maaf ya Bu, jika pada akhirnya harus resign dari pekerjaan." Rachel mengucapkan permintaan maaf dengan wajah menyesal.
"Tidak apa-apa. Kata Dahlia Kamu justru mendapatkan kekasih baru di sana, dan mau menikah ya?"
Rachel mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Atiya. Supervisor tersebut pasti tahu berita ini dari Dahlia, sebab Rachel hanya memberitahu Dahlia saja.
"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting Kamu ada pekerjaan yang dilakukan, untuk bisa mendapatkan uang demi menyambung kehidupan Kamu sendiri."
Nasehat yang diberikan oleh Atiya diangguki juga oleh Rachel. Dia juga tidak membantah, atau memberitahu mantan supervisor nya itu jika calon suaminya akan mengajaknya bekerja dan mengurus pekerjaan usaha mereka nantinya.
"Saya datang ke sini untuk memberitahu Bu Atiya, jika ada undangan pernikahan dari Saya." Rachel menyerahkan selembar undangan pada Atiya.
Dahlia juga dia beri, kemudian dia meminta pada kedua orang tersebut untuk datang ke pesta pernikahannya nanti.
"Pokonya Bu Atiya harus datang!"
"Kamu juga lho besti!"
"Hehehe... di usahakan sesuai dengan jadwal siff kerja juga," ujar Dahlia tidak bisa berjanji.
Sedangkan Atiya hanya mengangguk-angguk sambil membuka dan membaca undangan pernikahan tersebut.
"Wahhh... Dahlia, sepertinya calon suami Rachel ini tajir lho! lihat, gedung yang digunakan untuk pesta pernikahan saja bukan gedung kaleng-kaleng."
Atiya menunjukkan surat undangan yang sudah dibuka dan dibacanya pada Dahlia. Di situ memang lentera nama gedung yang akan digunakan untuk acara resepsi pernikahan Rachel bersama dengan Castel.
Meskipun undangan tidak begitu banyak, tapi Castel ingin memberikan kesan yang baik dan tidak akan pernah dilupakan oleh Rachel sepanjang hidupnya nanti.
"Wah iya benar... dan calon suaminya juga orang itu ya Rachel?" tanya Dahlia antusias.
Rachel hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya mengiyakan, dengan disertai senyuman yang penuh kebahagiaan yang dia rasakan.
"Wahhh... selamat ya besti..."
"Terima kasih..."
"Selamat Rachel atas rencana pernikahan lu ini. Kami berdua akan usahakan untuk bisa datang," ucap Atiya dengan memeluk Rachel juga. Dia ikut merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Rachel.
Teman-teman SPG yang lainnya, ikut nimbrung di saat tidak ada banyak pengunjung dan mereka juga ingin tahu apa yang terjadi dengan teman seprofesinya dulu.
Akhirnya Rachel membagikan undangan pada mereka semua dan meminta teman-temannya yang lain untuk bisa datang ke acara pernikahannya nanti.
Setelah dirasa cukup, Rachel masih menunggu Dahlia bekerja. dia ingin mengajak temannya itu untuk makan siang pada jam istirahat nanti.
"Aku keliling-keliling dulu ya, nanti waktu jam istirahat Aku datang ke sini menjemputmu. Kita makan berdua seperti dulu lagi!"
"Ciehhh... kangen makan-makanan SPG ya?" goda Dahlia cengengesan.
"Hihihi... ya begitulah..." sahut Rachel asal.
Tapi memang ada rasa rindu dengan suasana yang seperti dulu, di mana bisa bercanda dan tertawa bersama dengan teman-temannya yang lain. Terutama dengan Dahlia.
Akhirnya Rachel keliling-keliling Mall untuk menunggu waktu makan siang. Dia juga mencari beberapa barang-barang yang diperlukan untuk keperluannya menyambut acara pernikahannya dengan Castel.
Rachel membeli beberapa potong baju, baik untuk dirinya dan juga untuk Castel. Dia sudah menghubungi Castel melalui pesan, untuk ukuran dan warna baju yang disukai.
Tapi Castel hanya memberitahukan ukuran bajunya, dengan menyerahkan soal warna pada calon istrinya. Apapun yang menjadi pilihan Rachel, pasti akan dia pakai.
Begitulah kira-kira balasan yang diberikan oleh Castel padanya. Calon suaminya itu juga memberitahu, jika dia bisa menjemput rachel di atas jam 03.00 sore.
"Aku ada waktu yang cukup banyak untuk bisa berkeliling sepuasnya, dan juga menghabiskan jam makan siang bersama dengan dahlia."
Rachel merasa senang karena Castel juga memberikan kebebasan padanya untuk berbelanja dengan menggunakan kartu yang diberikannya dulu. Tapi Rachel hanya mengiyakan saja, sebab dia masih ada sisa tabungan yang didapatkan pada saat bekerja di Qatar dulunya.
*****
"Aku sudah pernah menyangka, jika kepergian mu ke Qatar mendapatkan jodoh juga kan! Lalu, mana pangeran Qatar yang Aku minta untuk oleh-oleh? hehehe..."
Dahlia menagih gurauannya yang dulu, pada saat Rachel baru saja mendapatkan kabar jika menang kuis, dan berusaha untuk mendapatkan izin agar bisa ke Qatar, melihat pagelaran piala dunia.
"Hehehe... Aku saja tidak sempat berkeliling ataupun melihat-lihat tampang laki-laki Qatar. Bagaimana caranya Aku bisa mengantongi 1 untukmu..." sahut Rachel dengan nada bercanda.
"Hahaha..."
"Hihihi..."
Keduanya justru tertawa bersama sama, menertawakan kebodohan yang mereka ciptakan berdua.
Hal kecil seperti inilah yang membuat Rachel merasa kehilangan, karena tidak bisa bergaul dengan mereka-mereka yang mengisi hari-harinya yang dulu.
Tapi dia tidak menyesali semua yang telah terjadi dalam kehidupannya. Dia tetap merasa bersyukur dengan adanya Castel yang akan menemani dirinya sepanjang hidup.
Castel sudah berusaha untuk memperjuangkan dirinya, hingga titik terbaik saat ini. Dan rencana pernikahan mereka berdua adalah moment terpenting dalam perjuangan tersebut. Rachel tentu saja tidak bisa mengabaikan semua perjuangan Castel.
Dia sendiri juga sudah berjuang sedemikian rupa, menunggu malaikatnya tersebut kembali ke bumi. Rachel harus berada di negara yang asing, yang tidak dia ketahui sebelumnya. Bahkan dia juga harus kehilangan pekerjaannya sebagai SPG di Mall ini, tapi semua itu tidak membuatnya menyesal. Dia yakin dengan jalan kehidupan yang dia jalani saat ini.
"Aku tetap merasa bersyukur, apapun yang terjadi padaku. Di tambah lagi dengan adanya malaikat Honey di sisiku."