Angel Keeper

Angel Keeper
Menilai



"Coba kita dekati saja yuk! biar sekalian mengetahui kebenarannya."


"Tapi jika salah kita akan kena marah. Aku tidak mau membuat kesalahan dengan dituduh sebagai orang yang tidak punya malu."


"Sudah ayok..."


Akhirnya ada dua orang yang benar-benar nekat, mendekat ke tempat duduknya Rachel dan Castel yang baru saja selesai memesan makanan mereka.


"Halo selamat siang."


"Permisi. Kami hanya ingin berkenalan. Apakah boleh?" (Excuse me, we would like to get acquainted, is that possible?)


Satu di antara mereka meminta ijin dengan menggunakan bahasa inggris juga, sebab berpikir jika Castel tidak mengerti bahasa Indonesia. Sepertinya dia benar-benar penggemarnya Castel, jadi sedikit hafal dengan kiper tersebut.


"Maaf, kami sedang menunggu makanan kami,dan kami juga sedang tidak ingin diganggu."


"Maaf ya."


Castel memberikan jawaban pada mereka yang bertanya dengan meminta maaf juga. Dia tidak mau jika terjadi kesalahpahaman, yang mempengaruhi kehidupan Rachel di daerahnya sendiri. Yaitu Jakarta, Indonesia.


Akhirnya kedua orang tersebut menganggukkan kepalanya, paham dengan maksud perkataan Castel. Untungnya mereka tidak memaksakan kehendaknya sendiri pada Castel dan Rachel, sehingga tidak terjadi kekacauan atau keributan di rumah makan siang ini.


Setelah mereka berdua pergi, Castel tersenyum pada Rachel, yang menatapnya dengan tidak percaya pada apa yang dilihatnya barusan.


Castel bisa dengan mudah memberikan pengertian pada orang lain, bahkan orang tersebut tidak melawan atau memaksanya.


"Jangan melihatku seperti itu my Angel. Aku tidak melakukan apa-apa."


Rachel hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis, sambil menundukkan wajahnya malu, sebab ketahuan sedang mengagumi sosok Castel.


*****


Sepulangnya dari makan siang, Castel mengajak Rachel ke showroom mobil. Dia ingin membeli sebuah kendaraan yang bisa digunakan untuk transportasi dan kebutuhan mereka berdua.


"Apa tidak sebaiknya kendaraannya ditunda dulu. Kamu belum menentukan usaha apa yang akan dikerjakan nanti my Angel."


Rachel berusaha untuk mengingatkan kekasihnya itu, supaya tidak menghambur-hamburkan tabungannya. Apalagi mereka memang belum sempat menentukan usaha, yang akan mereka lakukan kedepannya nanti.


"Tidak apa-apa my Angel. Kendaraan ini sangat penting untuk kegiatan kita, jadi memang harus ada. Jika perlu Kamu sudah memilikinya sendiri," ujar Castel sesuai dengan pemikirannya.


"Tidak. Aku tidak bisa menyetir."


"Itu adalah hal yang mudah my Angel. Kamu bisa belajar denganku, atau mendaftar di sekolah khusus menyetir." Terang Castel.


Tapi Rachel tetap bersikukuh untuk menolak tawaran yang diberikan oleh Castel. Dia tidak mau memanfaatkan keadaan, sebab dia juga belum menjadi istri dari kiper tersebut.


Mereka berdua sampai di rumah pukul 7 malam, karena setelah makan siang pergi ke showroom hingga sore hari, kemudian mereka berputar-putar terlebih dahulu. Melihat-lihat keadaan kota Jakarta.


Sudah lama Rachel meninggalkan kota jakarta sehingga dia juga ingin berkeliling, apalagi saat ini sudah ada mobil yang dikendarai oleh Castel sendiri. Setelah lepas jam 5 mereka mencari makanan untuk bisa dibawa pulang. Jadi mereka tidak akan kerepotan untuk menyiapkan makan malam.


Setibanya di rumah, Rachel dikejutkan dengan adanya pak RT dan juga beberapa warga, yang biasanya bertugas untuk meronda di sekitar apa tinggalnya Rachel.


"Nak Rachel. Sebaiknya Nak Rachel lebih berhati-hati dengan laki-laki bule, apalagi jika mereka itu sangat terkenal. Biasanya orang bule itu playboy dan ke mempermainkan hati dan perasaan wanita-wanita Indonesia." Ucap Pak RT memperingatkan Rachel.


"Apa dia akan menyelinap di sini?" pak RT bertanya dengan menyelidiki.


"Tidak, Saya akan segera kembali. Saya hanya mengantar kekasih Saya ini." Terang Castel dengan mengangguk samar.


"Ya sudah kami permisi dulu nak Rachel. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk memberitahukan kepada kami ya Nak," ucap Pak RT mewakili yang lain.


"Iya, Terimakasih banyak Pak RT dan juga bapak-bapak yang lain, sudah datang ke sini dan memberikan nasehatnya juga." Rachel mengucapkan terima kasih, meskipun sebenarnya dia merasa tidak nyaman dalam keadaan seperti ini.


"Sama-sama nak Rachel."  


Setelah Pak RT dan para warga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, Rachel dan Castel langsung masuk ke dalam rumah, tanpa menutup pintunya dan Jendela. Karena dia tidak mau jika terjadi kesalahpahaman lagi. Mereka berdua tahu, jika apa yang dilakukan oleh Pak RT maupun warga demi kebaikan mereka sendiri. Menghindar dari segala sesuatu yang tidak diperbolehkan sebelum mereka memiliki ikatan pernikahan yang sah.


Malam semakin beranjak, dan Castel akhirnya pamit untuk pergi.


"Tapi Kamu mau di mana?" tanya Rachel khawatir.


Di Jakarta ini Castel adalah orang baru yang tidak tahu menahu dengan situasi kota besar Jakarta. Castel juga tidak punya kerabat, teman atau kenalan di sini. Hanya Rachel satu-satunya orang dikenal Malaikatnya itu.


"Astaga. Aku lupa jika Kamu bisa melakukan apa saja, jadi seharusnya Aku tidak perlu khawatir ya," ucap Rachel baru sadar. Dia melupakan sesuatu, siapa sebenarnya laki-laki yang saat ini ada di rumahnya


"Sebaiknya Aku segera pergi. Aku tidak mau jika Pak RT maupun warga mendatangimu lagi. Itu tidak akan baik ke depannya nanti."


Namun Rachel merasa kecewa, ketika Castel tidak memberitahu, di mana malam ini laki-laki itu akan tidur. Apakah akan menginap di hotel atau mencari rumah kontrakan. Castel tidak mau memberikan penjelasan kepada Rachel.


Setelah beberapa menit kemudian, mobil yang tadi baru saja dibelikan Castel meninggalkan halaman rumah Rachel.


Rachel tampak melambaikan tangan, begitu juga dengan Castel yang membuka kaca jendela mobilnya. Memandang gadis tersebut, sebelum benar-benar ditinggalkan untuk malam ini.


Melihat kelincahan Castel White, Rachel percaya jika kekasihnya itu bisa menjaga dirinya sendiri. Terlepas dari kebenaran siapa sebenarnya laki-laki tersebut, yang merupakan seorang malaikat bukan hanya manusia biasa.


*****


Di rumah pak RT, ada pertemuan kecil yang membicarakan tentang Rachel dan Castel.


"Sepertinya wajah laki-laki itu tidak asing. Tapi Aku lupa siapa dia ya?" tanya salah satu warga yang ikut berbincang di rumah Pak RT.


"Iya. Aku juga merasa familiar dengan wajah bule itu!"


"Apa besok kita tanya lagi?"


"Eh, itu mobil yang tadi!"


Salah satu dari mereka melihat keberadaan mobil Castel yang keluar dari gang rumah Rachel, menuju ke jalan raya.


"Dia benar-benar laki-laki yang pertanggung jawab, karena memang pulang dan tidak menginap di rumah Rachel."


"Iya. Aku juga berpikir bahwa dia adalah laki-laki yang baik."


"Itu artinya Rachel beruntung dong... karena selama ini Rachel juga gadis yang baik."


Yang lain ikut menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari temannya barusan. Sebab selama ini Rachel di kenal sebagai seorang gadis yang suka menolong, dan mempunyai rasa sosial yang tinggi.