Angel Keeper

Angel Keeper
Bertemu



"Is it true that you are My Angel?"


"Ini tidak mimpi kan?"


Rachel tidak mempercayai apa yang saat ini terjadi padanya, karena dia tidak tahu, jika Castel saat ini sudah berada di sampingnya,di dalam pesawat juga.


"Yes. I am your angel my love. I have received permission to be able to live and take care of you on earth."


"Serius?" tanya Rachel surprise.


Castel memberitahukan padanya, bahwa saat dia berada di surga dan meminta ijin, memang tidak langsung mendapatkan keputusan. Harus ada usaha dan syarat-syarat tertentu, yang harus dilakukan oleh Castel untuk bisa menetap di bumi.


"Aku ada di surga hanya dua hari saja," ujar Castel memberi tahu.


"Apa, cuma dua hari?"


"Tidak-tidak. Kamu pergi dari sisiku sudah lebih dari dua bulan lamanya, dan Kamu mengatakan cuma dua hari?"


Kepala Rachel menggeleng beberapa kali, karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh malaikatnya cintanya.


"Apakah malaikat pernah berbohong? I speak the truth. Isn't there a time difference between heaven and earth?"


Dengan cepat Rachel menutup mulutnya sendiri, karena secara tidak langsung sudah menuduh malaikat Castel telah berkata bohong. Dan itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang malaikat.


"Maaf," ucap Rachel pelan.


Tapi Castel justru tersenyum melihat gadis suci tersebut merasa bersalah. Padahal dia sendiri belum memberikan penjelasan, bahwa ada perbedaan waktu antara surga dan bumi. Jadi Rachel tidak bersalah dengan kesalahpahaman yang dipikirkan tentang waktu yang dihitungnya.


"My holy girl there is a time difference between heaven and earth. An earth angel like you doesn't know yet, so it doesn't matter."


"Ada perbedaan yang terjadi antara waktu surga dengan bumi, dan itu bukan kesalahanmu Bidadariku yang ada bumi."


Rachel menunduk malu, karena kata-kata Castel yang membuatnya melayang. Kini dia merasa sangat bahagia, karena pada akhirnya Castel justru yang akan mengikutinya ke Indonesia.


"Tapi dari mana Kamu tahu My Angel, jika Aku pulang ke Indonesia hari ini dengan menggunakan pesawat ini juga?" tanya Rachel cepat, di saat dia teringat dengan suasana hatinya yang tadi sedang putus asa.


Rachel memang sudah putus asa, sehingga dia mengikhlaskan malaikat Castel White, yang tidak mungkin kembali ke bumi hanya untuk menemani dirinya.


"Aku justru diperintahkan untuk turun segera ke bumi, pada saat surga mendapatkan sinyal jika Kamu sudah benar-benar ikhlas seandainya Aku tidak bisa kembali bersamamu."


Senyum kebahagiaan dan haru tidak bisa lepas dari wajah Rachel. Dia benar-benar merasa sangat bahagia dan bersyukur, karena pada akhirnya pelindungnya bisa hidup bersamanya.


"Tapi bagaimana dengan profesinya sebagai kiper? Dan bagaimana caranya tadi dia bisa menjadi salah satu penumpang di pesawat ini?" batin Rachel justru bertanya-tanya, dengan apa yang membuatnya bingung.


"Tidak perlu banyak berpikir, Aku masih memiliki kekuatan sebagai malaikat. Tapi Aku diperbolehkan menggunakan kekuatan tersebut, hanya dalam keadaan yang terdesak saja." Castel memberikan penjelasan, tanpa Rachel harus bertanya. Sebab apa yang dikatakan atau ditanyakan Rachel dalam hati, Castel bisa mengetahui.


"Emhhh... jadi, semua orang tidak berbenah menyadari bagaimana keadaan dirimu yang sebenarnya?" tanya Rachel memastikan.


Dengan sangat yakin Castel mengangguk dan kepalanya, karena dia sudah membuat kehidupannya tidak lagi sama seperti kemarin.


Orang-orang hanya akan mengenalnya sebagai Castel White, dan bukan lagi seorang kiper terbaik dunia. Dia ingin memulai kehidupan yang baru bersama dengan Rachel, tanpa harus memiliki nama besar dari profesinya yang seorang kiper.


Sekarang waktunya mereka untuk bersiap-siap, karena pesawat akan segera meninggalkan bandar udara internasional Qatar menuju ke Jakarta, Indonesia.


*****


Ucapan selamat datang diucapkan oleh Rachel pada Castel, begitu mereka keluar dari pintu pesawat.


"Hemmm... Welcome to a new world. I will live it as a human being in general."


Ternyata Castel sudah berjanji pada dirinya sendiri, karena ini juga atas kesepakatan dan persyaratan yang diberikan oleh pihak surga, jika dia ingin hidup di bumi.


Jadi Castel harus bisa hidup seperti manusia pada umumnya dan tidak mengandalkan kekuatannya sebagai malaikat.


"Kita naik taksi dulu. Rumahku masih jauh dari bandara, dan rumahku itu sangat kecil." Rachel berkata dengan jujur tentang keadaan dirinya yang sudah hidup seorang diri.


"Aku tahu."


"Kamu tahu?" tanya Rachel tidak percaya. Dia lupa dengan siapa saat ini berbicara.


Tapi beberapa detik kemudian, pada saat Rachel melihat senyum di bibir Castel, dia kembali sadar, bahwa dia tidak bisa menyembunyikan suatu apapun dari Castel.


Bisa dipastikan bahwa Castel telah mengetahui segalanya tentang dirinya. Baik itu yang diketahui oleh orang lain maupun yang tidak diketahui, alias rahasia pribadinya.


"Curang dong..."


Bibir Rachel cemberut, karena merasa dia telah ditelanjangi secara tidak langsung, karena Castel bisa mengetahui segala sesuatu tentang dirinya. Sedangkan dia tidak tahu apa-apa soal Castel.


"Tidak perlu marah atau ngambek begitu My Angel. Kamu tahu? Aku tidak akan menggunakan kekuatanku untuk mengetahui apa yang Kamu inginkan dan tidak Kamu inginkan di dalam hati."


"Mulai sekarang, Aku akan menjadi manusia biasa sama seperti dirimu."


Rachel tersenyum tipis, mendengar perkataan Castel yang sedang memberikan pengertian padanya. Dia tidak akan merasa nyaman, jika apapun yang dilakukan akan diketahui oleh Castel, meskipun dia tidak akan pernah menyembunyikan sesuatu apapun dari malaikat Castel, yang akan menjalani kehidupan bersamanya ke depan nanti.


Setelah mendapatkan taksi, Rachel meminta pada supir untuk menuju ke alamat rumahnya.


Sekitar satu jam lebih Lina belas menit, barulah Rachel tiba di rumahnya. Rumah yang sudah sangat lama ditinggalkan, sehingga keadaannya sangat kotor.


"Maaf ya, rumahnya kotor sekali," ucap Rachel, yang merasa malu dengan keadaan rumahnya.


Tapi Castel hanya diam saja, dan mengangguk mengiyakan. Dia memaklumi kondisi rumah Rachel yang sudah tidak berpenghuni selama dua bulan lebih.


Akhirnya mereka berdua bersama-sama membersihkan rumah. Menyapu dan mengepel lantai, serta mengelap debu-debu yang menempel pada perabotan rumah.


Sluuuttt...


"Ahhhh..."


Grep!


Rachel hampir saja terjatuh, karena terpeleset pada lantai yang licin. Untungnya Castel sigap menangkap tangan Rachel, berputar pada posisi yang seperti orang sedang berdansa. Tubuh Rachel juga menempel pada tubuhnya, hampir berpelukan secara penuh, dengan tatapan mata penuh kasih.


Deg deg deg!


Beberapa detik mereka berdua sama-sama diam, terpana dengan cara mereka bersentuhan. Tapi keduanya dengan cepat sadar, sehingga melepaskan diri dari magnet masing-masing.


"Ma... maaf, ucap Castel gugup."


"Tidak. Bukan maaf, Aku... Aku yang seharusnya berterima kasih. Karena mu Aku tidak jatuh ke lantai."