
Satu bulan ini Rachel berusaha untuk tetap sabar menunggu kedatangan Castel, bahkan dia juga sudah kehabisan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup di Qatar.
Dia memegang kartu hitam atau black card milik Castel White, yang tidak ada batas limitnya, dan bahkan tidak akan pernah habis meskipun digunakan berkali-kali. Uang yang disediakan Castel untuknya, guna memenuhi kebutuhan hidup selama menunggu malaikat tersebut di negara Qatar.
Tapi karena Rachel adalah gadis yang jujur, dia tidak berani menggunakan kartu tersebut, meskipun sudah mendapatkan ijin dari pemiliknya, sebab black card tersebut adalah pemberian Castel sendiri sebelum pergi.
Rachel bahkan rela bekerja demi menyambung hidupnya, melakukan apa saja yang penting bisa menghasilkan uang.
"Kapan Kamu kembali?"
"Apakah begitu sulit kamu meminta ijin ke surga? Atau Kamu telah gagal mendapatkan ijin supaya bisa menjalani kehidupan di bumi bersama denganku?"
"Sampai kapan Kamu tidak berkabar seperti ini? Aku harus menunggumu berapa lama lagi malaikatku, my angel?"
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Rachel, dalam penantiannya selama 1 bulan penuh di negara Qatar. Negara yang tidak pernah dia impikan bisa hidup di sini, dengan bertemunya cinta sejatinya.
"Apakah Aku harus menetap di Qatar untuk menunggumu? Hhh..."
Helaan nafas panjang Rachel terdengar berkali-kali. Dia bingung harus memutuskan apa, dengan kebimbangannya yang tidak bisa membuat keputusan untuk bisa menjadi lebih tegas terhadap perasaannya sendiri.
"Baiklah, Aku akan bersabar menunggumu selama satu bulan lagi. Mungkin tak lama lagi Kamu akan datang. Tapi jika Kamu tidak bisa datang, berilah Aku isyarat agar bisa membuat keputusan yang lain."
"*Jika ada bintang jatuh malam ini, mungkin itu adalah dirimu yang sedang memberiku isyarat untuk menunggu. Tapi jika tidak ada, Aku akan memutuskan untuk pulang ke Indonesia."
"My Angel, berilah Aku isyarat agar bisa mendapatkan keputusan yang baik*."
Dalam hati Rachel mencoba untuk berdoa dan berharap, agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
Ting...
Dari atas langit, tiba-tiba muncul bintang' jatuh. Dan dengan cepat Rachel membuat permohonan dalam doanya, "cepatlah datang my Angel. Aku merindukan dirimu ada di sisiku untuk selamanya."
Saat membuka mata, Rachel tersenyum bahagia, seakan-akan melihat kehadiran Castel di depan mata, merentangkan kedua tangan untuk menyambutnya ke dalam pelukan hangat, atas cinta mereka berdua yang akan segera bersatu untuk selamanya.
Tapi beberapa saat kemudian Rachel sadar, jika semuanya ini hanyalah fatamorgana yang dia ciptakan sendiri.
"Huhhh... andai Aku tidak membiarkan Kamu pergi ke surga sana my Ange, kemudian Kita memaksakan diri untuk hidup bersama sehingga Aku tidak perlu lelah menunggumu."
Rachel terus meratapi kepergian Castel, dengan memandang ke atas. Di mana bintang-bintang berkelip, bersaing dengan sinar lampu-lampu di kota Qatar yang megah.
"Cintaku bersemi di Qatar, tapi kandas di Qatar juga. Hiks hiks hiks...":
*****
Dua bulan sudah Rachel menunggu kedatangan Castel, tapi sejauh ini tidak ada tanda-tanda akan kehadiran malaikat penyelamat Rachel.
"*Apakah doaku tidak terkabul?"
"Apakah Kamu gagal menyakinkan surga untuk mengijinkan dirimu turun ke bumi, menemani diriku dengan cinta kita*?"
"Aku mencintaimu my Angel Castel."
Mata Rachel terpejam saat hatinya bertanya-tanya dan juga mengeluh. Tapi tak lama kemudian dia sadar, bahwa kehidupan dirinya dengan Castel memang berbeda jauh.
"Aku lupa jika kami ini memang berbeda."
"Aku tidak akan berharap lebih. Bisa mengenalmu saja Aku sudah sangat beruntung dan bahagia. Jadi Aku ikhlas, seandainya takdir telah memutuskan untuk kita tidak bisa bersama."
Setelah membuat keputusan tersebut, Rachel mempersiapkan segala sesuatu untuk kepulangannya ke Indonesia. Dia juga langsung memesan tiket pesawat untuk kepulangan esok hari. Dia tidak mau menunda waktu lebih lama lagi, karena dengan berada di Qatar lebih lama, dia akan terus berharap agar Castel segera datang. Dan itu tidak baik untuk rasa ikhlasnya.
"Aku pasti bisa!"
Begitulah akhirnya Rachel benar-benar memutuskan untuk kembali ke Jakarta, Indonesia. Waktu menunggu sekalian berlakunya paspor telah selesai. Dia memang harus pulang, meskipun sebenarnya dia masih ingin menunggu Castel, yang sedang pergi ke surga untuk meminta ijin, supaya diperkenankan hidup lebih lama lagi di dunia.
Tapi dia juga berusaha untuk bisa ikhlas, seandainya Castel memang benar-benar tidak bisa kembali ke bumi.
Apalagi batas waktunya sudah habis, sehingga Rachel berpikir bahwa Castel gagal meminta ijin dan tidak bisa kembali ke bumi untuk menemaninya.
*****
"No duduk 09."
Rachel menunjukkan tiket pesawat pada petugas untuk meminta bantuan, supaya bisa mengantarkannya pada kursi yang seharusnya dia tempati.
"Silahkan Nona," kata pramugari dengan sopan, sambil menunjuk ke deretan kursi yang ada.
"Thank you."
"You're welcome Miss. Have a nice trip Miss."
Pramugari pamit, setelah selesai membantunya. "Saya permisi dulu, jika ada sesuatu yang perlu dibantu, silahkan memanggil kami."
Rachel mengangguk mengiyakan perkataan pramugari tersebut, kemudian duduk di nomor kursi yang sesuai dengan tiketnya.
Namun ternyata, tempat duduk yang digunakan Rachel, bersebelahan dengan seorang pemuda. Dan pemuda tersebut mirip sekali dengan Castel.
"Ah, ini tidak mungkin. Aku pasti hanya berhalusinasi." Rachel mengelengkan kepalanya beberapa kali, membuang dugaannya sendiri.
Akhirnya dia duduk dengan tenang, tanpa melihat sekelilingnya. Rachel tidak mau kembali berharap, supaya hatinya tetap tenang dan tidak gundah lagi.
"Hai Nona. Apa kabar?" sapa pemuda tersebut, yang menyapa Rachel sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Mati-matian Rachel berusaha untuk tidak menoleh ke arah pemuda tersebut. Dia tidak mau jika harus tergoda dengan wajah pemuda itu, yang memang mirip dengan Castel. Cinta dan malaikat penolonnya.
"Apakah Nona tidak mau bertemu dan berkenalan dengan cinta Nona?"
Mata Rachel yang tadinya tertutup, sekarang terbuka lebar. Dia terkejut dengan pertanyaan dari pemuda tersebut.
Dengan cepat Rachel segera menoleh. "My Angel?" tanya Rachel tidak percaya dengan apa yang dilihat sekarang ini.
Di depan matanya Castel tersenyum manis, membuat Rachel justru menangis karena berpikir jika ini hanyalah sebuah mimpi. "Tidak-tidak. Ini pasti hanya mataku saja yang salah lihat."
Rachel masih tidak mempercayai penglihatan dan juga pendengarannya. Padahal udah sangat jelas bahwa pemuda tadi bertanya kepadanya. Pemuda tersebut adalah Castel, yang sudah mendapat ijin dari surga untuk bisa hidup bersamanya di dunia.
Dia langsung menemui Rachel di atas pesawat yang akan menuju ke indonesia, di mana rumah Rachel yang sebenarnya.
"Yes. I am your angel."