
Aku dan Sam telah masuk ke dalam pesta ulang tahun pernikahan David Bossman. Kami sudah menyiapkan rencana semalam, dan ini saatnya beraksi. Ada banyak tamu yang di undang, sekitar 30 orang. Mayoritas adalah kolega dan kerabat David.
Kami berdua mengenakan pakaian ala pesta, Tuxedo dan gaun. Tentu saja kami membawa kartu undangan palsu buatan Sora, dan beberapa alat miliknya. Bahkan dia memberi kami peran 'Pasangan Investor' dan mengajari tata krama orang elit.
"Pesta yang meriah," ujar Sam.
"Ya. Terakhir aku menikmati pesta formal adalah setahun lalu. Kau ingat, kan?"
"Pesta ulang tahun perusahaan? Ya, aku bahkan ingat saat kau dan Daniel menyembunyikan beberapa kue untuk di bawa pulang," Sam tertawa kecil.
"Sial, kau melihatnya ya?" aku sedikit terkejut mendengarnya.
"Yah, begitulah. Omong-omong, bagaimana kabar Kota Reverie? Apa sebaiknya kita kembali lagi suatu hari nanti?"
"Kalau itu—"
"Kota Reverie sudah menangkal wabah. Tapi itu hanya terjadi di pusat kota. Pemerintah sudah menyiarkan pesan darurat ke seluruh penjuru negeri, begitu juga negara lain. Walau begitu, sampai saat ini belum ada kemajuan besar. Pusat kota kini dilindungi oleh benteng baja dan diklaim aman" kata Sora lewat Earpiece, alat komunikasi di telinga kami.
"Begitu? Lalu bagaimana dengan Projects? Apa pemerintah sudah melacak kita?"
"Sampai saat ini kita aman. Aku sudah mengecek data kepolisian dan militer. Tapi ada satu hal yang mengejutkanku. Namamu ada dalam daftar kepolisian"
"Apa? Sora—"
"Selamat malam, tamu undangan," kalimatku langsung terhenti saat MC mulai berbicara di atas podium. Sam menyikutku, mengingatkan agar aku fokus ke misi.
Tapi sayangnya, aku tidak bisa fokus. Kepolisian? Namaku? Apa ini? Mungkinkah Sora tahu cerita masa laluku?
Sam sekali lagi menyikutku agar fokus, "Rave, kau tidak apa-apa? Kita harus terus mengawasi target. Jangan teralihkan oleh apapun"
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Mencoba untuk menyingkirkan rasa penasaran dan pusing di kepalaku.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat. Sora, Rave menjadi aneh. Wajahnya pucat dan dia terlihat sakit," Sam mencoba menghubungi Sora.
"Sial... apa... yang... ugh—"
"Rave!"
...---...
Aku membuka mata secara perlahan. Rasanya aku sudah terbaring lama. Pandanganku kabur, hanya ada sebuah cahaya di atas. Matahari? Bukan, itu seperti lampu jalan. Apa yang terjadi? Dimana aku?
"Kau baik-baik saja, kawan?" Seseorang datang ke arahku. Dia berlari dengan terburu-buru.
"Hei, kau mendengarku? Bung? Hei—"
"Oh, syukurlah. Kau baik-baik saja? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"
"Apa yang terjadi?"
"Kau—"
...---...
"Ah, dia sudah sadar. Hei, Nyonya! Suamimu sudah bangun," seorang dokter. Tidak, seorang pria berjas putih berjongkok di sampingku yang terbaring di atas lantai marmer.
"Kau sudah bangun, Rave?" orang itu berbisik padaku. Aku memfokuskan pandanganku pada orang ini. Aneh, aku tidak mengenalnya.
"Ini aku, Bill," katanya.
"Bill? Kau tampak... beda. Apa yang terjadi?"
"Kemampuanku adalah mengendalikan setiap sel tubuhku. Jadi... aku mengubah tekstur dan bentuk wajah dan tubuhku," katanya sambil mengangkat bahu.
"Benarkah? Yah... itu aneh," suaraku perlahan membaik. Aku mencoba duduk bersila.
"Itu yang orang-orang katakan"
"Dimana kita? Mana pestanya? Sam?"
"Tenang dulu, kawan. Kita ada di ruang penyimpanan. Sam barusan pergi keluar untuk memanggil ambulans, padahal sudah kularang"
"Bagaimana dengan rencananya?"
"Rencana berhasil. David sekarang sudah dibawa ke tempat aman. Sekarang kita hanya tinggal menunggu mobil jemputan untuk kesana"
Aku mengatur nafas. Mimpiku barusan terasa sangat nyata. Seperti kepingan masa lalu. Bill berdiri dan mengecek keadaan di luar ruangan. Lalu dia kembali dan memapahku keluar dari tempat pesta. Beberapa menit kemudian kami sudah tiba di tepi jalan.
"Sora, Rave sudah bangun. Bagaimana dengan jemputannya?" Bill berbicara di Earpiece, tapi tidak ada respon.
"Bzzzt... siap—"
"Baiklah, kita hanya harus menunggu sekarang. Oh, itu dia" sebuah mobil Limosin hitam berhenti di depan kami. Bill yang masih memapahku mencoba membuka pintu.
Tapi, pintu itu terbuka dengan cepat dan membentur kepala Bill yang tengah menunduk. Bill terhuyung ke belakang, dan akhirnya terjatuh karena berat badanku.
"Halo, Bill. Kita bertemu lagi"