Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 12: Orang istimewa



Sora


"Apa... kau... jadi kau menipuku?" Bill menatapku tidak percaya. Wajahnya dipenuhi kekecewaan.


"Maaf, Bill. Hanya ada setengah botol. Menurutmu siapa yang semalam menghabiskan setengahnya? Kau bisa ambil semuanya kalau mau," aku menatap ke atas. Sebentar lagi salju akan turun.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengambilnya setelah kita pulang dari sini," Bill melingkarkan tangannya di bahuku.


"Yah, sebaiknya kita segera pulang"


Buk!


Aku terjatuh setelah menerima sebuah pukulan keras di wajah. Entah apa yang menghantamku barusan, tapi terasa sangat keras hingga memar.


"Apa yang kau lakukan?" aku melihat Bill dalam posisi tangannya mengarah ke perutku. Aku segera berguling dan menghindari serangannya.


"Bill! Apa yang kau lakukan, hah?!" aku mencoba berdiri setelah menjaga jarak. Sial, kepalaku menjadi pusing setelah dia memukulku.


Bill tidak merespon pertanyaanku. Malah dia berlari menerjang. Seolah dia tuli dan tidak mengingat apapun.


"Berhenti, Bill!" seseorang berteriak dari belakang Bill. Suara yang familiar bagiku. Bill entah bagaimana langsung berhenti bergerak dan diam di tempat.


"Sharon Lauchess. Kau penyebabnya, kan?" aku melihat orang itu beberapa saat kemudian. Seorang remaja laki-laki yang mengenakan jaket tebal musim dingin. Dia mendekati Bill dan menepuk punggungnya.


"Sora, kalau tidak salah. Apa kabarmu? Sudah lama kita tidak berjumpa. Kau tahu, aku sudah berkembang pesat sejak 3 tahun terakhir," dia menatap Bill disampingnya lalu berkata, "Bill Chester. Seorang monster kuat yang tidak bisa dilukai sedikitpun. Akhirnya aku bisa mengendalikannya. Walau mustahil untuk mengendalikanmu"


"Sharon, saatnya untuk pergi," Wendy yang berdiri tak jauh dari sana melihat adiknya tengah berhadapan denganku. Dia menatapku dengan jijik dan merendahkan.


"Zero sudah tumbang. Terlalu berbahaya jika kita berhadapan dengan Sora saat ini"


"Hah? Kau tidak lihat, Bill sekarang ada dalam kendaliku? Membunuh Sora akan lebih mudah sekarang," Sharon merendahkan Wendy.


"Membunuhku? Hmph... itu salah satu mitos dalam sejarah. Sudah banyak sekali orang yang menginginkan kematianku. Tapi sampai sekarang, keinginan mereka tidak terwujud"


"Ya, dan hari ini, impian mereka akan terwujud," Sharon mengangkat tangan kanannya. Tapi, Bill tidak bergerak sedikitpun.


"Apa?" Sharon terkejut, dia tidak menyangka Bill tidak akan meresponnya.


"Fuh... obatnya sudah bekerja. Hahahaha," aku menertawakan Sharon.


"Apa yang kau..."


...---...


Malam sebelumnya


Aku, Rave, Bill, Miko, Laura, dan Sam berkumpul untuk mempersiapkan diri di ruang tengah. Kami membahas beberapa langkah untuk melawan Zero dan komplotannya jika mereka mengganggu.


"Dengarkan aku. Aku akan membahas beberapa rahasia dari Sel Mathanus. Ini akan berguna untuk rencana kita. Sel ini adalah makhluk hidup, yah... tapi mereka tidak bisa hidup dengan mandiri atau bisa dibilang, mereka tidak memiliki tujuan hidup


"Diantara jutaan sel, akan ada sebuah sel yang menjadi pemimpin. Saat ini sel itu tertanam dalam tubuh Sharon, Project 04. Itulah alasan dia bisa mengendalikan pikiran dan tubuh orang lain. Pemerintah mencoba mengembangkan sel ini. Tapi sayangnya, sel ini tidak bisa diperbanyak dan hanya ada satu. Akhirnya mereka mengembangkan sel ini dalam hal lain, memodifikasi kemampuan perintah sel


"Jadi untuk misi kali ini, aku sudah menyiapkan pencegahan. Kalian lihat gelas di depan kalian? Itu adalah minuman yang sudah tercampur dengan cairan yang sudah kuciptakan. Walau masih uji coba. Saat tubuh kalian menerima sinyal biologis asing, cairan itu akan melumpuhkan setiap sel dalam tubuh secara keseluruhan. Prosesnya memang tidak begitu cepat. Tapi itu akan berguna nantinya"


...---...


"Jadi itulah yang terjadi," aku tersenyum puas melihat wajah Sharon yang marah.


"Kau... apa kau pernah merasa putus asa?! Selama aku menjadi Project, kupikir tidak ada yang bisa membuatku kecewa! Tapi di dunia ini, hanya orang istimewa yang bisa mendapatkan segalanya, orang-orang terpilih!"


"Kau benar, tapi kau juga salah. Orang biasa juga bisa menjadi orang terpilih, tergantung apa yang dia lakukan dan apa yang dia korbankan," ah, aku jadi teringat pada Alaster.


"Kau tidak tahu apa-apa, Sharon. Kau tidak pernah memandang seseorang dari masa lalunya. Kau hanya memandang orang atas apa yang telah dia dapatkan saat ini, atau sejak kau mengenalnya. Sama seperti orang lain," aku terdiam sejenak.


Ya, sama seperti dia. Benar-benar menyebalkan


"Dunia ini tidak pernah membuka rahasianya. Tapi setidaknya, manusia bisa mendapatkan sedikit. Itu yang terjadi saat manusia pertama muncul. Lalu kita berkembang, menemukan rahasia lainnya"


Hening sejenak. Hanya ada suara debum ombak dari kejauhan. Salju akhirnya turun, membuat udara menjadi semakin dingin.


"Sudah selesai bicaranya, Profesor Sora?"


Suara itu—


Buk!


Samar-samar aku masih bisa melihat orang itu. Sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.


"Nine..."