Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 22: Ego



Saat makan siang, Rave tidak membeli makan siang. Dia meninggalkan Jin di antrian kedai makan dan menuju sebuah gang sempit yang tak jauh dari sana. Ada sebuah bak sampah yang terlihat cukup bersih, dan itulah yang Rave incar.


Rave membuka bak itu, dan mengorek isinya. Saat dia menyentuh sesuatu yang menurutnya adalah makanan, dia langsung mengambilnya dan duduk di gang itu.


"Hmm... plastik yang cukup berguna. Tidak kusangka makanan sisa kemarin masih terlihat bagus didalam bak sampah itu," Rave membuka klip plastik itu, lalu mengeluarkan sepotong sandwich yang tinggal setengah.


Dia memejamkan matanya, lalu menghabiskan sandwich itu sekali lahap. Tanpa mengunyah, Rave langsung menelannya bulat-bulat. Dia tercekik sebentar, tapi langsung diatasi dengan memanaskan tenggorokannya.


"Hah... sandwich hangat memang lebih mudah dicerna," Rave menatap keluar gang, ke jalan raya yang dipenuhi mobil yang melintas dengan cepat. Sesekali ada orang yang melewati pintu masuk gang itu tanpa menyadari Rave.


"Menjijikan sekali..." sekelompok orang yang bekerja di tempat yang sama dengan Rave melihatnya memakan sandwich itu. Mereka menertawakan dirinya dan memakan makanan enak dihadapan Rave.


"Hei, memangnya ibumu tidak pernah mengajari tentang makanan yang baik? Atau mungkin... ibumu juga memakan sampah?" celetuk salah satu dari mereka. Teman-temannya tertawa karena candaan itu.


"Gilbert, kau lupa? Dia kan tidak punya keluarga"


"Benar juga. Sepertinya dia anak haram dari prostitusi," kata Gilbert. Tawa mereka semakin keras.


Salah satu dari mereka membuka bak sampah dan melihat isinya, "Ugh... kau memang menjijikan. Sampah saja kau makan, bagaimana dengan limbah?"


"Lalu? Memangnya ada masalah dengan sampah yang kumakan?" tanya Rave. Dia berdiri dan membuang plastik bungkus sandwich tadi.


"Tentu saja, bodoh. Kau merusak citra perusahaan kita. Lalu—"


"Aku akan dipecat? Bukankah itu bagus untuk kalian? Saingan kerja kalian menurun, tidak ada lagi yang merusak citra perusahaan, gaji kalian juga mungkin akan naik dengan melaporkanku," Rave menarik kerah Gilbert, "Satu lagi. Aku sudah muak dengan pekerjaan, apapun itu. Hidupku mungkin akan lebih bebas jika pemerintah tidak memaksakan setiap warganya untuk bekerja"


Rave mendorong Gilbert hingga terpeleset, "Citra, citra. Hanya itu yang dipikirkan orang. Ketika pemerintah memaksakan setiap warganya untuk bekerja, mereka hanya memikirkan pandangan negara lain terhadap negara ini. Warganya rajin bekerja, angka pengangguran kecil, dan kemakmuran dimana-mana.


"Tapi apa yang mereka inginkan? Apa yang warga inginkan hanyalah hidup dengan apa yang mereka mau. Kau tidak perlu bekerja jika menurutmu itu hanya membuang waktu. Negara ini hanya memikirkan ego-nya. Menghancurkan bangsa sedikit demi sedikit."


Rave menampar Gilbert dan berkata, "Laporkan saja. Aku tidak keberatan"


...---...


"Hei, kau selalu menghilang setiap kali makan siang. Kemana kau tadi?" tanya Jin disela-sela kesibukan pekerjaan. Mereka berdua tengah membongkar muatan balok es raksasa dari kargo.


"Menampar orang," jawab Rave singkat.


"Hei, kalian yang disana! Jangan mengobrol dan fokus kerja! Balok es ini tidak bisa berjalan sendiri!" teriak salah satu atasan, kemudian dia lanjut menelepon seseorang.


"Maaf!"


Mereka berdua berhenti mengobrol dan segera memindahkan balok-balok es ke atas troli. Kemudian mereka membawa troli itu ke ruang pendingin yang berada di gudang belakang.


Saat mereka menata balok es, pintu tertutup sendiri dan terkunci dari luar. Jin langsung menggedor pintu dan berteriak minta tolong.


"Hei! Buka pintunya, sialan!" teriak Jin. Tapi tidak ada satupun yang menjawabnya.


"Kenapa? Kita terkurung disini?"


"Kenapa kau bisa santai?! Disini sangat dingin, bodoh!"


"Aku tidak merasakan apapun, Jin. Aku memakai jaket tebal setiap kali masuk kesini," kata Rave sambil menunjukkan jaketnya.


"Sial, tidak ada seorangpun disana. Kita terkunci di tempat ini."


"Kurasa tidak akan ada orang yang kesini selain atasan kita. Lalu dia akan membuka kuncinya dan kita selamat."


"Tidak semudah itu, Rave. Atasan kita baru saja dipanggil oleh pihak rumah sakit karena istrinya jatuh sakit. Aku mendengarnya sebelum kita memindahkan balok es ini."


"Kalau begitu kabar buruk untukmu. Aku tidak bawa dua jaket, dan manusia biasanya tidak sanggup bertahan lama di suhu -25°."


"Hah... aku juga merasa ingin ke kamar mandi," Jin mencengkeram celananya.


"Jangan mencengkeramnya terlalu kuat, nanti bisa pecah. Seharusnya ada sesuatu yang bisa digunakan disini."


"Kalimatmu barusan membuatku semakin terdesak. Memangnya ada apa di tempat ini selain balok es?"


"Kita akan segera mengetahuinya. Tempat ini sangat luas, mungkin ada pintu belakang diujung sana."


"Ya, ide bagus. Akan kucari orang yang mengunci kita begitu berhasil keluar dari sini," Jin berjalan mengikuti Rave.


Keduanya tidak tahu bahwa akan ada hal besar yang menanti begitu keluar dari sana.