Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 6: Bill Clinton dan Laura Chester



Sesuatu menembus pinggangku dengan cepat sebelum aku menyadarinya. Benda panas yang seperti berputar melesak masuk ke dalam tubuhku. Saat aku menyentuh pinggangku, aku merasakannya. Darah hangat melumuri tanganku bagaikan saus tomat di atas kentang.


"Rave!" Bill berteriak. Namun itu semua sia-sia. Pandanganku kabur, dan akhirnya aku jatuh berdebam sebelum pingsan.


...---...


10 menit sebelumnya,


Bandara Internasional Flemington


Kami akhirnya sampai di lapangan bandara dengan cepat. Tidak kusangka tempat ini sepi. Seolah tidak ada kehidupan disini.


"Jadi dimana Jet itu, Laura?" tanya Bill. Dia segera merapatkan jaketnya sesaat setelah keluar dari Hovercar.


"Di hangar nomor C-05. Sebenarnya masih banyak pesawat di barisan hangar C, karena itu semua milik militer. Tapi aku hanya punya izin di hangar C-05."


"Pfft, siapa yang butuh izin di saat seperti ini?" Bill terdiam sejenak, seperti merasakan sesuatu.


"Ada apa, Bill?" tanya Sam.


"Sial, apa di Jet milikmu ada anggur?"


"Hah? Apa maksudmu? Kau mau mabuk di atas pesawat?" Laura bertanya sinis. Dia mulai berjalan ke arah barisan hangar pesawat di depan kami.


"Hei, aku tahu itu salah. Tapi aku mulai kedinginan di sini. Lagipula, kita semua butuh istirahat. Dan aku tidak bisa tidur tanpa anggur," Bill mulai berjalan mengikuti Laura.


Miko menepuk bahuku. Lalu dia berbisik, "Rave, apa kau merasakannya?"


Aku memikirkan maksud pertanyaan itu, "Tanganmu hangat?"


"BUKAN ITU MAKSUDKU, BODOH!" Wajah Miko memerah. Lalu dia menenangkan diri dan berkata, "Ada yang salah di sini. Aku merasakan Energi Mathanus. Walau dalam skala sangat kecil"


"Energi... Mathanus?" aku tidak paham dengan ucapannya.


"Itu adalah energi dari sel yang membentuk kita. Tapi yang satu ini beda. Seperti hilang sebagian," Miko memejamkan matanya.


"Ehh... apa yang kau lakukan?" tanyaku setelah melihat matanya yang terpejam lama.


Tiba-tiba Miko mengerang. Aku dengan spontan mengguncang bahunya. "Hei! Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?"


"Apa yang terjadi di sana?" Sam bertanya dari dalam hangar. Bill dengan cepat berlari keluar dari hangar dan mendekati kami. Sekilas dia menoleh ke kanan dan terkejut.


"MENUNDUK, RAVE!" Bill berteriak padaku. Aku tidak paham dan malah menoleh ke kiri.


DOR!


...---...


Pemuda itu langsung tersungkur tak berdaya setelah tertembak peluruku. Asap mesiu keluar dari moncong pistol di tanganku. Aku menatap genangan darah yang merembes ke salju.


"Rave!" seorang pria mendekati tubuh pemuda itu. Aku sendiri tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Tiba-tiba saja aku menarik pelatuk sambil membidik pemuda itu.


"Kau...! Apa yang kau..." pria itu, ya. Aku masih mengingatnya. Bill Clinton, Project 07. Dia membeku saat menatap wajahku, sangat terkejut.


"Ze... ro... Bagaimana? Apa yang kau lakukan?!" Bill berteriak marah. Tangannya teracung padaku. Perlahan, seperti ular yang berganti kulit, tangannya berubah dan menjadi sebuah moncong senapan.


"Oh... Bill? Kau mengingatku?" aku tertawa sinis. Sambil menutup wajahku dengan sebelah tangan, aku tertawa dengan keras.


"Ah... aku senang kalau ada yang mengenalku sekali pandang. Bagaimana kabarmu? Apa Alaster baik-baik saja? Hahahahahahaha," aku mengolok-oloknya, Bill yang mendengar itu langsung menunduk. Tangannya bergetar dan perlahan diturunkan.


"Kau... dasar ******** gila!" Bill menerjang maju. Kedua tangannya diselimuti cangkang dari tulang. Aku tahu kemampuannya tidak boleh diremehkan, bahkan sulit bagi peluru untuk menembus cangkang itu.


Buk!


Dari samping, Wendy muncul dan menendang wajahnya hingga Bill limbung. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menggunakan kemampuanku.


Tapi, aku terkejut saat sekujur tubuhku nyeri. Aku segera melompat mundur sambil menahan rasa sakit ini.


"Kau sangat lemah saat ini."


Aku teringat dengan ucapan Nine. Apa yang dikatakannya benar. Aku hampir tidak bisa merasakan Energi Mathanus di dalam tubuhku. Melawan Bill saat ini bukanlah hal bagus.


"Bill, kau beruntung. Kami tidak akan membunuhmu kali ini. Selamat tinggal, Project 07," aku melingkarkan tanganku di bahu Wendy. Lalu dalam sekejap, kami pergi dari hadapan Bill.


...---...


Sharon sudah duduk di kursi pilot helikopter saat kami datang. Kemampuan Wendy sangat berguna tadi. Melipat dimensi, sulit dipercaya. Wendy membantuku membuka pintu helikopter dan membiarkan aku beristirahat di kursi belakang, sementara dia dan Sharon mengendalikan helikopter.


Deru mesin baling-baling terdengar, akhirnya kami bisa pergi dari tempat kota terkutuk ini. Aku masih penasaran, kenapa aku menembak pemuda itu secara reflek. Seperti... aku pernah melihatnya di suatu tempat.


Kepalaku pusing, hal ini selalu terjadi akhir-akhir ini. Nine bilang, aku butuh Mathanus Adrenaline. Katanya itu adalah obat untuk memacu penyembuhan Sel Mathanus dengan cepat.


Entahlah, aku sendiri juga masih belum bisa mengingat sebagian besar memori sebelum aku masuk ke bunker itu.


Sharon menoleh ke belakang. "Tenang saja, kita akan segera menemukan Laboratorium itu. Setidaknya kita butuh beberapa bulan untuk mencari informasi koordinat tempat itu"


Benar, saat ini tujuanku hanyalah mencari keberadaan Mathanus Laboratory. Aku bisa merasakannya, kebenaran dari dunia ini, dan asal mula penciptaan Projects beberapa tahun lalu.