Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 11: Sebotol anggur tua



Sora


Aku menerima tamparan keras di pipi kananku. Kejadiannya begitu cepat, bahkan aku tidak sempat menghindar. Miko menatapku dengan marah dan sedih. Aku juga hanya menghela nafas setelah serangan itu.


"Sudah puas?" tanyaku. Miko hanya terdiam seribu bahasa. Dia pasti tahu, percuma bertengkar disaat seperti ini.


"Kita harus bergegas. Sebelum Zero dan komplotannya menemukan kita disini," aku menggenggam tangan Miko dan berjalan menuntunnya keluar gudang kargo. Diluar, Laura sudah menunggu kami dengan sebuah senapan rifle siap siaga.


"Bagaimana?" tanya Laura.


"Mengecewakan. Yah, tidak sepenuhnya sih. David mengatakan hal aneh tentang panah kayangan dan sejenisnya," kataku dengan acuh.


"Hanya itu?"


"Ya, hanya itu. Informasi yang kurang berguna untuk ukuran manusia. Maksudku, bumi ini luas. Dimana kita bisa menemukan sebuah 'panah kayangan'?"


Hah... andai saja Alaster ada disini. Pasti dia bisa membantuku.


"Jadi, apa rencana selanjutnya?" tanya Laura.


Aku terdiam sejenak, "Bertarung. Bebaskan Rave dan yang lain. Lalu segera pergi dari pulau ini"


"Hei, hei... apa kabar kalian? Astaga, kita sudah berpisah sejak lama. Aku merindukan kalian," suara Zero muncul di belakang kami. Dengan cepat, kami menoleh dan menjauh dari gudang.


"Zero..." Laura segera membidik ke arah kepala Zero yang keluar dari dalam gudang. Dia muncul sambil menyeret Bill yang pingsan dan terikat. Tangan kanannya membawa pisau, terlihat sekali dia akan mengancam kami.


"Aku punya dua pertanyaan untuk kalian. Dimana David Bossman?" tanya Zero.


"Dia sudah mati. Aku membuang mayatnya ke laut," kataku sambil memandang rendah pada Zero.


"Hah? Ah, kau... siapa namamu, ya? Sora? Benar, kan?"


Aku hanya terdiam sambil mengamati Zero dan Bill yang terbaring di kakinya. Sial, aku tidak bisa bertindak sembrono. Jarak mereka terlalu dekat.


"Jadi kau masih hidup, ya. Aku penasaran, apa kemampuanmu sudah muncul? Oh, kecerdasan ya? Betapa anehnya kemampuanmu itu. Sangat lemah," Zero menertawakanku.


"Sekarang pertanyaan kedua. Kalian sudah membunuh David. Apa kalian siap dengan akibatnya?" Zero menjentikkan jarinya.


Seketika Laura terjatuh dan senapannya lepas dari tangan, terjatuh dan tiba di kaki Zero. Kini dia sudah membawa dua masalah.


Aku terdiam dan hanya menatap ke arah langit. Hari ini mendung, sebentar lagi salju akan turun. Kesempatan yang bagus untuk melumpuhkan Zero.


Dengan santai aku melangkah maju, mendekati Zero dan Bill. Zero menaruh telunjuknya di pelatuk. Lalu berkata, "Katakan, Sora. Atau akan aku cari sendiri di otakmu yang kecil itu"


Aku berhenti melangkah. Jarak kami hanya tinggal 1,5 meter. Kemudian aku mengucapkan hal ini, "Hari ini sangat dingin, bukan?"


"Apa maksudmu?" Zero bingung.


"Saat yang bagus untuk menikmati anggur. Aku agak menyesal keluar rumah di malam ini. Padahal aku bisa saja menikmati sebotol anggur tua berusia 50 tahun sambil duduk di perapian. Sayangnya, hanya ada sebotol. Tapi aku akan berbagi dengan seseorang. Oh, dan orang itu akan kupilih jika dia bisa mengangkat tangan dengan cepat..."


"Sebenarnya apa yang kau—"


Buk!


Zero terlempar jauh dan menabrak dinding gudang kargo. Dia memuntahkan darah sambil mencoba menahan rasa sakit di dadanya.


"Anggur itu... kau masih menyisakannya, kan?"


"Hmph, jika kita masih bisa menikmatinya malam ini. Aku khawatir jika ada rakun yang akan mencurinya," aku menyeringai melihat Bill yang sudah sadar dan siap bertempur.


"Tentu aku akan membaginya jika aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa ancaman penyakit aneh," kataku sambil memandang rendah Zero.


Zero terbatuk-batuk dan mencoba membidikkan senapannya, "Pergilah ke neraka! Bill Clinton!"


Bill menciptakan zirah tulang di sekujur tubuhnya dan maju menerjang. Puluhan peluru segera beradu dengan zirah Bill, yang tidak tergores sedikitpun. Akhirnya Bill menghantam Zero bertubi-tubi hingga Zero pingsan dengan keadaan mengenaskan.


"Zirahku tidak bisa ditembus. Aku juga tidak merasakan sakit, karena tubuhku sudah kukendalikan secara penuh. Kau sudah kalah, Zero"


Kemampuannya memang yang terkuat, tapi bukan yang terbaik. Bill saat ini adalah manusia paling tangguh di bumi. Tidak, mungkin dalam sejarah.


Bahkan aku ragu zirahnya bisa ditembus ledakan nuklir. Aku beruntung bisa memiliki hubungan baik dengannya.


"Sora, ayo kita pulang sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin menikmati sebotol anggur itu," Bill berbalik dan berjalan mendekat. Aku tertawa licik mendengarnya. Bill hanya terheran melihat tawaku.


Tawa yang menyembunyikan kejahatan.