Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 14: Swalayan



Kota Reverie, setelah berbulan-bulan kami meninggalkannya, banyak hal yang berubah disini. Salah satunya adalah berdirinya sebuah tembok lapis baja yang mengurung kota ini. Anak buah Sora kembali ke Pulau Cleaver, tidak ikut dengan kami ke kota.


"Jadi kalian berasal dari Reverie, hanya saja tidak ada disini saat wabah?" tanya seorang petugas keamanan di kantor imigrasi. Kami semua mengangguk bersamaan.


"Baiklah, tidak ada bahaya yang terdeteksi. Kalau begitu, kalian bisa lewat. Silahkan yang berikutnya!" kami melewati gerbang masuk tembok, tapi kami belum resmi masuk ke kota. Masih harus menunggu truk jemputan khusus imigran beberapa menit lagi.


"Hah... membuatku bernostalgia saja. Kuharap kota itu masih aman," Sora meregangkan otot-otot tubuhnya. Sedikit pemanasan sebelum bergabung dengan kami di meja kantin.


"Jadi apa rencana kita? Dimana kita bisa menemukan Miko?" tanya Laura.


"Aku sudah bertanya pada salah satu petugas imigrasi. Katanya ada seorang gadis mahasiswa berambut cokelat panjang yang masuk ke kota," kata Sora.


"Bagaimana kita bisa memastikan kalau itu adalah Miko?" tanya Sam, lalu menyesap kopi kalengan yang dibelinya.


"Setiap imigran harus difoto saat lolos dari scan keamanan. Aku menunjukkan foto Miko untuk mencocokkannya dengan foto yang diambil petugas. Miko ada di kota ini, dan kupikir satu-satunya tempat yang paling berkemungkinan didatangi olehnya adalah..."


"Apartemennya," kataku.


"Tepat, karena kita tidak punya data lain soal kerabat ataupun keluarganya yang tinggal disini"


Aku dan Sam menghela nafas panjang. Berharap Miko tidak diculik oleh siapapun di dekat lingkungan itu. Mungkin saja kasus penculikan itu masih berlangsung.


"Kasus itu sudah ditutup sebulan yang lalu. Penculiknya ternyata sekelompok orang yang berhubungan dengan David Bossman. Kalaupun masih berlanjut, Miko akan aman. Karena dia adalah anak dari David," Sora tiba-tiba mengatakannya, seolah bisa membaca pikiran kami. Aku sudah tidak terkejut lagi, sudah terbiasa dengan kemampuan Sora yang tahu banyak.


Sora melihat jam tangannya sekilas, lalu berkata, "Sudah waktunya untuk pergi. Truk itu pasti sudah siap berangkat"


...---...


Setengah jam di dalam truk, kami akhirnya tiba di kota. Sora sepertinya bosan melihat pemandangan yang sama saat didalam truk, hutan. Kami masih harus menjalani pemeriksaan dan menunjukkan kartu imigran yang didapat dari petugas imigrasi sebelumnya. Kemudian, saatnya berteriak dalam hati.


Kami kembali, Reverie


Sepertinya keadaan kota masih aman dan normal, tidak beda dengan kondisi sebelum ledakan wabah. Transportasi umum dan fasilitas lainnya juga masih berjalan lancar. Walaupun terkadang ada beberapa tentara yang berpatroli lewat di jalanan.


"Kita akan mencari beberapa barang. Kalian bawa uang, kan?" tanya Sora.


Kami serempak menggeleng. Tidak ada uang sepeserpun di saku kami. Karena kami meninggalkan mansion dengan buru-buru.


"Hah..." Sora menatap kami dan dompetnya secara bergantian, "20 Cash, untuk seorang. Tidak lebih"


...---...


Aku melempar sekaleng kopi hangat ke dalam keranjang belanja. Kami semua membeli beberapa logistik dan peralatan seperti pisau dapur dan lakban, untuk keamanan.


Sementara Bill disebelahku langsung meraup beberapa kaleng bir ke keranjangnya. Benar-benar maniak.


"Apa? Tidak ada anggur dan semacamnya. Bir tidak masalah, Rave," kata Bill yang menghitung bir di keranjangnya dan berlalu.


Sementara aku pindah ke rak camilan. Aku mengambil beberapa bungkus keripik dan permen kopi. Saat itu, aku mendengar pembicaraan dua orang pria di balik rak.


"Nine sudah merencanakannya. Besok, kita akan mengambil arsip rahasia yang ditinggalkan oleh salah satu ilmuwan. Sebaiknya kita segera bersiap dan menyiapkan mental"


"Yah, kupikir arsip itu sangat penting. Bahkan ada satu batalion tentara yang menjaganya. Pertempuran besar akan terjadi dan seluruh kota akan terkena dampaknya"


"Haha... setelah arsip itu didapatkan, aku akan memanfaatkan kekacauan untuk menjarah beberapa toko terdekat"


"Jangan lupa ajak aku, oke?"


"Rave, kau sudah selesai belanja?" Sora muncul secara tiba-tiba disebelahku.


"Uh... ya. Hanya ini yang ingin kubeli," kataku sambil menunjukkan keranjang.


"Ayo ke kasir. Sudah malam, dan aku tidak mau tersesat atau terjadi hal yang lebih buruk," Sora melangkah didepanku. Sementara aku mengikutinya sambil melirik ke rak tadi. Pembicaraan barusan, aku punya firasat buruk terhadap itu.