
Alexander Rave
Kami berenam berlindung dibawah salah satu puing bangunan yang hancur oleh pertempuran Nine dan Bill. Sementara kami mengamati mereka berdua dari jauh, Sora dan Olivia terus bertengkar.
"Ayolah, Olivia. Kami membutuhkan informasi itu. Nasib umat manusia ada dalam tanggung jawab kami," Sora terus membujuk Olivia.
"Tidak akan. Sudah kubilang, Alexander Rave harus menggunakan kemampuannya jika kalian ingin rekaman itu"
Sora menatapku dengan jengkel, lalu dia meraih kerah bajuku dan menampar pelan wajahku berkali-kali, "Kau ini... kenapa bisa kau sangat ceroboh sampai kecelakaan? Andai saja aku yang menyetir saat itu, kau pasti baik-baik saja"
Sora yang menyetir? Apa artinya, kami ada di dalam mobil yang sama?
"Olivia, kuberi kesempatan terakhir. Berikan rekaman itu, atau aku akan—" Sora melepaskan kerahku.
"Apa? Kau akan membunuhku?"
"Atau aku akan menghancurkan seluruh bisnismu dan kupastikan kau menjadi gelandangan hina di kota ini," ancam Sora.
"Silahkan saja. Lagipula aku sudah tidak bertanggungjawab di bisnis itu lagi. Lihat saja kafe itu," Olivia menunjuk salah satu bangunan yang telah hancur dan menyatu dengan puing-puing bangunan lain.
Sora hanya terdiam, lalu bergabung dengan kami dan mengamati Nine dan Bill. Dia terlihat sangat kesal.
"Orang itu benar-benar keras kepala. Sama seperti suaminya," Sora merebut teropong milik Laura dan memakainya.
"Hei— Sial," Laura kesal. Tapi dia meraih tasnya dan mengambil teropong lain.
"Bagaimana dengan Bill?" tanya Sora.
"Kami tidak bisa melihatnya. Mereka tertutupi oleh debu dan bangunan," kata Sam.
"Lalu kenapa masih disini?"
Kami berempat saling pandang. Sora menghela nafas. Kemudian dia beranjak dan pergi mendekat ke medan tempur.
"Tunggu kami!" aku, Sam, Miko, dan Laura langsung menyusul Sora. Meninggalkan Olivia di belakang.
"Apa tidak mengapa jika Olivia tidak ikut?" tanya Miko.
"Hah... biarkan saja dia. Aku yakin dia akan selamat, walau sedang terjadi tsunami sekalipun"
Suara dentuman makin terdengar jelas saat kami berada dekat dengan medan tempur. Aku yang tidak memperhatikan jalan, tidak menyadari sebuah retakan dan tersandung.
"Hei, hati-hati jika berjalan—" Sora menatapku. Dia seperti sangat terkejut.
"Ada apa?" tanyaku. Kupikir dia melihat sesuatu yang mengerikan.
"Kita bisa mendapatkan rekaman itu sekarang. Tapi kita harus membantu Bill terlebih dahulu"
...---...
Aku mendengar suara dentuman, tapi entah kenapa aku tidak merasakan sakit. Saat aku membuka mata, Nine sudah menghilang dari hadapanku.
"Apa yang terjadi?"
"Hei, Bill! Kau masih bisa bergerak kan?" Sora muncul dari balik gundukan beton hancur, kemudian Sam, Miko, dan Laura juga mendekat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Miko.
"Aku baik-baik saja. Nine... dia seorang Project juga. Nomor serinya adalah 09," kataku.
"Nine seorang Project? Yah, masalah ini mungkin akan semakin jelas. Pasti dia mengincar Mathanus Laboratory juga," kata Sora.
Aku mencoba bangkit berdiri, tapi kekuatanku melemah. Berdiri saja sudah sangat berat bagiku.
"Hmm... Rupanya seorang Juggernaut bisa tumbang? Aku baru tahu," Sora mengejekku.
"Sejak kapan aku dipanggil Juggernaut?"
Laura dan Sam memapahku. Kemudian aku bertanya, "Dimana Nine? Kau melihatnya?"
"Nine? Kami tidak melihatnya setelah Rave menembakkan sesuatu," kata Sora.
"Rave?" aku sontak mencarinya, "Dimana dia?"
"Tenang saja. Dia sedang mengurus Nine"
"Nine? Dia bertempur melawannya?! Sora, Nine itu—"
"Memiliki kemampuan Creation, bukan? Aku tahu. Tapi aku yakin Rave bisa menghadapinya. Kisahnya baru saja dimulai hari ini"
...---...
Alexander Rave
"Kau... kuat juga. Siapa namamu?" tanya Nine dihadapanku. Dia masih memasang posisi kuda-kuda. Sepertinya aku bisa mengalahkan monster ini.
"Alexander Rave, Project 01," kataku.
"Menarik. Setidaknya kali ini, kau tidak akan mengecewakanku bukan? Tidak seperti Bill Clinton"
"Ya. Aku akan mengalahkanmu disini, Nine"
Tanganku mulai mengepal. Salju mulai berguguran disekitarku. Tapi, aku tidak merasakan hawa dingin sedikitpun. Itu sudah jelas saat ini. Karena aku adalah Project 01.
Sang Pengendali Suhu. Ice Naraka