
Alexander Rave
Udara di sekitarku menjadi beku. Tapi, aku tidak pernah merasakannya. Lebih tepatnya, aku sudah tidak bisa merasakan apapun. Saat seperti ini, aku harus mengingat beberapa strategi yang diberikan oleh Sora.
"Peraturan pertama dalam pertarungan, lihat situasi dan kondisi sekitar. Ukur dan bandingkan kekuatan lawan dan dirimu."
Aku memperhatikan sekeliling sambil terus membuat hembusan angin. Ada sekitar 6 truk, yang kemungkinan bisa memuat hingga 20 orang. Dalam radius 100 meter ada sekitar 30 pasukan pertahanan, 50 pasukan dengan senapan serbu, dan 30 pasukan khusus yang membawa tongkat penyetrum.
"Kedua, buat jarak dengan lawan yang memiliki daya hancur. Lalu dengan secepat mungkin, buat formasi pertahanan mereka terbuka."
Pasukan bertahan mereka sepertinya tidak begitu tahan dengan udara dingin yang berlebihan. Perisai mereka juga terbuat dari bahan plastik yang diperkuat. Pandangan lawan pasti sudah menjadi kabur oleh badai salju yang kubuat. Sekarang saatnya untuk bertarung.
"Salah satu kemampuanmu adalah mengendalikan suhu tanpa terkena dampak apapun pada tubuhmu. Gunakan kelebihan itu untuk membuat senjata dari tubuhmu sendiri."
Aku tahu. Selain mengubah suhu dan iklim dalam skala kecil, aku bisa mengubah suhu tubuhku tanpa menerima dampaknya. Pertama kulit di sekujur tangan, akan kuubah suhunya menjadi sangat panas.
Setelah itu, aku maju dan menghantam sebagian pasukan pertahanan. Tinju panas ini tidak bisa dihentikan dengan baja sekalipun. Dalam waktu yang singkat, separuh dari pasukan bertahan telah tewas.
"Sebisa mungkin, buat lawan mundur sementara. Contohnya adalah mengintimidasi dan melumpuhkan pemimpin mereka."
Kemana pria itu? Aku sangat yakin kalau dialah pemimpin penyerangan ini. Sambil terus menyerang, aku mencarinya diantara barisan pasukan.
Rencanaku berhasil. Pertahanan mereka sudah hancur. Saatnya menyusun rencana selanjutnya. Aku membuat badai salju kembali mengamuk, lalu berlindung diantara tumpukan mayat sambil mengamati musuh.
"Ketiga, setelah formasi pertahanan hancur, biasanya musuh akan fokus menyerang. Disinilah kelemahan mereka akan muncul. Mereka akan waspada dan tidak akan menyadari bahwa rekan atau pasukan lainnya menjauh."
Benar saja. Jarak pasukan satu sama lain menjadi renggang dan tidak memperhatikan rekannya. Kesempatan emas untuk membunuh satu demi satu.
Aku punya waktu yang cukup untuk memakai salah satu pakaian tempur dari pasukan yang tewas. Cukup sulit untuk mengenakannya karena sedikit berat.
"Kalau kau merasa tidak bisa menang secara langsung, lakukan strategi membaur. Setelah strategi ini, kau punya dua pilihan. Kabur atau menyerang."
Tentu saja aku akan menyerang. Aku menghentikan hembusan angin dan badai sementara, lalu terkapar di tanah. Pakaian ini terdiri dari helm, rompi, sarung tangan, dan sepatu. Cukup bagus untuk menyamarkan bentuk tubuh dan wajah. Selanjutnya, aku akan bertaruh dengan keputusan pria itu. Apakah dia akan mengevakuasi mayat, atau justru memusnahkannya.
"Badainya sudah berhenti."
"Astaga, Projects memang mengerikan. Bagaimana dia bisa membuat badai salju di awal musim gugur?"
Pasukan penyerang yang masih hidup saling bergumam. Hingga pria itu muncul kembali dan berkata, "Periksa seluruh tempat. Mungkin saja dia masih ada disini."
Bagus. Aku punya cukup waktu untuk mengistirahatkan Sel Mathanus dalam tubuhku. Kemudian, aku bisa menjalankan rencana selanjutnya.
...---...
Sudah setengah jam mereka memeriksa setiap sudut terminal, tapi mereka masih belum menemukanku. Nah, bagaimana langkah selanjutnya?
"Kapten, target tidak ditemukan dimanapun. Apa perintah selanjutnya?" tanya salah satu pasukan.
Begitu rupanya. Pria ini adalah kapten Pasukan Artemis di Distrik Barat. Tapi, orang ini cukup aneh. Seolah dia menganggap enteng kekuatan Projects.
"Kita akan mengurus pasukan yang gugur. Bakar semuanya!"
"Alexander Rave! Aku tahu kau masih disini. Cepat keluar dan menyerah!"
Tenang, Rave. Kalau begini, rencanaku harus diubah. Mereka mau membakar saluruh mayat untuk memastikan kalau aku masih disini?! Mereka sudah gila!
"Dengar, Rave. Manusia itu rela melakukan apapun demi apa yang dia percayai. Kau harus berhati-hati jika menghadapi mereka."
Sial! Aku harus apa?!
"Saat keadaan sudah tidak memungkinkan untuk kabur, pilihanmu akan semakin sedikit. Melawan atau tertangkap. Selain dua hal itu, hanya keajaiban yang akan menolongmu."
Beberapa pasukan mulai menumpahkan cairan mudah terbakar ke seluruh mayat. Aku tidak tahu kalau mereka berani melakukan hal tidak manusiawi seperti ini.
Tapi justru, mereka salah langkah. Aku menaikkan suhu kulit tangan hingga batasnya, membuatnya menjadi merah membara. Lalu menyentuh cairan itu.
Duar!!!
Kobaran api langsung muncul dengan cepat, melahap seluruh mayat dan pasukan yang menuangkan cairan.
Sementara pasukan lain yang selamat hanya memandangiku yang berdiri diantara kobaran api. Kemudian tanpa menunggu perintah, mereka menembaki tubuhku dari segala arah.
Pssh...
Percuma saja. Kali ini aku membuat tubuh bagian atas menjadi sepanas magma, membuat semua peluru timah itu mencair dan luruh ke tanah.
Pria itu berdiri disana, sekitar 50 meter dihadapanku. Lalu aku menatap matanya dan berkata, "Menyerah saja. Kalian tidak akan bisa memegang kendali atas kami semua. Bahkan dengan mengorbankan seribu nyawa sekalipun."
Ya. Rencanaku sekarang adalah membuat mereka menyerah dan mundur. Sel Mathanus di dalam tubuhku mulai lelah dan hampir mencapai batasnya. Aku bisa merasakannya dengan warna merah kulitku yang memudar perlahan-lahan.
"Bagaimana keputusanmu, kapten?" aku berusaha memancing pria itu agar menyerah. Tapi jika dia masih mau bertempur, aku akan kabur dari sini.
"Kau pikir dengan mengalahkan separuh pasukanku, aku akan mundur begitu saja?" pria itu menghentakkan kakinya.
Aku tidak pernah mengira bahwa selama setahun ini, mereka telah menemukan teknologi yang sangat berbahaya bagi kami.
Salah satu pasukan maju dari barisannya dan menghampiriku. Pakaiannya memang berbeda dari yang lain. Tubuhnya kekar dan besar, membuatku langsung tahu bahwa orang ini spesial diantara pasukan itu.
Kini dia berdiri dihadapanku dan berkata, "Alexander Rave. Aku akan menghancurkanmu."
"Hah... merepotkan sekali," tinjuku langsung menyerang helm orang itu, membuatnya rusak dan terhuyung ke belakang.
Tapi, aku salah. Karena saat aku meninjunya, aku tidak bisa menarik tanganku. Aku tumbang bersamaan dengan orang ini, yang ternyata hanyalah robot tempur!
Sial! Aku tidak bisa berdiri. Robot ini terlalu berat dan menahan tanganku. Aku tidak bisa melelehkannya karena sudah lelah.
"Serang dia!"
Rentetan peluru langsung menghujaniku dari segala arah. Sialan! Walau aku bisa melelehkan timah itu, aku tidak bisa menahan benturan pelurunya.
Saat aku sudah tidak tahan dan putus asa, aku membuat badai salju lagi. Kali ini lebih besar dan lebih dingin. Tapi sayangnya, itulah kekuatan terakhirku sebelum aku pingsan dan tidak sadarkan diri. Pasrah pada apa yang akan terjadi nantinya.