
Seseorang membukakan pintu untuk Rave. Dia mengenakan pakaian khas butler, seorang pria yang sepertinya bekerja disini.
"Tuan Alexander Rave, bukan? Silahkan masuk. Tuan Vesta sudah menunggu di dalam," butler itu mempersilahkannya masuk dan menutup pintu. Kemudian dia menuntun Rave kedalam.
Mansion ini bisa dibilang mewah, walau tidak semewah milik Sora. Ada banyak barang antik yang tertata rapi di lobi. Lukisan, jam, lemari, bahkan pedang ksatria.
"Tuan Vesta adalah seorang bangsawan muda di negeri ini. Kebiasaannya mengurung diri untuk penelitian membuatnya tidak terlalu dikenal orang banyak. Hari ini beliau mengundang Anda untuk membantunya," kata butler itu. Mereka berdua berjalan melewati lorong yang dipenuhi dengan lukisan di sepanjang dinding.
"Membantu apa? Penelitian? Tapi aku bukan orang yang pintar atau jenius."
"Anda akan tahu saat melihatnya," mereka berhenti didepan sebuah pintu, lalu butler itu mengetuk pintu dan mengatakan, "Tuan Vesta, tamu Anda telah datang."
"Ya, suruh dia masuk."
"Baiklah. Tuan Alexander, saya hanya bisa mengantarkan Anda sampai sini. Silahkan," butler itu membukakan pintu, dan terlihat sebuah ruangan putih dengan peralatan dan seorang pemuda disana.
Rave masuk dan pintu langsung ditutup. Dia menatap sekeliling, takjub dengan beragam alat dan robot yang berlalu-lalang membawa barang.
"Alexander Rave? Kukira penampilanmu kau lebih tua... atau setidaknya lebih muda dariku. Perkenalkan, namaku Vesta B Valor. Aku seorang ilmuwan, dan aku membutuhkan kalian dalam penelitianku."
"Penelitian apa?"
Vesta terdiam sejenak dan meletakkan tablet kerjanya diatas meja keramik, "Projects... kalian mencari Mathanus Laboratory, bukan?"
Rave terkejut dan seketika mengaktifkan kemampuannya, "Bagaimana kau tahu?"
"Whoa... tenanglah, suhu rendah bisa membuat beberapa barang disini rusak. Biar kujelaskan dari awal. Keluargaku dulu mendanai sebagian penelitian itu, walau kami tidak pernah diberitahu lebih lanjut seperti dimana lokasinya. Tapi kami memiliki sebagian data penelitian."
"Sebagian data? Apa kau tahu tentang tujuan penelitian itu?"
"Sayangnya, aku tidak tahu. Yang kutahu hanya subjek penelitiannya. Namamu tertera di daftar itu. Begitu juga dengan 5 Projects lainnya. Tidak lebih."
Rave menghela napas dan menarik kursi didepan Vesta, lalu duduk. Dia menatap ilmuwan muda ini dan bertanya, "Jadi, apa maumu?"
"Aku butuh darahmu, lebih tepatnya sel didalamnya. Sel Mathanus, aku membutuhkan itu."
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Kau akan berhadapan dengan 50 pelayan terlatihku."
"Kemudian kau dan para pelayanmu akan mati membeku."
"Rave, kumohon jangan mempersulit masalah ini. Akan kuberi informasi tentang sel itu. Semuanya."
Rave berpikir sejenak, "Maaf, Vesta. Tidak sekarang. Aku akan memikirkannya."
"Akan kuberitahu lokasi Projects lainnya. Tentu saja, jika kau memberikan darahmu."
"Bagaimana? Sepakat?"
"Sepakat, tapi bukan hari ini. Aku sibuk."
"Baiklah, panggil aku jika kau siap," Vesta memberikan kartu namanya. Kemudian Rave beranjak dan meninggalkan ruangan.
"Alexander Rave... kupikir kau sudah mati. Benar-benar mengejutkan"
...---...
Ketika Rave keluar dari mansion, hari sudah gelap. Rave memutuskan untuk pulang naik taksi dan meminta Jin untuk membayar ongkosnya. Di depan gerbang, dia mencegat salah satu dan mengatakan lokasi yang dituju.
Vesta B Valor. Entah kenapa aku merasa kalau dia berbahaya.
Rave menatap bangunan mansion yang perlahan menjauh.
Bangunan itu... entah kenapa aku merasa pernah kesana. Tidak, aku merasa bangunan itu familiar.
Ponsel Rave berbunyi. Dia menatap sekilas nama itu, Jin. Kemudian dengan prasangka tidak enak, dia mengangkatnya.
"Ya?"
"Rave, apa kau punya uang? Aku— kita membutuhkannya saat ini," nada bicara Jin terdengan serius dan cemas.
"Untuk apa?"
"Biaya sewa rumah."
"Hah? Jadi selama ini rumah itu bukan milikmu?" Rave terkejut sekali. Tidak disangka bahwa selama ini dia menumpang di rumah sewaan.
"Me-memang berapa yang harus dibayar?" Rave ragu-ragu bertanya, bersiap dengan angka yang akan diucapkan oleh Jin.
"2.500 Grand."
2.500?! Astaga, rumah itu seharga 500 gram emas!
"Rave?"
Sial, kukira tinggal di rumah teman adalah pilihan terbaik saat ini. Tidak kusangka itu adalah rumah sewa!
Rave menatap keluar jendela mobil. Berita koran tadi pagi sudah sangat menghantui kepalanya. Lalu masalah rumah, yang dimana itu akan membuatnya ditangkap.
"Besok, Pasukan Artemis akan dikerahkan untuk menyisir Distrik Barat. Distrik dimana aku tinggal saat ini."