
"Sepertinya akan sulit untuk keluar dari sini. Mereka menghadang akses gedung ini," aku memandang ke bawah, beberapa Creeper masih berkeliaran di teras gedung ini.
"Hmph, itu mudah. Kau tahu, kan? Teknologi sudah berkembang. Kita pergi dengan Hovercar. Walau katanya, pemerintah masih belum meresmikan teknologi itu, sih" kata Sam dengan tenang.
Aku tahu itu. Sebenarnya bukan hanya Hovercar, pemerintah juga mengembangkan beberapa teknologi lainnya. Tapi, Sam bilang ledakan itu mengandung zat yang merekayasa kode genetik makhluk hidup.
"Sam, kau sudah mempertimbangkan hal lain, kan?" tanyaku.
"Tentu saja. Soal mutan lain, mereka sudah mengatasinya. Walau begitu, aku sendiri tidak bisa menjamin kita akan selamat sampai tujuan"
Aku terdiam. Yah, jika keadaan sudah seperti ini, mau bagaimana lagi? Keselamatan memang menjadi prioritas, tapi bukan berarti selalu yang terbaik.
"Lalu, bagaimana dengan warga sipil?" tanya Miko.
Sam menutup mata seolah ragu untuk mengatakan, "Mereka akan mati disini. Hovercar itu tidak akan muat untuk mereka semua"
"Kejam sekali... yah, memang wajar. Pahlawan itu memang tidak ada, ya. Kupikir kau akan mengatakan hal yang lebih dramatis seperti kota ini akan musnah oleh bom atau semacamnya. Tapi rupanya Project 02 masih menahan diri"
"Aku tidak sekejam itu, Miko. Walau memang, kota ini akan di musnahkan segera"
...---...
Sudah setengah jam kami menunggu, akhirnya kami melihat sesuatu terbang mendekat dari arah Utara. Arah yang berlawanan dengan sumber ledakan. Hovercar itu perlahan mendarat di rooftop yang luasnya tidak seberapa ini. Pintu kendaraan itu terbuka, lalu seorang laki-laki seumuranku muncul dari dalam Hovercar.
"Lama sekali, Bill. Kau tahu, menunggu itu membosankan," kata Sam. Tapi pria bernama Bill itu tidak menghiraukan Sam dan melangkah mendekatiku.
"Komandan, akhirnya kita bertemu kembali," Bill menjabat tanganku. Entah mengapa aku merasa canggung dengan orang ini.
"Ah, sayang sekali. Jadi, bagaimana situasi sekarang?"
"Kacau. Sebaiknya kita segera pergi sebelum terjadi keributan," kata Miko.
"Rupanya kau masih disini, Miko. Sudah lama sekali tidak melihatmu. Kau tumbuh sehat ya," Bill mengelus-elus kepala Miko.
"Sudah cukup reuninya. Sekarang ayo pergi dari sini," Sam segera melangkah masuk ke dalam Hovercar. Lalu kami menyusulnya. Aku belum pernah mengendarai benda secanggih ini. Terlihat keren seperti film-film Sci-Fi.
"Hei, jadi kemana tujuan kita?" seorang wanita berpakaian militer yang duduk di kursi pengemudi menoleh ke belakang. Miko yang masuk paling terakhir menutup pintu. Lalu secara otomatis, lampu dalam kendaraan ini menyala.
"Ke markas persembunyian. Tapi sebaiknya kita menghindari rute dengan jalan raya. Itu mungkin akan menyebabkan masalah nanti," kata Sam.
"Dimengerti. Pasang sabuk pengaman kalian," wanita itu menyalakan mesin, lalu dengan mulus mengarahkan Hovercar ke arah barat. Entah apa yang dilakukannya, dia menekan beberapa tombol dan terkadang mengecek monitor kecil di depannya.
Luas Hovercar ini sekitar 8 meter². Tidak terlalu sempit dan cukup nyaman. Wanita itu berbincang-bincang dengan Sam.
"Bagaimana keadaan di markas? Kita sudah cukup lama pergi dari sana," tanya Sam.
"Baik-baik saja. Walau kami mengalami masalah dengan listrik di tempat itu"
Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti menguping pembicaraan mereka. Itu hanya basa-basi.
Sementara itu, Hovercar terus melaju di atas langit kota yang kini telah kacau balau. Hari ini aku mendapat beberapa hal menarik.
Kami adalah Projects. Kami diciptakan untuk menjaga keseimbangan Bumi. Tapi dibalik semua itu, aku tidak tahu apa yang akan menanti kami.