Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 21: Menuju hari esok



1 Tahun kemudian


Rave terlihat sedang duduk bersandar di dinding. Kemeja putihnya kotor dan lusuh. Dia mengenakan sebuah topi jerami dan pakaian seadanya. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengira dia adalah seorang gelandangan.


Tapi Rave nyatanya tengah menjalankan sebuah misi. Hari ini, di Kota Reverie, dia sudah melakukan banyak hal.


Seorang polisi mendekatinya dan bertanya dengan kasar, "Hei! Apa yang kau lakukan disini? Mengganggu pejalan kaki saja!"


Rave mengangkat wajahnya dan menatap polisi itu, "Tapi... ini kan halte bus. Bukan jalur pejalan kaki."


Polisi itu menarik paksa lengan Rave agar dia bangun, "Gembel ini... kalau kubilang mengganggu ya mengganggu!"


Kemudian dengan kasar polisi itu mendorong Rave setelah dia berdiri, "Pergi!"


Rave hanya menatap polisi itu sekilas lalu pergi menjauh. Diam-diam Rave membekukan alat komunikasi polisi itu karena kesal.


"Hei, kau mau ikut?" salah satu rekan polisi itu menyapa polisi tadi.


"Kemana?"


"Ah... biasa. Pekerjaan ini bisa ditunda. Lagipula tidak ada penjahat atau apapun disini. Ayo pergi," mereka akhirnya pergi dari tugas mereka. Rave hanya memandangi mereka sebelum akhirnya kedua polisi itu menghilang di tikungan.


Entah kenapa...


Rave terus berjalan, melewati para pejalan kaki yang menjauh saat didekatnya. Mereka memandang Rave dengan tatapan jijik dan merendahkan.


Dunia ini masih baik-baik saja...


Rave melihat seorang wanita tengah ditodong oleh dua pemuda. Wanita itu menatap sekitar, berharap seseorang atau siapapun yang lewat menolongnya.


Bahkan meskipun kami tidak dianggap...


Pemuda gembel itu terus berjalan, hingga akhirnya dia sampai di tepi jembatan. Dia menuruni tanggul dan duduk tak jauh dari bibir sungai.


Sora... apa yang kau katakan hari itu benar?


Bintang-bintang dilangit malam menarik perhatian Rave. Membuatnya menerawang masa lalunya.


Projects... diciptakan untuk saling menghancurkan.


1 Tahun sebelumnya


Di tengah kerusuhan, beberapa orang mendatangi mereka berempat. Orang-orang itu mengaku bahwa mereka ditugaskan untuk membawa Projects yang tersisa untuk pergi ke tempat persembunyian.


Salah satu dari mereka memberikan sebuah rekaman suara dari Sora. Rave mendengarkan setiap kata-katanya dan itu membuatnya tercengang.


"Rave, kau harus tahu ini. Projects diciptakan... untuk saling menghancurkan satu sama lain. Ada alasan tertentu mengapa kita semua memiliki kemampuan berbeda. Yaitu untuk saling mengalahkan dan membunuh. Beberapa tahun yang lalu, aku membaca arsip Mathanus Laboratory. Ide untuk memulai penelitian ini adalah..."


Rave hanya bisa terdiam. Setelah itu, dia pingsan karena lelah bertarung dan tidak ingat apapun.


...---...


Masa kini


Rave tidak pernah menyangka akan menjalani hidupnya sebagai seorang buronan. Walau begitu, dia dan Projects lainnya masih terus bersembunyi dan menyamar agar tidak tertangkap.


Rave memulai hidup barunya dengan menjadi gelandangan, agar dirinya tidak terdaftar dalam hal apapun selain seorang tunawisma. Dia percaya akan satu hal, umat manusia akan menunjukkan jati dirinya saat orang lain tidak memperhatikannya.


Akhirnya dia terlelap, beristirahat diatas hamparan rumput sungai. Menuju hari esok yang entah akan seperti apa.


Dalam mimpinya, Rave selalu melihat hal yang sama berulang kali. Lautan darah sejauh mata memandang, dengan seseorang yang berdiri tegak diatasnya bagaikan berdiri diatas tanah.


Tapi Rave tidak dapat bergerak atau bicara di dalam mimpi itu. Dia hanya mampu memperhatikan sosok itu dari kejauhan. Orang itu selalu mengerjakan sesuatu di sana. Melukis air, membuat pusaran, memanggil benda-benda aneh. Lalu mimpi itu selalu berakhir dengan terlihatnya sebuah planet seperti bumi. Tapi dengan sebuah lapisan kaca yang mengurung atmosfer.


Kemudian itu orang itu berkata, "Dunia baru yang kuciptakan ini... akan menjadi panggung dari kisah para legenda"


...---...


Sinar matahari yang terik membangunkan Rave dari tidurnya. Dia segera duduk dan dengan setengah mata terbuka, dia memperhatikan seberang sungai.


Terlihat seseorang tengah memandanginya dari sana. Mereka saling memperhatikan selama beberapa menit sebelum akhirnya orang itu pergi.


Orang aneh


Rave bangkit berdiri dan melakukan rutinitas sehari-hari. Selama dia menyamar, dia menjadi seorang pekerja kasar. Setiap hari, dia harus menghancurkan bongkahan es di sebuah industri penyedia es batu.


Dia memilih pekerjaan ini karena cukup mudah untuk dijalani dan bayarannya setimpal dengan apa yang dia kerjakan hari itu.


"Hei, kawan. Bagaimana harimu?" tanya salah satu rekan kerja Rave.


"Seperti biasa, Jin. Bangun tidur diatas rumput dan bekerja setelah menyantap sarapan porsi kecil," kata Rave. Dia mengambil beliung penghancur es dari rak, lalu menyusul Jin yang berjalan terlebih dahulu.


"Tinggal di lingkungan seperti itu, kau masih tahan? Walau gaji kita tidak seberapa, setidaknya kau harus mempunyai tempat tinggal."


"Siapa yang menerapkan hukum itu?"


"Yah... tidak seorangpun. Tapi bukankah lebih baik jika kau punya tempat untuk berteduh?"


"Aku punya. Semua yang kau sebutkan, aku punya. Kota ini luas, Jin. Kau bisa tinggal dimana saja kau mau. Menurutmu, apa fungsi halte bus?"


"Tentu saja tempat berkumpulnya penumpang. Kau pikir apa lagi?"


"Itu kurang efisien, kawan. Halte bus memiliki atap, aku bisa tidur disana jika hujan turun. Pemerintah selalu menyediakan fasilitas, tapi kita tidak pernah berpikir tentang fungsinya jika dimaksimalkan"


"Kau gila. Petugas keamanan akan segera menangkapmu jika kau melakukannya"


"Lalu? Aku ditahan? Justru lebih baik. Aku akan punya tempat berteduh yang lebih baik, lalu mereka akan memberiku makan tiga kali sehari."


"Tapi kau tidak akan bebas jika begitu"


Rave terdiam sejenak, "Aku... selalu bebas, Jin. Selama setahun menjadi gelandangan, aku selalu bebas."


Tapi, dalam hatinya Rave selalu memikirkan apa itu kebebasan. Pemerintah dan dunia telah membuat pasukan khusus pemburu Projects, Artemis. Rave tidak pernah tenang, selalu terkurung dalam kegelapan setiap kali ada anggota pasukan Artemis lewat.


*Tidak apa. Aku harus kehilangan sesuatu setiap mendapatkan hal lain. Kebebasanku ditukar dengan kemampuan Project.


Kuharap kami segera menemukan kebenaran, dan kami bisa menunjukkannya pada dunia*.