Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 24: Phantom Stalker



Bum!


Rave dan Jin berhasil keluar dari ruangan beku itu setelah membuka gembok pintu, yang ternyata tersembunyi disebelah kenop pintu yang diselimuti es.


Mereka langsung berlari menjauh dari gudang penyimpanan dan menatapnya dari jauh. Beberapa petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api dengan menyemburkan air dari truk pemadam kebakaran, bahkan mereka mengirim helikopter untuk mengecek kodisi dari atas. Keadaan bertambah parah dengan orang-orang diluar yang menonton dan menghalangi akses truk lain.


"Rave..."


"Menurutmu kenapa ini bisa terjadi, Jin?" tanya Rave sambil menatapnya dari samping. Jin hanya terfokus pada gedung disebelah gudang. Gedung kantor perusahaan.


"Kupikir... atasan kita lupa mematikan kompor?"


"Euh... kurasa begitu"


"Kalian! Cepat menjauh dari tempat ini!" teriak salah satu petugas yang tengah menjaga gerbang masuk bersama rekan-rekannya.


"Ya, kami akan keluar segera. Ayo, Jin"


Tapi ketika Rave hendak pergi, sesuatu seperti menahannya. Ada sebuah sensasi, sesuatu yang membuatnya merinding. Sama seperti satu tahun yang lalu.


Ada seorang Project didekat sini.


Rave menatap sekelilingnya, berusaha mencari orang itu. Dia berharap Project itu adalah salah satu temannya. Atau paling tidak, Sora. Karena Rave membutuhkannya untuk mencari tahu dimana Projects lain berada.


"Hei, Rave. Sudah cukup membuatku menderita hari ini. Ayo keluar! Tempat ini akan segera hangus," Jin menepuk pundak Rave. Rave mengangguk dan segera keluar dari kawasan perusahaannya.


Siapapun itu... dia sudah menemukanku. Hanya soal waktu saja kami akan bertemu.


...---...


Malam itu Rave menginap dirumah Jin. Alasannya karena sebagian uang milik Rave telah terbakar bersama loker miliknya di gedung itu.


"Kau ini... merepotkan saja. Kenapa tidak tidur diluar lagi?" tanya Jin sambil menatap jengkel pada Rave, yang tengah menonton televisi dengan santainya.


Sementara Jin sedang memasak di dapurnya, terpaut beberapa langkah dari sofa tempat Rave duduk.


"Kau sedang memasak apa?" tanya Rave tanpa mempedulikan pertanyaan Jin.


"Nasi goreng. Jadi, kenapa kau tidur disini?"


"Apa kau memasukkan lada di bumbunya?"


"Terserah aku! Kenapa kau tidur disini?"


"Enak sekali kau bicara. Mencari tempat tinggal, tapi jangan dirumahku!" kata Jin sambil menggebrak meja dapur.


"Eh? Tapi kau belum berkeluarga, kan? Lagipula kita sudah seperti saudara," Rave mengganti saluran televisi, yang kemudian menampilkan berita kebakaran siang tadi.


"Hmm? Ini kan... kebakaran tadi?" Jin mengalihkan pandangannya ke televisi.


"Ya. Sepertinya menjadi berita besar hari ini"


"Tentu saja. Itu perusahaan besar pemasok es di negara ini, walau hanya cabangnya. Kuharap kita masih bisa bekerja disana. Mereka pasti mengalami kerugian besar setelah kebakaran itu."


"Ada yang aneh menurutku. Apa sebuah kompor bisa menciptakan sebuah ledakan besar seperti itu?" Rave menunjuk bekas ledakan di layar. Terlihat besar dan hangus.


"Kurasa tidak. Standar tabung gas yang dipakai perusahaan adalah ukuran 3 kilogram. Walau tabung gas itu penuh, sepertinya mustahil untuk menciptakan lubang sebesar itu di lantai"


Mereka terdiam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga Rave berkata, "Rumahmu akan menjadi korban kebakaran berikutnya jika kau tidak mematikan kompor itu"


Jin menatap kompor dan segera mematikannya begitu melihat masakannya telah matang.


...---...


Sementara itu, di sebuah tempat nun jauh diluar sana, salah satu Project tengah berkutat dengan sebuah komputer dihadapannya.


"Alexander Rave. Umur 24 tahun. Laki-laki. Biodatanya sebelum 18 tahun telah menghilang. Alasan tidak diketahui. Riwayat keluarga tidak ditemukan. Terakhir terlihat di Kota Reverie."


Project itu menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mendesah karena lelah. Sejak setahun yang lalu dia telah sendiri, kini dia berencana untuk mencari Projects lainnya.


"Hah... sudah setahun, tapi tidak ada hal bagus yang terjadi. Dunia terus berkembang tanpa menyeimbangkan alam sekitar," Project itu menatap sebuah poster buatan tangan di dinding kamarnya, "Mungkin kalimat itu benar. Hanya tinggal menunggu waktu saja, manusia akan punah."


Deretan foto dan biografi setiap Projects terpampang jelas di layar komputernya. Project itu kembali menelusuri data salah satu dari mereka. Data tentang Alaster Brown.


"Alaster Brown. Telah dinyatakan tewas pada usia 18 tahun dalam kecelakaan lalulintas. Keponakan tertua dari Project 05, Bill Chester. Terakhir terlihat pada saat kecelakaan."


"Hmm... ada informasi lainnya," Project itu membaca informasi lanjutan di bawahnya. Ada sebuah foto dengan keterangan disebelahnya.


"Alaster Brown bersama dengan rekan kerjanya saat kecelakaan. Keduanya menjadi korban saat mengendarai mobil."


Project itu menatap foto dua orang yang tengah memegang piala penghargaan untuk ilmuwan. Wajah Alaster tengah tersenyum menatap ke arah kamera, begitu juga dengan rekannya.


"Sora... begitu rupanya. Jadi selama ini kau menipu kami, ya?"


Project itu kembali menatap poster di dinding kamarnya dan menggumamkan kalimat itu, "Manusia menciptakan kiamat mereka sendiri. Projects adalah salah satu bagiannya."