Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 2: Suara-suara malam ini



Aku membuka pintu unit apartemenku. Yah, setelah berbagai kejadian saat bersama Sam, aku akhirnya sampai di apartemen.


Sebaiknya aku segera masuk. Musim dingin terlalu mengerikan saat malam hari.


...---...


Orang yang mengejar kami itu ternyata tetanggaku. Dia mengenakan mantel bulu dan sepatu High Heels. Seorang mahasiswi yang mengenakan kacamata, tetanggaku rupanya.


"Miko? Rupanya kau, ya?" aku akhirnya bernapas lega setelah mengenali orang itu. Namanya Miko, tetanggaku yang kubicarakan dengan Daniel di kantor.


"Kau menjatuhkan kuncimu, Rave" katanya sambil mengulurkan benda mengkilap di tangan kanannya. Oh, jadi cuma kunci.


Aku memapah Sam yang kesulitan berdiri karena kakinya keseleo. Lalu menerima kunci itu.


"Terima kasih, Miko. Omong-omong, apa yang kau lakukan disini?" aku penasaran dengannya, yang selalu keluar malam akhir-akhir ini.


"Ah, aku kerja. Kau tahu, kan. Untuk memenuhi uang bulanan saat kuliah," katanya sambil merapatkan mantel bulu.


"Begitu, ya? Kau mau ikut kami pulang? Keretanya berangkat sebentar lagi"


"Bagaimana dengan temanmu itu?" Miko menunjuk Sam—lebih tepatnya kaki Sam.


"Tidak apa. Hanya sedikit sakit saat berjalan," Sam tersenyum.


"Ini temanku, Miko. Namanya Sam," aku memperkenalkan mereka.


"Salam kenal"


"Keretanya berangkat 5 menit lagi. Masih sempat. Ayo," aku, Sam, dan Miko berjalan kembali di jalanan yang remang. Saat itu, bulan purnama merah menyinari jalan yang kami tempuh.


...---...


Aku mematikan lampu kamar, lalu berbaring di atas kasur. Udara dingin ini, aku tidak suka. Aku segera menarik selimut, bergelung didalamnya.


Ting!


Ada pesan masuk di ponselku. Aku mengeceknya dan menemukan nama Sam di sana.


"Rave, maaf mengganggumu selarut ini. Tapi, apa kau bisa menjemputku ke kantor besok?"


Aku mengetik pesan, "Kenapa?"


Beberapa detik kemudian, dia menjawab, "Akhir-akhir ini, entah kenapa aku merasa diikuti. Aku takut, kupikir orang yang tadi mengejar kita adalah orang itu. Bagaimana?"


"Kurasa bisa. Tapi jangan membuatku menunggu di depan rumahmu terlalu lama," jawabku.


"Terima kasih"


"Sama-sam—"


Dhuar!!!


Aku terkejut mendengar suara ledakan dari luar. Dengan cepat aku keluar dari apartemen, dengan mengenakan piyama seadanya. Aku melihat beberapa tetanggaku juga segera keluar, melihat keadaan.


Betapa terkejutnya kami saat melihat langit kota menjadi terang oleh ledakan. Arahnya... dari Distrik Industri. Walau jarak apartemen ini jauh dari sana, aku masih bisa melihat dengan jelas ledakan itu.


"Apa yang terjadi?!" rata-rata tetanggaku bereaksi seperti itu.


"Rave... itu..." tahu-tahu Miko sudah ada di sebelahku. Dia menunjuk ke langit malam, diatas sumber ledakan.


Alarm kota berbunyi nyaring, aku belum pernah mendengarnya. Seperti sirene gelombang tsunami, tapi lebih nyaring. Pertanda buruk, itu yang orang-orang katakan. Lalu speaker di atas kantor distrik menyala.


"Perhatian penduduk kota, kami mengalami kendala teknis di Distrik Industri. Harap tenang dan segera pergi ke pos evakuasi terdekat. Kami akan segera menangani masalah ini," katanya.


Aku menoleh ke arah Miko. Dia masih menatap kejauhan, ke arah sumber ledakan. Dia terlihat takut dengan kejadian ini.


"Hei, ayo segera ke pos evakuasi," kataku sambil menggandeng tangan kanan Miko. Beberapa polisi datang untuk menangani evakuasi penduduk. Sirene mobil polisi meraung di malam itu, bersamaan dengan sirene darurat kota.


...---...


"Astaga! Keadaan kota sangat kacau, kawan. Polisi setempat, pemadam kebakaran, bahkan tentara juga menangani kejadian ini. Situasi sangat kacau seperti yang kalian lihat—"


"Apa yang kau tonton itu?" tanyaku saat melihat Miko yang dari tadi menatap ponselnya. Kami sudah sampai di pos evakuasi, duduk di salah satu barisan bangku tunggu.


"Livestream salah satu Vlogger. Orang ini cukup gila untuk kabur dari polisi untuk menyiarkan kejadian di Distrik Industri," kata Miko.


Aku teringat sesuatu, "Kau sudah telepon orang tuamu tentang kejadian ini?"


Miko menghembuskan napas panjang, "Mereka dari awal tidak suka dengan kota ini. Percuma saja mengabari mereka. Mungkin sekarang mereka masih tidur nyenyak di rumah mereka di kota sebelah"


Aku mengecek saku, mencari ponsel untuk menelepon Sam. Eh? Tidak ada di saku manapun. Sepertinya tertinggal di atas kasur karena aku terlalu terburu-buru.


"Ada apa? Ponselmu hilang?" Miko seperti bisa membaca pikiranku.


"Sepertinya tertinggal saat aku keluar apartemen," aku menghela napas panjang.


Tiba-tiba Miko berdiri dari bangkunya, "Aku mau ke toilet"


"Ah, aku juga," aku segera bangkit dan mengikuti Miko.


Tapi, sesuatu yang terjadi berikutnya, sangat tidak terduga. Mendadak lampu lobi padam, membuat orang-orang ribut.


Dor!


Terdengar suara letusan senjata di luar sana. Lalu beberapa polisi berteriak, "Semuanya, tahan orang itu!"


"Astaga, dia seperti kesurupan!" teriak polisi yang lain.


Aku segera melihat ke luar lewat jendela. Ada seorang pria yang berjalan—tidak, lebih tepatnya merayap di jalan. Dua orang polisi hendak mendekatinya. Tapi, mereka tiba-tiba diserang oleh orang itu. Salah satu polisi yang tidak sempat menghindar berteriak saat pria itu menggigit lehernya sampai putus.


Tiga orang rekannya berteriak ngeri. Orang-orang didalam bangunan evakuasi yang melihatnya juga berteriak. Itu mengerikan sekali.


Pria itu merayap dengan cepat ke arah polisi lain. Kali ini polisi itu sempat menghindar dan melepas tembakan, tapi meleset. Nasibnya sama seperti rekannya yang tewas.


Salah satu polisi yang melihat kesempatan segera menarik pelatuk dan menembak kepala pria itu.


Dor!


Kali ini kena, tepat sasaran. Pria itu seketika tewas dan terjerembap di atas aspal jalanan.


"Apa itu?!" polisi yang lain menunjuk ke ujung jalan. Secara refleks aku menoleh kesana.


Seseorang—tidak, dua, tiga... banyak sekali, dan terus bertambah. Belasan orang-orang seperti pria tadi merayap menuju gedung evakuasi ini. Mereka seperti air bah, membuat 3 orang polisi yang tersisa tidak berdaya mengatasinya.


Salah seorang polisi berteriak pada pengurus gedung untuk segera menutup pintu. Sementara yang lain menghubungi kantor polisi dan bersembunyi di dalam mobil.


Polisi yang tadi berteriak tidak sempat berlindung dan akhirnya mati tercabik-cabik. Pengurus gedung segera menutup pintu masuk lobi rapat-rapat. Tapi hanya masalah waktu saja mereka akan masuk.