
Alexander Rave
Aku terbangun di atas kasur putih. Beberapa selang terhubung ke tubuhku. Sepertinya sudah lama sekali aku pingsan. Tidak ada siapapun di ruangan ini. Hanya ada alat medis dan ranjang tempatku berbaring.
Pinggangku masih agak sakit, tapi sudah tidak ada luka yang mengeluarkan darah lagi. Perban yang melilitnya juga putih bersih. Seperti baru diganti beberapa saat yang lalu.
Seseorang membuka pintu, rupanya itu Miko. Dia terkejut melihatku sudah siuman, lalu bergegas mendekat.
"Akhirnya kau bangun!" Miko hampir saja memelukku. Teringat kalau pinggangku tertembak, dia jadi enggan melakukannya.
"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanyaku dengan suara lemah.
"Sebulan lebih. Lukamu cukup parah," Miko menunduk, "Maaf. Karena aku berteriak, pria itu datang dan menembak mu"
"Tidak apa. Dimana yang lain?"
"Mereka di ruang tengah. Laura baru saja mengganti perbanmu. Katanya lukamu sudah sembuh seminggu yang lalu, tapi untuk berjaga-jaga dia masih membalut pinggangmu dengan perban. Ah, biar kupanggilkan mereka"
Miko berlari keluar dan lupa menutup pintu. Aku bisa melihat pemandangan lewat jendela. Penuh salju, sepertinya musim dingin belum berlalu selama sebulan ini. Aku mencoba turun dari ranjang. Tidak terjadi apapun, pinggangku tidak sakit.
Kemudian aku berjalan ke balkon, membuka pintunya, lalu merasakan hawa dingin seperti biasa.
Eh? Kenapa tidak terasa dingin? Padahal jelas sekali bahwa ada salju menumpuk di pembatas balkon. Ini aneh, aku hampir mengira kalau indra perabaku tidak berfungsi.
Saat aku hendak menyentuh salju, Sam datang dan memanggilku. Aku menoleh, disana sudah ada Sam, Miko, Bill, Laura, dan seorang pemuda yang tidak kukenal berdiri paling depan.
"Lihat? Sudah kubilang dia akan sembuh. Kau tidak perlu khawatir, Bill," kata pemuda itu sambil menyikut lengan Bill. "Jadi, kau kalah taruhan. Akan kuambil anggur berusia 50 tahun itu"
Aku hampir tidak berkedip menatap pemuda itu. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat. Saat aku terbengong-bengong, pemuda itu mengenalkan dirinya.
"Salam kenal, Rave. Namaku Sora, salah satu Project yang selamat. Sepertinya kau sudah sembuh," katanya.
"Ya... sepertinya begitu," aku menatap Laura yang berdiri di belakang Sora.
"Sudah kubilang, kan? Dia tidak butuh perban ini!" seru Sora sambil merobek perban di pinggangku dengan paksa. Semua orang terkejut melihatnya, termasuk aku. Pinggangku bersih, seolah peluru tidak pernah bersarang di sana. Tidak ada bekas luka atau jahitan sedikitpun.
Sam, Bill, Miko, dan Laura secara spontan mendekat dan mengecek pinggangku setelah Sora pergi.
"Hah?! Bagaimana mungkin..." Laura terkejut. "Padahal semalam masih ada bekas luka disini"
"Argh... aku kalah... seharusnya aku tidak bertaruh sebotol anggur dengannya," gerutu Bill.
"Anu, siapa orang tadi?" tanyaku.
"Namanya Sora. Dia juga seorang Project, walau kami tidak tahu nomor serinya. Kemampuannya adalah kecerdasan tinggi," kata Sam.
"Kecerdasan? Memangnya itu bisa disebut sebagai kemampuan?"
"Tentu saja. Karena terlalu cerdas, katanya dia bisa melihat masa depan," kata Miko.
"Mustahil. Tidak ada yang bisa melihat masa depan"
"Itu benar. Tidak ada yang bisa melihat masa depan," Sora muncul di ambang pintu, "Kecuali aku"
Aku menelan ludah. "Apa buktinya?"
"Kau akan kehausan dalam beberapa detik lagi, lalu kau akan menjatuhkan gelas kaca di meja," katanya.
Aku tidak percaya dan hendak bicara lagi, tapi tiba-tiba saja aku merasa haus. Aku segera meraih segelas air di meja kecil terdekat. Sayangnya tanganku terlalu lemah untuk mengangkat gelas itu. Dan yang terjadi selanjutnya tepat seperti perkataan Sora.
Gelas itu pecah, membuat kami semua membisu. Sora bertepuk tangan, memecah keheningan.
"Benar, kan? Sudah kubilang pada Laura untuk tidak menggunakan gelas kaca, tapi gelas kertas"
"Bagaimana... mungkin?" aku terkejut dengan kejadian 30 detik terakhir.
"Sudah kubilang, aku bisa melihat masa depan. Bahkan aku tahu kau akan menyanggahnya, karena itulah aku kembali"
"Kau..." saat itulah aku sadar, Sora adalah Project yang sangat berbahaya jika kami menentangnya.