Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 5: Nol



Zero


Aku akhirnya keluar dari tempat itu. Sudah lama sekali aku tidak menghirup udara segar. Di depanku kini, berdiri dua orang yang telah bersekutu denganku. Keduanya membungkuk hormat.


"Zero, sudah waktunya untuk pergi. Tempat ini akan segera di karantina oleh pemerintah. Sebaiknya kita pergi sebelum tentara menemukan Projects yang tersisa," Sharon, seorang remaja laki-laki yang bersekutu denganku, mengatakan itu sambil mengulurkan sebuah mantel bulu.


Cuaca menjadi sangat dingin. Gelombang dari ledakan sepertinya tidak cukup untuk menyapu bersih awan di langit dan salju di tanah.


"Bagaimana dengan keadaan kota sekarang ini?", tanyaku sambil memakai mantel itu. Cukup hangat dan nyaman, terlepas dari bulu dan noda di dalamnya.


"Seperti yang diperkirakan. Kacau, dan itu memancing Projects lainnya untuk keluar dari persembunyian mereka," Wendy, seorang wanita paruh baya, maju dan mengatakan itu.


"Rencana kita berhasil walau belum sepenuhnya. Setidaknya, kota ini sekarang akan di lupakan bersama jejak kita," kataku.


"Jangan senang dulu, Zero. ini masih permulaan. Kau masih di titik terendah diantara kami semua setelah bertahun-tahun disegel," Nine, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dia berdiri di balik kegelapan. Rupanya dia masih disini. Aku tidak menyadarinya.


"Bungker itu sudah dirancang untuk mengurangi sel Mathanus secara berkala. Jadi intinya, kau sangat lemah saat ini. Tanpa alat peledak itu, rencana ini tak akan berhasil"


Aku sangat paham dengan yang dikatakan oleh Nine. Dia adalah Project yang sangat licik dan cerdas. Sampai sekarang aku belum pernah melihat kemampuannya secara langsung.


"Jadi? Kemana kita?", pertanyaanku segera di jawab dengan sebuah peta yang dilemparkan Nine padaku.


"Ikuti saja panduannya. Lagipula, tidak sulit untuk menerbangkan sebuah pesawat," kata Nine.


Aku memasukkan peta itu ke dalam saku mantel. "Lalu bagaimana denganmu? Kau ikut dengan kami?"


"Na-ah, aku tidak suka tempat yang kau tuju. Terlalu kotor untukku. Tapi jika kau butuh bantuanku, bilang saja," Nine segera pergi dari sana dan menghilang bersama angin yang berhembus.


Sharon masih memperhatikan tempat Nine berdiri tadi. "Kau percaya dengan orang itu?"


"Tentu saja, dia yang membebaskanku. Lagipula, menurutku dia berguna untuk rencana kita"


Aku terdiam, teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Tapi kuputuskan untuk tidak membahasnya sekarang.


"Sharon, bawa kami ke tempat itu," aku membuka peta dan menunjuk sebuah titik merah disana, Bandara Internasional Flemington.


...---...


Alexander Rave


Sepertinya tempat ini aman, tapi bukan ini tempat yang kami tuju. Bill bilang bahwa tempat yang kami tuju masih jauh. Akhirnya Laura, tentara wanita yang menjadi supir kami, mengarahkan Hovercar ke pelabuhan.


Kami turun di dermaga dan melihat ada 3 kapal nelayan tertambat disini. Tidak ada kapal lain selain itu. Miko dengan inisiatif mengecek salah satu kapal. Sam dan Bill juga mengecek kapal yang lain.


"Sudah lama, ya. Kau pasti bingung dengan kejadian ini," Laura berdiri di sebelahku, menatap lautan luas di depannya.


"Ya... sejujurnya, aku belum tahu apapun tentang diriku. Sebenarnya apa yang terjadi sebelum aku kecelakaan waktu itu? Apa yang kulakukan—tidak, apa yang manusia coba lakukan?"


"Rave—"


"Sial, semua kapal ini rusak. Mesinnya membeku dan tidak berfungsi," kata Bill yang kembali dengan Miko dan Sam.


"Lalu bagaimana?"


Bill berpikir sejenak, "Jika semua kapal mati, hanya ada satu cara untuk kesana. Pesawat atau helikopter"


"Tidak, Bill. Helikopter tidak akan bertahan lama di cuaca seperti ini," kata Laura. "Kita akan menggunakan pesawat. Hanya itu satu-satunya cara yang tersisa


"Kita akan pergi ke Bandara Internasional Flemington. Disana ada satu pesawat milik skuadronku. Kebetulan aku pilotnya"