
Sora
"Ice Naraka telah bangkit kembali," kataku. Bill dan Sam saling pandang.
"Ice Naraka? Bukannya itu...," Sam menghentikan kalimatnya. Aku tahu apa yang dia pikirkan, begitu pula dengan Bill.
"Aku tahu, tapi sepertinya... sel itu sudah lama beradaptasi dengan tubuh Rave. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Ice Naraka bangkit dengan sempurna"
Aku menatap ke langit. Beberapa menit yang lalu, matahari masih menyinari kami. Tapi sekarang, aku bahkan tidak melihat senoktah cahaya menembus awan mendung.
"Rave... kuharap kau baik-baik saja. Ice Naraka itu...," aku menghentikan kalimatku, "Bill, darimana kau mendapatkan Adrenaline itu?"
"Adrenaline? Aku mendapatkan benda itu dari Alaster. Beberapa tahun yang lalu, saat dia masih dihormati masyarakat dan negara"
Aku terdiam sejenak. Alaster... dia selalu saja menyembunyikan banyak hal dari kami. Tentang Adrenaline itu... mungkin Alaster yakin untuk memberikannya karena dia melihat Bill bisa dipercaya.
"Sora, lihat!" Miko menunjuk ke belakang kami. Aku langsung menoleh kesana. Sial, keberuntungan kami hampir habis.
Beberapa jet tempur melintas di atas langit Kota Reverie. Pertempuran ini sudah mengundang perhatian pihak militer. Sekarang, kami harus bertempur melawan dunia untuk menyelamatkan umat manusia itu sendiri.
"Pemerintah pasti sudah mengkonfirmasi keadaan. Perburuan Projects besar-besaran akan segera dimulai," aku berdiri dan mengeluarkan ponsel. Kuputuskan untuk melaksanakan rencana kedua.
"Ini aku. Keadaan disini sudah kacau. Tidak, kami belum berhasil. Dengarkan aku," aku berhenti sejenak dan menatap kejauhan, tempat dimana Rave sedang bertarung melawan Nine.
"Jalankan rencana kedua. Lakukan sesuai arahanku. Nasib Projects dan umat manusia bergantung pada keberhasilan rencana ini," aku langsung menutup panggilan begitu selesai bicara.
"Apa yang kau bicarakan? Rencana kedua? Kita tidak pernah menyusunnya," Bill menatapku.
Aku menghela nafas panjang, "Maaf, tapi pertemuan kita hanya sampai disini."
"Maksudmu? Kau akan pergi meninggalkan kami?" tanya Laura dengan putus asa.
"Kenapa?"
"Ada hal penting yang harus kuurus. Dengan menyebarnya informasi tentang keberadaan kita, seluruh dunia akan kacau. Kita semua akan menjadi buronan sekali lagi. Jadi, sampai jumpa," aku berjalan meninggalkan mereka yang bersembunyi di dalam gedung runtuh.
Salah satu tentara melihatku dan menyuruhku berhenti. Seketika seluruh anggota skuadronnya menoleh ke arahku.
"Cih, merepotkan saja," aku mengangkat tangan kananku dan berseru dengan lantang, "Dengar, umat manusia! Kami adalah Projects! Asal kalian tahu, nasib dunia ada di tangan kami!"
Setelah mengatakan itu, puluhan suara tembakan langsung terdengar. Bersamaan dengan mataku yang terpejam.
Dalam gelap, aku memikirkan kata-kata bijak dari Alaster.
"Kita *tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, kawan. Karena kita tidak siap untuk kehilangan apa yang kita punya. Manusia itu rakus, kejam, dan rela mengorbankan orang lain untuk terus melangkah lebih jauh."
Kau benar, Alaster. Bahkan sampai hari ini tiba, aku masih belum bisa mendapatkan apa yang kuinginkan.
Kenapa... kenapa kami diciptakan? Kenapa kami diperangi? Kenapa kami harus menyelamatkan umat manusia? Tanggungjawab apa yang kami pikul*?
"Menyelamatkan sesuatu yang selalu ingin menghancurkanmu. Benar-benar konyol"
...---...
Beberapa jam kemudian, aku sudah berada di salah satu fasilitas penelitian yang kubuat sendiri. Aku sudah mengirim beberapa bawahanku untuk mengamankan mereka semua. Aku sudah mendengar kabar dari salah satu mata-mata yang kusewa.
Nine dan kelompok Resistance telah mundur dan menjauh dari Kota Reverie. Rave dan yang lainnya sudah kukirim ke tempat aman. Sekarang, tugasku adalah menyusun ulang rencana besarku. Kemudian menggali informasi dari agen-agen yang sudah kusebar selama 3 tahun lalu.
Batu nisan di hadapanku selalu terlihat menarik. Sebuah nama terukir disana.
Alaster Brown, salah satu ilmuwan terkemuka di dunia.