
Valiant's Cafe adalah sebuah kafe yang cukup sederhana, tapi sangat menjunjung tinggi seni. Setiap inci dinding tempat ini selalu tertutup oleh lukisan gaya bebas, layaknya kuas yang hanya digores lembut dan mengikuti satu arah.
Kafe ini masih cukup ramai oleh pengunjung. Bahkan saat kami datang, hampir semua meja telah ditempati. Aku tidak menyangka ada kafe sebagus ini di Distrik Selatan.
Kami tengah memesan minuman saat Sora mendekati seorang barista dan bertanya.
"Selamat pagi. Eh... semalam aku sudah menghubungi owner. Kami akan meeting hari ini. Apa beliau sudah tiba?" tanya Sora.
"Meeting? Oh, owner sedang ada di ruangannya. Mari saya antar," barista laki-laki itu berjalan ke sebuah pintu bertuliskan 'Khusus karyawan'.
"Hei, bagaimana dengan minumannya?" Bill protes. Sementara kami berjalan mengikuti barista.
"Nanti saja, Bill. Lagipula tidak ada alkohol di kafe ini," kata Sora.
"Silahkan masuk, owner ada didalam," kata barista itu yang kemudian pergi. Kami sekarang berdiri didepan sebuah pintu kayu dengan ukiran yang menawan.
"Kau sungguh-sungguh sudah membuat janji dengan owner kafe?" tanya Laura.
"Tidak. Tapi dia akan mengerti," Sora langsung membuka pintu. Didalam, kami langsung bisa melihat banyak piala berjejeran di rak pajang. Sebuah meja-kursi khas para bos besar, dan seseorang duduk disana. Seorang perempuan berumur sekitar 25 tahun.
"Jadi, apa yang kalian inginkan?"
...---...
"Kami mencari—"
"David Bossman... dia sudah mati, kan?" perempuan itu memotong kalimat Sora. Sora terlihat agak kesal, padahal itu kebiasaannya.
"Ya, beberapa hari yang lalu. Bisa kita bicara langsung? Olivia L Brown?"
Perempuan itu menatap Sora dengan tajam. Terlihat sangat waspada terhadap Sora. Dia bangkit dari kursinya, lalu mendekati kami.
"Aku tahu siapa kalian, tapi aku tidak mengenal orang ini," Olivia menunjuk Sora.
"Huh, tentu kau tidak mengenalku. Kau lupa ingatan karena trauma akan kematian Alaster, bukan?" Sora menatap Olivia dengan tajam. Mereka seperti saling membenci satu sama lain.
"Jadi, kalian mencari rekaman itu?" Olivia bertanya padaku.
"Rekaman?" aku menjadi bingung.
"Kalian tidak tahu? Alaster membuat rekaman sebelum dia mati dibunuh. Rekaman itu sudah disimpan selama bertahun-tahun. Menunggu untuk diambil oleh Alexander Rave"
"Alexander Rave?" seketika semua orang menatapku.
"Aku?"
"Tapi... aku bahkan tidak tahu kemampuanku sendiri"
"Kalau begitu, aku tidak akan memberikannya," Olivia berjalan dan duduk kembali di kursinya. Semuanya menungguku untuk mengeluarkan kemampuan Project 01.
"Ayo, Rave. Kau pasti bisa," Sam menepuk pundakku.
"Bagaimana kau melakukannya, Bill?" aku meminta petunjuk.
"Hanya membayangkan sesuatu terjadi karena sel itu. Bahkan terkadang aku tidak perlu membayangkannya," kata Bill. Aku semakin bingung.
Lakukan saja, Rave!
Aku menutup mata dan berkonsentrasi, bahkan sampai mengejan. Aku tidak bisa membayangkan apapun. Hanya ada warna merah darah. Bergejolak bagaikan api.
Aku membuka mata dan melihat sesuatu terjadi. Semua orang berkeringat banyak. Terlihat sangat gerah dan panas.
"Apa yang terjadi?" tanya Miko.
Bum!
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar. Teriakan panik para pengunjung kafe, suara barang berjatuhan dan pecah.
Sora membuka tirai jendela dan menunjukkan sesuatu yang menakutkan. Kami telah dikepung dari segala arah. Nine dan pasukannya telah tiba dengan persenjataan lengkap.
"Mereka sudah sampai. Kita harus pergi dari sini. Hei, kami membutuhkan rekaman itu!" Sora mencengkeram pundak Olivia.
"Tidak akan. Lebih baik tidak ada yang memilikinya. Nasib dunia tidak bisa dipertaruhkan pada seorang Project yang tidak bisa melakukan apapun," tegas Olivia.
"Kau..." Sora semakin geram. Kemudian dia menampar Olivia.
"Seharusnya kau juga bersama dengan Alaster didalam liang kubur, jadi kami bisa menemukan tempat itu lebih cepat!" Sora melepaskan Olivia. Lalu menepuk pundak Bill.
"Tahan mereka, Bill. Kami mengandalkanmu"
Bill tersenyum santai, "Tentu, Sora. Akan kuurus mereka"
Kemudian Bill menerobos jendela kaca. Bertempur melawan pasukan Nine. Suara tembakan dan ledakan sahut-menyahut dari luar. Sementara kami berjalan meninggalkan Olivia yang masih duduk di kursinya.
"Kau akan menyesalinya, Olivia. Hari itu, kau membuat keputusan yang salah," kata Sora.
"Aku tidak pernah menyesali apapun. Bahkan saat aku tidak menyelamatkan suamiku sendiri"
"Kau memang pantas mati"