Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 13: Kembali ke Kota Angan-angan



Alexander Rave


2 hari sudah berlalu sejak kejadian di pelabuhan. Kami semua selamat, tapi Miko... dia masih berduka atas kematian ayahnya. Selama 2 hari ini dia tidak mau keluar dari kamarnya.


Kami sudah membujuknya untuk keluar. Tapi sia-sia, Miko bahkan tidak bicara sedikitpun. Masalah ini bisa mempersulit rencana Sora untuk segera pindah ke tempat yang aman. Karena lokasi kami sudah diketahui oleh Nine, akan berbahaya jika seandainya dia mengirim pasukan ke sini.


Hingga akhirnya, pada sore hari aku menanyakan sesuatu pada Sora. Kami hanya berdua, duduk di sofa ruang tamu yang luas. Sora sedang berkutat dengan laptopnya saat aku datang dan duduk di seberangnya.


"Sora"


"Hmm?" dia merespon tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar laptop. Masih mengetik dan sesekali menyeruput teh di samping laptopnya.


"Kau tahu... aku sudah kehilangan ingatan beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan—"


"Kau ingin tahu apa dan siapa kau sebelum itu?" Sora menyela.


Aku terdiam sejenak sebelum mengiyakan. Sora menghela nafasnya, lalu melepas kacamata dan menaruhnya di atas meja.


"Rave, terkadang kita harus melupakan sesuatu. Salah satunya adalah masa lalumu," Sora menyeruput tehnya. Lalu dia kembali berbicara.


"Ketika seseorang mengalami kecelakaan dan amnesia, ada dua hal yang menjadi faktor. Ada seseorang yang menginginkanmu mati, atau kau memang ditakdirkan untuk itu. Begitulah kata seorang pakar"


"Siapa?"


"Itu dia, aku lupa. Karena aku ditakdirkan untuk itu. Sekarang tentang masa lalumu. Aku mengetahuinya, tapi aku tidak akan memberitahumu. Setidaknya sampai kau bisa menerimanya. Ini membingungkan, tapi..."


"Tapi apa?" aku penasaran, karena dia menggantungkan kalimatnya.


"Kau sudah mati, Rave. 5 tahun yang lalu, kau mati pada kecelakaan besar di kota Reverie," Sora menatapku dalam-dalam. Seakan ingin meyakinkanku bahwa dia benar.


"Apa? Kau pasti bercanda"


"Aku serius. Itulah alasan namamu ada dalam daftar kepolisian. Selama 2 hari ini, aku sudah mengorek informasi tentang biografi setiap orang yang terlibat dalam penelitian"


"Lalu... bagaimana bisa aku masih hidup?" aku mengernyitkan dahi. Sial, ini seperti film fantasi yang pernah kutonton.


"Kau—"


"Rave, Sora!" Bill tiba-tiba berlari masuk ke ruang tamu dengan panik. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya pucat.


"Ada apa, Bill? Kehabisan anggur?" tanya Sora.


"Bukan. Yah, walau itu benar sih. Tapi—"


"Aku sudah tahu semuanya. Dia kabur beberapa jam yang lalu. Lewat jendela kamarnya," Sora bangkit dari sofa dan meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Bagaimana kau tahu?"


"Karena dia meninggalkan jejak di bawah jendela bagian luar. Sebuah kapal bersauh 2 jam yang lalu. Kemudian kau melewati pintu kamar Miko, dan panik hingga wajahmu pucat. Hanya ada beberapa hal yang membuatmu wajahmu begitu"


"Lalu kenapa kau tidak segera mencarinya saat itu juga?" Bill menatap Sora dengan agak kesal.


"Percuma jika aku yang mengejarnya. Bayangkan seseorang yang membunuh ayahmu mengejarmu juga. Pasti kau merasa takut dan justru kabur lebih cepat," Sora menghabiskan tehnya. Lalu meletakkan cangkirnya dengan kasar di atas meja.


"Kota Reverie. Miko menuju kesana"


"Hah?"


"Rute kapal itu menuju ke arah pelabuhan Reverie, setidaknya hanya tempat itu yang Miko kenal," Sora segera menyalakan ponselnya dan menelepon seseorang.


"Halo. Ya, pesankan 5 tiket penumpang. Tidak ada kapal lagi hingga besok? Kalau begitu..." Sora menatap kami sejenak, "Apa kau bisa menyiapkan seorang kapten kapal?"


...---...


Aku tidak terkejut lagi saat kami berempat menaiki kapal pribadi milik Sora. Dia memang terkenal di Desa Genneva karena kekayaannya, tapi tidak kusangka dia begitu kaya raya.


"Kita akan tiba di pelabuhan Reverie dalam satu jam lagi. Bersiaplah untuk pemeriksaan ketat dari pihak militer disana," Sora berteriak dari geladak kapal. Kami berempat tidak begitu mendengarkan. Sibuk menikmati suasana diatas dek. Kapan lagi kami bisa menaiki kapal pribadi dan bertingkah selayaknya bos?


"Sora, kau tidak pernah cerita tentang keluargamu. Bisa kau ceritakan?" tanya Sam. Aku juga penasaran dengan keluarga Sora.


Tapi Sora hanya berkata, "Mereka tiada. Sejak aku menghembuskan nafas pertamaku"


Kami hanya terdiam, merasa bersalah karena bertanya. Pasti berat jika sudah sebatang kara sejak lahir.


"Aku mendapatkan semua ini atas kerja kerasku sendiri. Sudah 50 tahun—" Sora terdiam langsung.


"Lupakan. Ayo segera masuk ke kabin. Disini semakin dingin saja," Sora melangkah pergi.


Aku tidak salah dengar, kan?


Sudah 50 tahun...


Sora pasti menyembunyikan sesuatu dari kami semua.