
Bill Clinton
Aku melapisi seluruh tubuhku dengan zirah kalsium. Dengan zirah ini, aku bisa bertempur lebih aman. Ada sekitar 10 orang yang mengepung Valiant's Cafe. Mereka membawa sebuah tank, LMG (Light Machine Gun) kaliber 5.56, dan—
"Itu dia! Hati-hati dengan Project 07! Tangkap dia hidup-hidup!" teriak salah satu dari mereka.
"Kalian pikir kalian bisa menangkapku?" aku menubrukkan diri ke badan tank. Sial, terlalu berat untuk dijungkalkan. Tank itu hanya penyok di salah satu sisi.
"Kepung dia! Jangan biarkan dia mendekat!"
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan mengelilingiku. Aku hanya menyeringai saat peluru itu pecah dan luruh ke tanah. Kaliber 5.56 saja tidak cukup untuk menembusku.
Dengan cepat aku melompat dan mencengkeram leher salah satu penyerang. Lalu dengan bodohnya, temannya maju dan melepaskan tembakan beruntun. Aku segera menutupi tubuhku dengan sanderaku.
"Bukan aku yang membunuhmu," kataku sambil menatap mayat di cengkraman.
Lalu aku melempar mayat itu ke pembunuhnya, dan menendangnya sekuat tenaga. Mereka terlempar sejauh 15 meter dan menabrak tembok pembatas jalan.
Tersisa 8 orang. Mereka terus menghujaniku dengan peluru. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Zirahku hanya bisa menahan peluru, tapi tidak dengan tekanannya. Lama-kelamaan tubuhku semakin berat.
Aku berkonsentrasi untuk menambah kadar kalsium di zirahku. Semakin banyak kugunakan, semakin berpengaruh pada kondisi tubuhku. Langkahku tidak secepat tadi, karena aku memindahkan sebagian kalsium tulang kaki pada zirah atas.
"Siapkan MGL-nya (Multiple Grenade Launcher)! Dia mulai melemah!" teriak seseorang diatas tank.
Aku langsung menoleh, orang itu tidak membawa senjata apapun. Hanya memakai jubah hitam dan topeng logam. Seharusnya dia menjadi mangsa yang mudah bagiku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat kearahnya dan bersiap memukul. Tapi yang terjadi berikutnya sangat tidak terduga.
Orang itu meninjuku dengan sangat keras dan tanpa ragu-ragu. Seolah zirah ini bukan apa-apa baginya. Aku terlempar sejauh 5 meter dan jatuh berdebam ke tanah.
"Kau... siapa kau sebenarnya? Bagaimana mungkin kau bisa melemparku?" tanyaku.
Orang itu menatapku dan berkata, "Jangan bersikap naif, Project 07. Kemampuanmu tidak sebanding dengan diriku"
Dia melompat turun dari tank dan berdiri 1 meter dariku. Orang ini kekar, aku bisa melihatnya dari pola jubahnya. Tegap bagaikan singa yang mengaum, dan kuat seperti badak yang bertempur.
"Berdirilah dan hadapi aku. Sudah lama sekali aku ingin menguji kemampuanmu dan bertarung satu lawan satu," kata orang ini.
Aku berdiri dan menatap sekitar. Orang ini sepertinya paham, lalu dia berkata, "Tahan tembakan. Aku sendiri yang akan menghadapinya. Rawat pasukan yang terluka."
"Baik, komandan!"
"Sebelum bertarung, bolehkah aku mengetahui namamu?" tanyaku sambil menatap topengnya.
"Nama? Yah, kau bisa memanggilku Nine," katanya.
"Kita mulai!" Nine langsung maju dan meninju perutku. Aku tidak sanggup menghindar dan terlempar ke atas setinggi 10 meter. Orang ini kuat sekali.
"Hahahahahahaha! Akhirnya aku menemukan lawan yang cocok untukku!"
Aku jatuh ke bawah dan meninju tanah, membuat retakan besar dan membuat hempasan angin.
Nine tidak menunggu lama dan bersiap memukulku lagi. Tapi aku menghindar dan balas meninju wajahnya. Topeng itu retak sebagian, hampir hancur karena tekanan dari pukulanku.
Nine terhuyung dan mundur tiga langkah. Dia memegangi wajahnya dengan sebelah tangan.
"Memang seharusnya begini! Tidak seru jika berlangsung cepat, bukan?" Nine tertawa keras dan menarik lepas topeng logamnya. Memperlihatkan wajah seorang gadis seumuran dengan Miko.
"Yah, ini baru menarik!" aku maju bersamaan dengan Nine. Kami bertukar pukulan. Tinju kami berhantam satu sama lain.
Sial, apa dia benar manusia? Tinjunya seperti berlian! Sangat keras dan tak tergoyahkan. Berbeda denganku, tinjuku bergetar setiap menghantam tinjunya.
Saat aku masih terkejut dengan betapa keras tinjunya, Nine memukulku di bagian wajah dengan sangat keras. Zirahku bahkan sampai mengeluarkan suara. Nine tidak berhenti sampai situ. Dia meninjuku bertubi-tubi tanpa jeda.
Kesadaranku mulai pudar. Aku tidak bisa melakukan apapun selain memindahkan kalsium ke wajah tanpa henti.
"Kenapa? Apa hanya segini saja kemampuanmu?" Nine mengejekku. Memancing agar aku balas menyerang. Tapi percuma, aku tidak melihat celah di setiap serangannya. Jalur tinjunya selalu berganti. Atas, bawah, kanan, kiri, dan lainnya.
Sial, orang ini gila. Dia terus memukulku tanpa henti seolah staminanya tidak terbatas. Saat itulah, aku mulai menyerah pada sebuah bisikan.
Gunakan benda itu, Bill!
Tidak ada cara lain. Aku berpura-pura jatuh dan tidak bergerak sedikitpun. Wajahku terasa sangat sakit. Aku yakin ada banyak lebam biru disana.
"Hah? Hanya itu? Membosankan sekali," Nine berjongkok dan menarik rambutku keatas. Menghadapkan wajahnya ke wajahku dan berkata, "Ternyata Project 07 tidak sekuat yang dibicarakan orang."
"Kau... belum..."
"Apa? Kau bicara apa, 07?" Nine mendekatkan telinganya ke mulutku.
"Kau... belum pernah... mencicipi... kekuatanku... saat... Adrenalin-ku melampaui batas!" aku segera menusuk kakiku dengan benda itu.
"Sial! Kau... bagaimana mungkin kau memilikinya?!" Nine melompat mundur dan menatapku dengan marah.
Bum!
Aku bisa merasakannya. Sel Mathanus dalam tubuhku bergejolak dan meledak-ledak. Tubuhku mulai sembuh dan bertambah kuat.
Zirahku mulai pulih kembali. Kemudian aku menatap wajah Nine yang gentar, "Permainan sebenarnya, baru saja dimulai."