
Salam, pembaca yang terhormat. Pada kesempatan kali ini, saya akan membawakan sebuah kisah sejarah. Mungkin tidak ada seorangpun di dunia ini yang mengetahuinya.
Ya, tidak seorangpun. Tentu saja selain aku sendiri. Pada dasarnya, kita tahu bahwa Alam Semesta tercipta karena teori Big Bang, bukan? Aku selalu hampir tertawa mendengar teori itu. Saat seorang murid mempresentasikan teori itu di depan kelas, aku tergelak.
Beruntung tak ada yang memperhatikanku, atau menyadariku. Aku tahu sepenuhnya, bahwa 'Big Bang' bukanlah demikian. Memang itu sebuah ledakan. Tapi bukan ledakan namanya jika tidak ada penyebab pasti, yang orang-orang bisa memahaminya secara detail.
Mungkin kau bertanya, Siapa aku? Kenapa aku bisa berkata seperti ini?
Pembaca yang bijaksana, tenanglah. Ini hanya sebuah kisah. Kalian boleh percaya, ataupun tidak. Karena aku bukanlah seorang Nabi, ataupun Utusan Tuhan.
Terserah jika kalian tidak percaya, karena tiada seorangpun yang mengingatnya lagi. Manusia yang sekarang, bisa dibilang bukan manusia yang seperti aku.
Aku berusia sekitar... yah, 100 tahun lebih tua dari Alam Semesta yang kalian ingat. Mungkin kalian terus terdesak ingin bertanya, Kau ini siapa?!
Sudah kukatakan, Aku adalah Dewa dunia baru
Rave Alexander:
76 Tahun sebelum ledakan semesta
Manusia sudah ada sejak dulu kala di planet Bumi. Tapi, bukan Bumi yang kalian pijak sekarang ini. Pada zamanku, Bumi adalah pusat Konstelasi Universe.
Matahari dan planet-planet lainnya mengitari Bumi saat itu. Kami, manusia, hidup seperti kalian manusia sekarang. Kami berkeluarga, bekerja, dan belajar seperti kalian.
Aku tinggal di Ibukota negara, Kota Reverie. Sejak umurku 18, aku hidup sendiri di sebuah apartemen tingkat 3, Unitku di lantai 1. Aku bekerja di sebuah perusahaan alkimia di salah satu distrik industri kota. Hidup sendiri membuatku tidak terlalu terbebani.
Kota Reverie adalah kota termaju di Bumi, dengan populasi sekitar 20 juta jiwa. Kami hidup makmur disini dengan damai, karena fasilitas kota yang memadai dan lengkap.
Kisah ini akan dimulai pada saat umurku 24 tahun.
Hari itu aku sedang bekerja di kantor, mengurus beberapa dokumen saham perusahaan. Aku mengecek jam tangan, sudah larut, jam 10 malam. Di kantor ini hanya tersisa beberapa pegawai shift siang. Aku, Sam, dan 5 orang lain. Pegawai lainnya sudah pulang duluan karena pekerjaan mereka telah selesai.
Aku melirik Sam yang mejanya ada di sebelahku. Wajahnya kacau sekali. Matanya merah, anak rambutnya kusut, dan sesekali dia mengusap matanya agar tidak mengantuk. Tapi itu semua tidak menutupi kecantikannya. Sebenarnya pekerjaanku sudah selesai, tapi Sam memintaku untuk mengantarnya ke rumah. Karena rumahnya searah dengan apartemenku.
"Tidak apa. Aku juga khawatir dengan kondisi lingkungan rumah akhir-akhir ini saat malam," aku tersenyum ramah, walau agak terpaksa.
"Ah, kalian tinggal di distrik Utara kota, ya?" tanya salah satu pegawai di dekat kami, Daniel. Dia melongok dari balik komputernya. "Kudengar ada beberapa kasus penculikan disana. Tapi sampai sekarang belum ditemukan pelaku ataupun korbannya"
"Itu yang ku khawatirkan. Aku bahkan curiga dengan salah satu tetanggaku yang sering keluar malam hari. Masih muda, sih. Sepertinya anak SMA"
"Benarkah? Kalau begitu, kau sebaiknya berhati-hati, Rave. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya jika kasus itu semakin luas"
"Sudahlah... ayo pulang, Rave. Keretanya datang 10 menit lagi," Sam memotong percakapan kami berdua.
Aku mengiyakan, "Kalau begitu, sampai jumpa besok, Daniel"
Kami berdua keluar dari kantor, lalu berjalan menuju stasiun kereta yang berjarak 500 meter dari kantor. Selama perjalanan, entah kenapa aku merasa diawasi. Kantor dan toko di sekeliling kami sudah tutup. Suasana sepi, agak gelap dan temaram karena kurang pencahayaan.
Tok! Tok! Tok!
Samar-samar aku mendengar suara ketukan sepatu dari belakang. Saat aku menoleh, aku melihat seseorang berdiri di balik kegelapan jalan. Tubuhnya agak besar, dan anehnya, berbulu. Kakinya ramping dan berjinjit. Matanya berkilat menatapku.
Aku menelan ludah, lalu berbisik pelan pada Sam, "Sepertinya seseorang mengikuti kita. Jangan menoleh"
"Apa?" Sam terkejut. Hampir saja dia menoleh ke belakang.
"Dalam hitungan ketiga, lari. Satu... dua... ti—"
"Hei!" orang itu berseru, tangannya menodongkan sesuatu yang terlihat runcing.
Secara reflek, kami berlari dengan cepat tanpa menoleh lagi. Aku merasakannya, orang itu mengejar. Stasiun kereta yang berjarak 500 meter itu kini terasa jauh.
Semuanya runyam saat sepatu High heels milik Sam rusak dan membuatnya tersandung. Aku berusaha membantunya, tapi... orang itu semakin dekat dengan kami.
Aku kini melihat sosoknya. Berbulu, agak besar, mengacungkan benda mengkilat, dan berjinjit. Itu adalah—