
Bill... ada di tahun 49938?! Bagaimana mungkin?
Rave mendekatkan foto itu ke wajahnya untuk memastikan. Benar, itu seratus persen wajah Bill. Di foto itu, Bill mengenakan pakaian militer Negara Flemington. Foto itu tidak hanya memuat para tentara, tapi juga presiden bahkan ilmuwan muda sekalipun.
Bill... apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?
Sebuah bus tiba di terminal, menurunkan seluruh penumpang baik yang hendak istirahat maupun sampai di tujuan. Miko turun dengan wajah pucat, dibantu oleh Sixth yang hendak istirahat. Mereka berjalan menuju rest area dan membeli minuman.
"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Sixth sambil membuka segel botol minuman.
"Aku kesini untuk menemukan teman lamaku. Sudah setahun lamanya, tapi kami tidak saling memberi kabar."
"Oh, ya? Temanmu itu seperti apa?"
Miko berpikir sejenak, "Orang yang polos, sentimental, dan sedikit bodoh."
"Hei, hei, kau tidak boleh berkata seperti itu—"
"Tapi, entah kenapa dunia memilihnya sebagai orang istimewa. Dia hidup tanpa mengetahui siapa orang tuanya, atau keluarganya. Benar-benar malang, tapi membuatku iri."
"Kenapa kau iri?"
"Karena... dia bisa hidup bebas, dan sanggup menyelesaikan masalah dengan cepat," Miko teringat situasi saat masih tinggal di apartemen lamanya.
"Dia pemberani, nekat melakukan apapun walau itu untuk orang yang baru dia kenal," Sekelebat ingatan saat Rave menyelamatkan Bill muncul di kepalanya.
Sixth terdiam sejenak. Kemudian dia menghabiskan minumannya tanpa bicara sepatah kata pun.
"Kalau begitu, selamat tinggal. Terima kasih sudah menemaniku sampai di kota ini," Miko menjabat tangan Sixth dan pergi meninggalkannya.
Tapi...
...---...
Jin sudah selesai membereskan barang-barang di kamar lamanya, di rumah orangtuanya. Tapi tidak seperti orang pada umumnya, Jin langsung menyalakan laptop kerjanya dan mengirim sebuah surel pada seseorang.
*Kapten, ini Sersan Jin Dalton. Saya sudah menginvestigasi tersangka.
"Bagaimana hasilnya*?" surel itu langsung mendapat jawaban.
Tepat seperti yang diduga. Target ditemukan. Saya akan mengirim data bukti dari pengamatan saya.
Jin mengirim sebuah folder dari laptopnya. Kemudian tidak ada surel lain yang muncul dalam 3 menit. Hingga...
"*Data telah dikonfirmasi. Kerja bagus, Sersan Jin. Dengan ini, kami akan mengirimkan Pasukan Artemis pada Alexander Rave. Sekian."
Senang bisa membantu, kapten*.
...---...
Seorang pria bertopi fedora hitam tengah membeli minuman dari Vending Machine di pinggir jalan. Dia memasukkan selembar uang 5 Grand dan memilih sekaleng bir.
Sekilas dia menatap berita koran lokal yang berisi Pasukan Artemis. Dia membacanya dari kejauhan dengan cepat karena tidak mau membelinya.
"Pasukan Artemis akan dikerahkan untuk mengamankan Distrik Barat hari ini. Salah satu kapten yang bertanggung jawab di Distrik tersebut akan memimpin kegiatan—"
"Hei, kalau kau mau membacanya, silahkan membelinya."
Rupanya pria itu ketahuan. Dengan cepat dia mengambil birnya dan segera balik badan. Meninggalkan loper koran yang memakinya.
...---...
"Eh? Bukankah itu..." Miko menatap sosok familiar di kejauhan. Sosok itu tengah menikmati kopi kalengan di dekat loket terminal.
"Rave? Kaukah itu?" Miko melambaikan tangannya.
Rave yang masih sibuk dengan pikirannya dan kopi itu tidak mendengar suara Miko yang seperti anak kucing. Dia bertanya pada penjaga loket, "Kapan foto ini diambil?"
"Sekitar 28 tahun yang lalu. Astaga, itu adalah koran dari redaksi terkenal pada masanya, Lawchest's. Dulu aku sempat bermimpi untuk bekerja disana, tapi itu mustahil."
"Kenapa?"
"Karena mereka sudah bangkrut sekitar 25 tahun yang lalu."
"Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah itu redaksi terkenal? Mustahil kehilangan pelanggan."
"Menghilang? Maksudmu diculik?"
"Beberapa memang berpendapat seperti itu. Tapi tidak masuk akal jika tidak ada tebusan. Setelah perusahaan itu bangkrut, para karyawan ditangkap karena dugaan kasus penggelapan uang. Yah, itu salah satu alasannya, sih."
Hmm... menarik. Ada banyak hal yang berkemungkinan memiliki hubungan dengan Projects. Aku harus lebih banyak mencari informasi. Setelah itu—
"Ternyata benar!" Rave terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak menyadari bahwa Miko telah berdiri dihadapannya, "Kau Rave, kan? Ini benar-benar kau, kan?"
Rave hanya meliriknya sekilas lalu kembali menyapu area terminal yang (lagi-lagi) kotor dan banyak sampah. Seolah itu bukan Miko.
"Hei! Jangan abaikan aku!" Miko menghentakkan kakinya. Rave berhenti menyapu dan menatapnya.
"Maaf, nona. Saya sedang bekerja. Atau barangkali nona ingin memberikan pekerjaan lain untuk saya? Ini kartu namanya. Hubungi kapan-kapan," Rave memberikan secarik kartu dari sakunya. Miko menerimanya dengan bingung dan entah kenapa, matanya langsung membaca kartu itu.
Bersikaplah seperti tidak saling kenal saat misi, karena itu bisa berbahaya—Sora
Miko paham dan langsung berkata, "Ah, baiklah. Maaf mengganggu anda. Kalau begitu, akan saya hubungi nanti."
Dibelakang kartu itu, ada nomor ponsel Rave. Miko mengetahuinya karena dia hafal kebiasaan Rave. Kemudian dia langsung menuju toilet terminal.
Toilet itu sepi. Keadaan yang bagus untuk berbicara penting. Miko masuk ke salah satu bilik dan menelepon Rave.
"Hei, kau! Apa yang kau lakukan disini? Apa-apaan dengan seragam dan sapu itu?! Bukankah kau bekerja di perusahaan atau semacamnya?!"
"Untuk orang yang baru datang, pertanyaanmu terlalu berantai. Perusahaan itu terbakar, aku keluar dan berakhir dengan bekerja di terminal ini sebagai petugas kebersihan. Apa yang kau lakukan disini, Miko? Apa kau tidak tahu berita itu?"
"Berita? Berita apa?"
"Pasukan Artemis akan menyisir distrik ini. Lebih tepatnya, mengkarantina hingga semua orang dinyatakan bersih dan bukan Projects. Kedatanganmu kesini sudah salah."
"Apa?! Padahal sebelumnya tidak ada yang seperti itu."
"Memang. Entah karena mereka mulai melakukannya secara rutin. Atau mungkin..."
"Apa?"
"Atau mungkin mereka sudah menyadari bahwa ada Projects di distrik ini."
Tut—
Panggilan berhenti begitu saja. Samar-samar terdengar suara sirine dari luar. Bukan sirine polisi, ambulans, atau pemadam kebakaran. Sirine bencana.
"Mereka sudah datang."
...---...
Pria bertopi itu tiba didepan terminal. Dihadapannya, Alexander Rave tengah berdiri tanpa gentar sedikitpun dan memasang wajah orang normal.
Dibelakang pria itu, ada beberapa truk berisi pasukan siap tempur dan persenjataan lengkap. Simbol Pasukan Artemis terukir dibadan setiap truk itu.
Pria itu berjalan mendekati Rave dan menjatuhkan kaleng birnya dengan sengaja. Lalu dia bertanya, "Apa kau orang yang bernama Alexander Rave?"
Tapi Rave tetap tenang dan malah menjawab, "Maaf, tuan. Tolong hormati saya yang sudah seharian ini menyapu. Sampah ini akan mengotori area terminal."
"Ah, maaf. Tapi, tolong hormati kami juga. Karena kami sudah melacakmu selama setahun. Sampah sepertimu akan menodai negara ini. Kutanya sekali lagi, apa kau orang yang bernama Alexander Rave?"
"Maaf, tuan. Kalau ingin mencari orang, anda salah tempat."
Pria itu terdiam sejenak, "Benar. Seharusnya aku tidak bertanya pada pemulung sepertimu. Hei, tanyakan pada pengurus terminal ini. Apakah ada orang bernama Alexander Rave, dan tolong tunjukkan yang mana."
Salah satu pasukan segera berlari menuju kantor terminal. Hening, bahkan burung tidak berkicau. Suara kendaraan dan bus berhenti seolah takut dengan ratusan pasukan terlatih disekeliling terminal.
"Itu orangnya!"
Rave langsung bereaksi dan memasang kuda-kuda, dia langsung membekukan area dalam radius 100 meter darinya. Suhu menurun drastis hingga tidak ada air yang tidak membeku.
Pria itu melompat mundur dan menahan ledakan angin beku dari Rave. Seluruh truk pasukan langsung membeku dan mati seketika. Atmosfer pertempuran langsung menguar dengan kuat.
"Ya, akulah Alexander Rave. Project 01, Ice Naraka!" kata Rave ditengah ledakan angin beku.
Dia sudah terpojok, dan inilah saatnya untuk berperang melawan dunia.