Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 3: Gedung Evakuasi



Hanya soal waktu mereka akan menerobos pintu ini. Orang-orang panik dan saling dorong untuk keluar dari pintu belakang.


"Rave, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Miko. Tangannya megang erat lengan kananku.


Aku sebenarnya cukup panik dan bingung dengan situasi ini. Saat itulah, tiba-tiba seseorang menarik lengan kiriku ke belakang. Aku dan Miko terseret hingga tiba di depan toilet.


"Sam?" aku terheran-heran melihatnya. Dia berpakaian seperti petugas kantor kota.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera pergi dari sini," kata Sam.


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Miko.


Sam melihat sekitar, lalu berkata, "Ikut aku ke rooftop."


Sam kembali menarik kami melewati orang-orang yang panik. Mereka berdesakan dan kadang sampai ada yang berkelahi. Akhirnya setelah beberapa lama, kami tiba di anak tangga yang sesak oleh wanita dan anak-anak.


"Permisi, kami mau lewat," kata Sam dengan sopan. Tapi sepertinya kesopanan perlu disingkirkan saat situasi seperti ini. Lihatlah, salah satu wanita tua maju dan menantang Sam.


"Apa yang mau kau lakukan? Di atas sudah penuh dan sesak. Sebaiknya kalian di lantai satu saja," kata wanita itu.


Sam mengeluh, "Nyonya, kami ada urusan di atas sana. Saya harus membawa suami-istri ini ke kantor di atas. Wanita ini sedang hamil"


Apa katanya? Suami-istri? Jadi itu alasan Sam memakai seragam petugas. Sepertinya Sam berhasil, wanita itu mengalah dan membiarkan kami lewat.


Beberapa langkah setelah keluar dari tangga yang sesak, aku bertanya pada Sam. Rencananya terlalu sempurna, seolah dia tahu yang akan terjadi.


"Sam, kau menyembunyikan sesuatu?" tanyaku.


Sam tidak menoleh, tapi dia tetap menjawab, "Apa maksudmu?"


Kami terus melewati orang-orang sepanjang lorong menuju tangga ke rooftop. Beberapa anak-anak di lorong ini menangis karena takut. Sepertinya mereka sudah tahu apa yang terjadi dibawah sana.


Kami akhirnya tiba di rooftop, dengan kondisi kewalahan. Langit malam yang memerah masih terlihat dari sini. Angin malam juga berhembus, membuat suhu di sekitar menjadi sangat dingin. Sam berjalan ke pagar kawat di pinggiran rooftop. Dia menatap kami berdua yang masih berdiri di depan pintu menuju tempat ini.


"Tutup pintunya, Rave. Jangan sampai ada yang masuk kesini," katanya dengan serius.


"Kau tahu apa itu?" tanya Sam, dia menunjuk pusat ledakan yang jaraknya sangat jauh dari tempat kami berada.


"Ledakan kimia, bukan?" jawabku. Miko hanya terpaku di tempatnya sambil menatap pusat ledakan.


"Bukan, itu adalah ledakan dari Projects," kata Sam. dia sepertinya memang tahu apa yang terjadi saat ini.


"Projects? Apa itu?"


"Projects adalah orang-orang yang memiliki kemampuan mengendalikan sesuatu. Singkatnya, mereka manusia super. Projects adalah percobaan rekayasa genetik milik pemerintah yang bertujuan untuk menyeimbangkan kehidupan di bumi. Sayangnya, salah satu Projects lepas kendali dan kabur meninggalkan fasilitas," kata Sam.


"Maksudmu, mereka meledakkan Distrik Industri?"


"Bukan mereka, tapi hanya satu orang"


"Kau tahu sesuatu tentang ini semua, bukan? Jelaskan padaku," aku memegang kedua bahu Sam dan menggoncangkannya.


Sam hanya menghela napas panjang dan berkata, "Kau masih belum ingat, ya? Dengar, Rave. Kau, aku, dan Miko, kita adalah Projects. Tapi hanya kau yang hilang ingatan setelah kejadian beberapa tahun yang lalu."


"Itu benar. Kami berdua membawamu pergi dari fasilitas setelah para ilmuwan di sana memutuskan untuk memusnahkan Projects," kali ini Miko yang berbicara.


Miko menunjuk pusat ledakan sambil menatapku, "Tempat itu adalah markas persembunyian Projects yang lepas kendali beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan mengecapnya sebagai 'Biohazard'. Karena kemampuannya untuk mengendalikan sel-sel makhluk hidup"


"Ada berapa Projects yang diciptakan pemerintah?" tanyaku.


"Ada sepuluh. Setengahnya menghilang entah kemana saat kita semua lari dari fasilitas. Semuanya memiliki kemampuan tertentu. Tapi beberapa masih dalam proses perkembangan saat itu."


"Kita harus pergi, Rave. Kota ini akan musnah seiring dengan waktu. Kau mau ikut atau tidak?" tanya Sam.


"Aku... ikut. Tapi, bagaimana caranya kita keluar dari sini? Tempat ini telah dikepung oleh makhluk-makhluk itu."


"Creeper, begitulah namanya. Aku sudah menghubungi dua Projects lain. Katanya mereka akan tiba di sini dalam waktu setengah jam. Jadi selama itu, tetaplah hidup."