
"Disana. Itu apartemen kami," aku menunjuk ke sebuah bangunan yang sudah rusak sebagian di kejauhan sana. Mungkin karena kejadian wabah.
Kami segera berlari kesana. Berharap Miko masih ada dan tidak pergi ke tempat lain. Sesampainya di depan pintu, kami menyadari bahwa pintu itu sudah didobrak. Entah oleh siapa.
Bill membuka pintu yang setengah terbuka dan masuk, diikuti oleh kami. Didalam cukup gelap, tapi kami sedikit terbantu oleh cahaya bulan.
"Aku merasakan Energi Mathanus, walau sedikit. Dari sana," Sam menunjuk ke sebuah pintu. Bill menelan ludah, lalu mendekati pintu itu.
Suasana semakin tegang saat kami mendengar suara geraman dari balik pintu. Kami saling pandang. Apa mungkin itu adalah mutan yang lolos?
Sora mengangkat tiga jarinya, menghitung mundur. Lalu pada hitungan ketiga, Bill mendobrak pintu sambil berteriak.
Kami semua berteriak, begitu juga dengan Miko yang meringkuk di lantai. Sam menampar Bill agar diam. Kami menemukannya, Miko segera bangun dan menatap kami dengan heran.
"Bagaimana kalian menemukanku?" tanya Miko.
"Menemukan seorang mahasiswi berumur 18 tahun tidaklah sulit. Ayolah, kau meninggalkan banyak jejak salju dibawah jendela," kata Sora.
"Sora..." Miko langsung memeluknya sambil menangis, "Maafkan aku. Aku terlalu terbawa emosi dan meninggalkan mansion. Maaf membuat kalian repot dan menjemputku"
"Sebenarnya—" Sora melepaskan pelukan Miko dan menjauh selangkah, "Kami kesini bukan hanya untuk menemukanmu"
"Hah?" Miko bingung. Kami juga. Entah apa yang dipikirkan Sora, tapi dia selalu merencanakan hal lain diluar pemikiran orang normal.
...---...
"2 hari ini aku terus memikirkan kalimat David," Sora menunjukkan layar laptopnya.
"'Panah kayangan' yang dimaksudnya adalah sebuah kiasan dari seseorang. Beberapa periode yang lalu, walikota Reverie pernah mengatakan hal itu. Dia mengatakannya saat berada di depan taman kota, saat berkencan dengan seorang wanita yang sangat cantik.
"'Kau memang menawan. Hatiku bagaikan dipanah oleh bidadari dari kayangan sana' itulah yang dikatakan walikota. Lalu, kalimat David yang mengatakan bagian 'Panah kayangan jatuh ke bumi' adalah saat dimana walikota bertemu dengan wanita itu. Tempat itu adalah—"
Sora menunjukkan sebuah foto dan lokasi di layar laptopnya, "Valiant's Cafe. Disanalah kita bisa menemukan lokasi Mathanus Laboratory"
"Valiant's Cafe? Bukankah itu..." Bill menghentikan kata-katanya.
"Alaster Brown?" aku terkejut, seolah pernah mendengar nama itu.
"Besok pagi, kita akan pergi kesana. Aku sangat yakin, kebenaran tentang kita akan segera terungkap," Sora menyimpan kembali laptopnya.
"Tunggu, apa mungkin..."
"Ada apa, Rave?" tanya Laura. Mereka semua menatapku.
"Apa mungkin data itu yang diincar oleh Nine?"
"Nine? Mustahil, kelompok Resistance tidak bisa lolos dari pemeriksaan tentara," Bill menyanggah.
"Mungkin saja. Kelompok itu... mungkin sudah ada di kota ini sebelum wabah muncul. Tentara pasti hanya meminta kartu identitas dan tidak teliti saat memeriksa daerah mencurigakan," Sora membuka kopi kalengan yang dibelinya.
"Pokoknya, besok kita akan pergi kesana. Bill, kami mengandalkanmu. Amankan kami dari Nine jika kabar itu benar. Kau masih bisa menahan peluru tank, bukan?" Sora tersenyum melihat Bill.
"Ya, bahkan rudal sekalipun tidak akan bisa menghancurkanku. Kalian bisa mengandalkanku jika bertarung," Bill meneguk bir kaleng. Kupikir dia hanya membual karena mabuk. Tapi wajahnya begitu yakin.
"Baiklah, saatnya istirahat. Bill dan aku, akan tidur di apartemen Rave. Miko, Laura, dan Sam akan tidur disini. Kita butuh istirahat untuk rencana besok," Sora beranjak dari sofa dan melangkah keluar.
Aku menatap Miko dan berkata, "Kerja bagus. Kau sudah semakin dewasa, Miko."
Aku dan Bill mengikuti Sora. Saat sudah keluar dari unit milik Miko, entah kenapa aku tersenyum. Bill sekilas melihat wajahku.
"Hahaha... ada yang jatuh cinta disini. Kau tidak berpikir untuk berpacaran dengan seorang gadis seperti dia, kan?"
"Mungkin. Kami sudah mengenal dan dekat sejak dulu. Sam juga pernah bilang kalau kami adalah teman sejak kecil"
"Ah... kau tidak ingat, ya?" kami tiba di depan pintu unitku. Kuncinya sudah dijebol, pasti ada pencuri saat aku pergi jauh. Saat kami masuk, Sora sedang menatap kejauhan dari balkon. Samar-samar aku mendengar kata-katanya.
"Besok... aku bisa melihat Alaster lagi. Sudah lama sekali aku berpisah dengannya, Project 05"