
Hutan Nekros adalah salah satu hutan yang berada diantara Kota Chandler dan Reverie. Hutan yang menurut penduduk sekitarnya adalah hutan keramat ini menjadi rute bus yang ditumpangi oleh Miko.
Sialnya, hutan ini sangat luas. Lebih sial lagi bagi Miko, karena hutan ini terkesan horor saat malam hari. Pemerintah tidak begitu mengusik hutan seluas 35 KM² ini karena merepotkan. Bahkan mereka tidak melarang penebang liar disini.
Dan disinilah Miko berada. Didalam bus yang berisikan 10 penumpang, supir, dan 2 kondektur. Cukup sepi untuk bus dengan 25 kursi.
Miko duduk sendirian di kursi barisan ke-3 sebelah kanan, dimana dia bisa menyendiri dan mendengarkan musik. Sesekali dia memejamkan matanya untuk menghindari pemandangan hutan yang gelap dan mengerikan.
Seharusnya aku naik bus saat pagi hari!
Miko tidak mengantuk malam itu, karena cemas dan takut. Sebenarnya sikap Miko yang penakut ini disebabkan oleh ayahnya yang suka bercerita horor saat dia kecil. Hal paling mengerikan baginya saat itu adalah rumah hantu di taman bermain.
"Kau takut, nona kecil?" penumpang dibelakang Miko bertanya. Seorang pria dengan gaya pakaian koboi. Tinggi badan Miko memang tidak sesuai dengan rata-rata orang seusianya, wajar kalau orang lain salah mengira.
"Hei, apa kau punya permen karet?" orang itu bertanya lagi. Kali ini dia memajukan kepalanya hingga bersebelahan dengan Miko.
"Tidak."
Siapa dia?
Orang itu mengangguk-angguk sebelum kembali ke posisi duduknya lagi. Miko kembali berusaha untuk tidur, mengikuti sebagian besar penumpang lain. Beberapa menit kemudian, hujan turun. Membuat keadaan semakin seram, bagi Miko. Petir sesekali menyambar, membuat langit menjadi terang sejenak, sebelum gelap kembali.
"*Kau tahu, nak? Konon, hujan adalah tangisan roh leluhur. Mereka berduka atas kematian orang-orang baik," kata David.
"Tapi, ketika petir muncul, artinya mereka tidak berduka. Mereka kecewa terhadap orang jahat, lalu mereka membuang rohnya ke bumi. Untuk menjadi hantu—"
Sial! Kenapa aku teringat cerita itu*?!
Miko berkeringat dingin saking takutnya. Suara musik dari headsetnya seperti mengecil. Menyisakan suara hujan diluar.
"Ponselmu mati." kalimat itu membuat Miko membuka mata. Pria itu menawarkan powerbank padanya.
Dengan ragu, Miko menerimanya dan mengisi ulang daya ponselnya. Beberapa saat kemudian, dia bertanya pada pria itu.
"Anu, siapa namamu?"
"Namaku? Kau bisa memanggilku Sixth."
"Powerbank ini... apa ini untukku?" tanya Miko, karena benda itu terlihat mahal dari penampilannya.
"Ambil saja. Kau terlihat seperti menghindari suara hujan."
"Aku suka hujan. Konon, hujan adalah saat dimana dewa merawat bumi. Dia menjaga hutan agar tidak kering, membasahi tanah agar tidak gersang, dan memberi minum makhluk yang haus."
Mereka terdiam, karena tidak tahu apalagi yang harus dibicarakan. Akhirnya, pembicaraan itu berhenti begitu saja. Miko tertidur nyenyak dan nyaman.
...---...
Kota Reverie
Rave kini kembali menjadi tunawisma, karena Jin tidak bisa membayar sewa dari bank. Rumah itu disita dan Jin harus pulang ke rumah orangtuanya.
Hidup itu keras, Rave membuktikannya dengan bekerja di terminal bus. Bukan menjadi penjaga loket atau semacamnya. Tapi dia menjadi petugas kebersihan, yang merupakan pekerjaan tersulit di tempat umum. Hari pertama dia bekerja, rupanya dia tidak bisa istirahat karena sampah terus muncul setiap ada penumpang datang kesana.
Sial, hari ini Pasukan Artemis datang. Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini, lalu mendapat uang untuk pergi sejauh mungkin.
"Hei, kau dengar? Katanya beberapa Pasukan Artemis akan datang kesini," kata penjaga loket pada Rave.
"Oh, ya? Apa yang mereka inginkan dari kita?" Rave mencoba tenang walau dirinya gentar.
"Entahlah, mereka berkata tentang Projects atau semacamnya. Astaga... padahal terminal ini tidak pernah dikenai kasus apapun, walau pencurian sekalipun."
Rave terdiam sejenak, "Sudah berapa lama kau bekerja disini?"
"Sudah lama. Bahkan saat terminal ini masih berupa pangkalan delman. Dulu aku masih menjadi kusir, tapi tubuhku sudah tidak kuat dan akhirnya menjadi penjaga loket."
Pangkalan delman? Artinya sudah 30 tahun. Bahkan sekarang tidak ada orang yang tertarik belajar menunggangi kuda.
"Tapi walau sudah tua, aku masih bisa mengingat dengan jelas masa laluku. Contohnya saat negara ini masih berperang. Itu memang—"
Rave tidak begitu mendengarkan perkataan penjaga loket tua itu, hingga ceritanya sampai pada bagian, "Berita tentang musuh yang menggunakan teknologi alien."
"Teknologi... alien?"
"Ya, katanya mereka bisa mengendalikan barang-barang disekitar. Bahkan mereka mampu mengubah baja mentah menjadi tank dalam waktu singkat."
Tidak mungkin. Printer 3D masih belum ditemukan saat itu.
"Aku masih punya foto beritanya. Sebentar," penjaga loket merogoh dompetnya dan mengeluarkan potongan koran yang sudah lusuh.
Rave menatap foto itu dengan seksama. Tapi, entah kenapa pandangannya langsung terpaku pada wajah seseorang. Wajah Bill Clinton.