
"Omong-omong, kau belum pernah bercerita tentang dirimu. Darimana kau berasal?" tanya Jin.
"Entahlah. Aku sudah melupakan tempat itu. Lebih tepatnya, seseorang membuatku melupakannya," Rave dan Jin kini tiba diujung ruangan. Hanya ada sebuah pintu disana, terbuat dari baja dan telah membeku.
"Yap, pintu belakang. Sudah kuduga ada disini," kata Rave.
"Huh... tapi pintu ini membeku. Dan kurasa sudah lama sekali tidak dibuka"
Rave melirik setumpuk kotak kayu disebelah pintu itu. Kemudian dia membukanya, dan bersiul. Sebuah palu besar tergenggam di tangannya.
"Palu? Kau mau menghancurkan pintu ini?" tanya Jin.
"Hei, ini mudah. Sebuah benda akan lebih mudah hancur jika strukturnya menjadi kaku," Rave bersiap mengayunkan palunya.
"Teori siapa itu?"
"Temanku. Yah... mungkin dia sudah mati saat ini," Rave mengayunkan palu berat itu.
Brak!
Pintu itu bergeming. Rave menatapnya tidak percaya. Jin menepuk pundaknya, "Temanmu mungkin tidak sekolah, atau mungkin dia kurang menjelaskan teori itu."
"Hah... sialan. Jadi apa rencanamu, jenius?" tanya Rave. Dia meletakkan kembali palu itu ke dalam kotak.
Jin duduk diatas kotak itu dan berkata, "Menunggu bantuan datang."
...---...
1 jam kemudian
"Sudah satu jam. Kau masih kuat dengan suhu ini?" tanya Rave. Dia menatap Jin yang sudah mulai bergetar karena dingin.
"Kenapa tidak kau berikan saja jaket itu?"
"Hah? Karena... kau bau keringat. Aku tidak mau meminjamkannya jika tidak dicuci, nanti aku bisa dimarahi pihak yang berwenang karena membuat jaket ini bau."
"Sial! Cepat berikan saja, Rave!" Jin beranjak dari duduknya dan mulai memperebutkan jaket itu.
"Tidak! Aku tahu kebiasaanmu yang tidak bertanggungjawab atas barang yang kau pinjam. Kau pernah mematahkan pensil kerja Charles dan tidak menggantinya karena mahal!" Rave berlari menjauh, menyusuri lorong yang terbuat dari balok es.
"Rave!" Jin berusaha mengejarnya, "Kumohon! Aku bisa mengidap Hypothermia jika kau tidak meminjamkannya!"
"Tidak akan! Setidaknya jika kau bisa mengganti biaya cucinya," Rave tertangkap, tapi dia segera mengencangkan jaket itu hingga resletingnya tercabut. Jin dan Rave berhenti berebut dan menatap resleting jaket yang telah rusak itu.
"Hah? Enak saja. Cepat berikan!"
Duar!
Sebuah suara ledakan yang berasal dari luar kembali menghentikan mereka. Suara orang panik dan benda yang berjatuhan membuat mereka saling pandang.
"Apa? Ada apa diluar?"
Rave menatap Jin yang menerawang langit-langit ruangan, "Mana kutahu. Jika ada ledakan diluar, kita tamat. Tidak akan ada orang yang mengecek ruangan ini dan menjemput kita."
Blar!
Langit-langit ruangan beku itu runtuh sebagian, menimpa balok-balok es yang hancur seketika. Terdengar suara ledakan dan sirine dimana-mana.
"Hah, kau bisa memanjatnya?" tanya Rave. Jin mengedikkan bahunya.
"Entahlah, coba saja"
"Oke, pinjamkan bahumu. Aku akan naik duluan," kata Rave. Jin langsung menolak dengan tegas.
"Aku duluan! Aku sudah kedinginan disini! Naikkan aku!"
"Hah? Tubuhmu lebih besar, Jin! Aku duluan!"
"Tidak, aku!"
"Aku!"
"Diam kalian!" teriakan dari atap diatas mereka menghentikan pertengkaran. Terlihat seorang wanita berpakaian seperti petugas hendak menurunkan tangga.
"Kau yang diam! Memangnya kau siapa? Ayo, Jin! Aku duluan, ya? Nanti kutraktir makan di restoran pinggir jalan," desak Rave.
"Restoran? Kau sendiri tidak pernah membeli makanan di kedai. Bagaimana mungkin kau akan mengajakku ke restoran?"
"HEI! CEPAT NAIK TANGGANYA ATAU KU ANGKAT KEMBALI, DASAR ORANG-ORANG BODOH!"
kata petugas itu.
"Kau yang bodoh! Kami tidak butuh tangga ini!" Rave menendang tangga itu hingga terjatuh, "Kami punya cara lain!"
Jin menatapnya dengan tidak percaya, "Kau... itu tangga penyelamat! Tiket untuk keluar dari sini!"