Alterin Saga: Biohazard

Alterin Saga: Biohazard
Episode 27: Pulang



Kota Chandler, 100 KM Timur Kota Reverie


Miko tengah melayani pelanggan di sebuah restoran cepat saji ketika salah satu rekan kerjanya mendekat dan berkata, "Manajer memanggilmu di kantor."


"Kalau begitu tolong urus sisanya," Miko menepuk pundak rekannya dan berjalan meninggalkan barisan pelanggan. Setelah berjalan beberapa langkah, dia mengetuk pintu berwarna biru di hadapannya. Ruangan manajer tempat dia bekerja.


"Masuk saja."


Miko membuka pintu dan masuk menghadapi wanita yang menjadi momok bagi para karyawan restoran.


"Anda memanggil saya?"


"Tentu saja, bodoh! Kalau tidak, tak akan kubiarkan kau masuk ke ruangan ini!" wanita itu menyalakan rokoknya dan mengisap sekali, kemudian menghembuskannya ke wajah Miko.


"Kudengar kemarin kau membuat keributan di dekat sini," kata manajer. Miko hanya terdiam karena itu benar sekaligus salah.


Brak!


"Jawab!" manajer menggebrak meja, dan itu membuat Miko terkejut dan kikuk.


"Eh... begitulah."


Padahal hanya ingin membantu...


"Kau tahu? Aku sudah muak dengan sikapmu yang sok itu. Karena ulahmu, stok daging ayam kita kurang! Kau mau tanggung jawab, hah?!"


......---......


Kemarin


Miko sedang istirahat di luar, lebih tepatnya di dekat pintu belakang restoran yang becek dan licin. Hari ini, truk yang membawa daging tiba di restoran. Supir truk yang terburu-buru segera mendatangi Miko dan memintanya untuk menandatangani struk pengiriman.


"Eh? Tapi..."


"Sudahlah, tanda tangan saja. Ada banyak yang harus kuantar hari ini," supir itu menyodorkan pena dan sebuah kertas. Dengan ragu, Miko menandatanganinya. Kemudian supir itu langsung menaiki truknya kembali dan segera pergi.


Miko menatap tumpukan kotak berisi daging mentah di hadapannya. Entah apakah restoran ini memang laris akan hidangan dagingnya atau salah kirim, yang pasti kotak ini terlalu banyak.


Total kotak yang diterima adalah 8, yang biasanya hanya ada 6. Miko berteriak ke dalam, "Hoi... ada kiriman daging."


Tak ada yang menjawab. Miko berjalan ke ruang istirahat dan tidak menemukan siapapun disana. Akhirnya, dengan terpaksa Miko mengangkut kotak-kotak itu ke freezer.


Miko adalah gadis yang ceroboh. Dia membawa 3 kotak sekaligus, dan hasilnya bisa ditebak. Miko terpeleset dan 3 kotak itu menimpanya sebelum rusak dan isinya berhamburan.


"Sial... aku bisa dimarahi!" Miko menatap sekitarnya, "Tidak ada siapapun. Sebaiknya aku pura-pura sakit dan pulang lebih awal."


...---...


Tapi, wanita memang tidak suka mengalah. Terutama yang masih muda, "Eh... tapi kamera itu kan tidak merekam wajahku."


"Aku sudah menanyakan supirnya. Gadis usia 20 tahunan dengan rambut putih abu. Tidak ada karyawan dengan ciri-ciri seperti itu selain kau."


"Bisa saja itu pelanggan. Atau mungkin saingan yang menyewa orang seperti itu."


Manajer terdiam, lalu dengan kesal menggebrak meja. Miko semakin ketakutan dan tidak berani menatap wajah manajernya.


"Masih mau mengelak? Gadis, 20 tahun, Rambut putih abu, seragam karyawan, ceroboh, suka bolos kerja, dan suaranya seperti anak kucing! Mulai hari ini—"


"Jangan! Kumohon jangan pecat aku... akan kuganti biayanya. Aku janji."


"Mengganti biaya? Dengan apa? Kau bekerja disini, mendapat gaji dari sini. Itu sama saja dengan melempar bola ke atas. Kau dipecat."


Sialan!


...---...


Miko sekarang berada di sebuah halte bus. Mencari pekerjaan itu sulit. Apalagi tanpa pengalaman yang cukup. Setelah dipecat dari pekerjaannya, tidak ada tempat lain baginya selain Rave.


Mungkin aku bisa menemukannya disana.


Tagihan sewa apartemennya juga sudah menumpuk. Miko kembali teringat saat masih tinggal di Kota Reverie. Setiap bulan, ayahnya mengirimkan sejumlah uang untuknya. Walau dia tidak begitu mengerti tentang pekerjaan ayahnya saat itu. Tapi kini, dia hidup sendiri. Ayahnya telah meninggal dan tidak ada yang bisa menjamin kehidupannya selain dia sendiri.


"Hah... kalau saja aku ikut salah satu dari mereka. Mungkin aku tidak akan kesusahan," gumamnya.


"Apa yang kau bicarakan, anak muda?" Miko menoleh, seorang kakek tua duduk disebelahnya dan menatap Miko.


"Apa kau mengalami kesulitan di kehidupanmu?"


Miko hanya terdiam, walau dalam hatinya dia mengiyakan pertanyaan kakek itu.


"Hidup ini singkat, nak. Ada banyak sekali masalah, besar atau kecil. Tapi itu tidak masalah selama kau masih sanggup menjalaninya. Dulu, saat negara Flemington masih berperang, hidupku sangat susah. Pemerintah selalu berkata akan memakmurkan rakyat, tapi sebenarnya mereka memakmurkan diri. Terlalu berambisi, membuat kehancuran dimana-mana. Mereka menuai harta dari rakyat, lalu sebagian kecil diberikan pada rakyat lain.


"Aku sendiri harus menafkahi keluarga dengan menjadi relawan perang. Masalah datang saat kami menghadapi musuh yang sangat kuat."


"Musuh kuat?" Miko sedikit tertarik dengan ceritanya.


"Ya. Ada rumor yang mengatakan bahwa musuh menggunakan teknologi alien. Entah bagaimana caranya, seluruh senjata dan kendaraan tempur kami rusak. Lalu dengan anehnya, benda-benda disekitar kami bergerak sendiri dan menyerang kami. Aku selamat karena bersembunyi di bawah parit. Saat aku mengatakannya pada atasan, mereka tidak percaya dan menganggapku gila. Mereka memecatku dan beberapa tahun setelahnya, Flemington menang."


Kakek itu tidak menyadari bahwa Miko sudah pergi beberapa saat yang lalu. Dia sudah menaiki bus dan berangkat menuju Kota Reverie dengan satu pertanyaan besar.


Mungkinkah itu adalah Nine?