
Seorang wanita tampak merenung di atas sebuah ayunan yang dibuat di pohon mangga taman belakang rumahnya. Di tangannya terdapat sebuah syal biru dengan tulisan Tripel A di ujung syal biru itu. Wanita itu terlihat tengah memikirkan sesuatu, terlihat dari raut wajahnya yang kebingungan.
"Kenapa Ayahmu harus datang di hadapan Mama, Sayang?" ucap wanita itu mengelus perutnya yang sedikit tampak membuncit, walaupun usia kandungannya baru sebulan lebih tampaknya perkembangan janinnya sangat cepat.
"Apa yang haru Mama berikan pada Ayah?"
"Apa Mama harus pulang?" tanya wanita itu bermonolog.
Ingatannya kembali terlempar pada kejadian di pinggir pantai pagi tadi. Awalnya Aura berniat berolahraga ditemani deburan ombak, namun bukannya berolahraga ia justru bertemu dengan seseorang yang paling ingin ia hindari saat ini.
Flasback On
"Kita harus bicara!" ujar Ares ksmbali. Sudah kesekian kali ia mengatakan hal itu, sehaarusnya bila ia ingin mengstakan sesuatu ya lansung saja bicara toh ia akan mendengarkan.
"Apa lagi?" tanya Aura dengan raut wajah kesal.
"Tidak di sini!" ujar Ares dengan raut wajah yang tampak berantakan, entah kemana tatapan penuh ambisi yang malam itu ia lihat.
"Di sini atau tid-akh!" pekik Aura begitu merasakan rasa nyeri di bagian perut bawahnya. Rasanya aada yang menusuk dari dalam, perih dan panas.
"Sttt, tenang Sayang!" ujar Aura tanpa sadar mengelus perutnya. Tingkah Aura barusan tak luput dari pandangan Ares. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang dan rasanya ada segerombolan kupu-kupu yang terbang di perutnya. Ia bahagia.
Tanpa Ares sadari tangannya bergerak sendiri menyentuh perut Aura, membuat Aura tersentak kaget. Namun secara ajaib rasa sakit yang ia rasa berangsur-angsur menghilang selaras dengan usapan Ares.
"Apa lebih baik?" tanya Ares dengan suara yang lembut. Rasa bahagia itu masih melingkupi dirinya.
Berbagai pertanyaan hinggap di kepala Ares. Apa Aura tengah mengandung? Apa itu anaknya? Apa benar dugaannya terwujud?
"Lepas!" seru Aura begitu Ares menggenggam tangannya dengan tangannya yang lain.
"Jawab pertanyaanku, apa kau sedang hamil? Apa itu anakku?" tanya Ares dengan mata yang menatap lurus ke arah Aura.
Tubuh Aura seketika menegang begitu mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Ares. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"A-apa maksudmmu!" seru Aura semakin meronta-ronta dalam cengkraman Ares.
Melihat hal itu Ares tentu saja di buat marah apalagi saat ia ingat Aura sempat meringis tadi. Dengan tanpa aba-aba Ares menggendong Aura menuju mobilnya, mengabaikan segala macam rontaan Aura.
"Diam atau kau akan melukai bayi kita!" seruan Ares barusan berhasil menghentikan gerakan Aura. Seketika Aura mengarahkan kedua tangannya pada perutnya seolah-olah takut hal itu terjadi.
Tanpa sadar Ares dibuat tersenyum bahagia hanya karna melihat ekspresi Aura yang sedikit ketakutan dan cemas. Sebegitu sayangkah Aura pada anaknya, tapi apa benar itu anaknya?
"Kumohon jujur padaku Aura, kau hamil anakku kan!" ujar Ares dengan raut pilu di wajahnya yang entah kenapa membuat Aura merasakan sakit di ulu hatinya. Tidak, ia tak boleh kalah.
"Bukan!" jawa Aura dengan mata yang terlihat gelisah, membuat Ares yakin bahwa Aura tengah berbohong.
"Menikahlah denganku!" ujar Ares menatap dalam Aura yang duduk di sampingnya.
"Kau pasti bercanda. Tidakkah kau ingat perbuatan bejatmu?" cela Aura menatap marah Ares, namun hal itu tak bertahan lama sebelum ia kembali meringis merasakan sakit.
"Akh," pekik Aura membuat Ares menatap khawatir ke arahnya.
"Sayang, jangan seperti itu. Maama hanya bercanda, ia akan menikah dengan Papa!" bisik Ares di depan perut Aura yang sedikit menonjol membuktikan bahwa ada kehidupan di dalamnya.
"Ku mohon pertimbangkan semuanya, Ra. Demi anak kita, kau lihat bagaimana responnya begitu bertemu denganku?" ujar Aares kembali mencoba mendapatkan Aura. Kali ini ia harus mendapatkan Aura dengan cara lembut.
Kening Aura berkerut, dengusan meluncur di bibir pinknya,
"Bagaimana kau yakin ini anakmu? Bisa saja kalau...
"Kau tak akan melakukan hal bodoh. Aku tahu aku yang pertama dan terakhir!" potong Ares menatap lembut Aura.
"Aku tahu," ujar Ares dengan kening yang ia tempelkan pada kening Aura. Ia tatap mata biru yang ia rindukan.
"Dan kau harus tahu satu hal bahwa Granpa dia..."
Ucapan Ares selanjutnya menjadi alunan pengiring kematian di telinga Aura. Bolehkah ia menangis sekarang? Ia merasa berdosa dan bodoh saat ini. Bagaimana mungkin ia tak mempercayai kakeknya sendiri? Bagaimana mungkin.
Tangisan Aura pecah di bahu tegap Ares. Kali ini bukan sebagai bahu dari alasan tangisannya tetapi bahu yang menjadi sandarannya.
Flasback Off
Sekarang ini Aura tengah berfikir apa ia harus menerima lamaran Ares barusan atau tetap pada pelariannya. Jika ia pulang maka ia akan ingat kejadian malam itu dan lagi ia belum siap untuk melukai Kevin, pemuda yang masih ia cintai. Jikalau ia tetap pada pelariannya maka ia akan di rundung rasa bersalah seumur hidupnya. Lantas ia harus pilih yang mana.
"Anakmu juga anakku, jangan ingat dari mana ia berasal ingat saja bahwa kau akan menjadi seorang ibu. Akan ada malaikat di antara kita!"
Kalimat itu, ia ingat betul bahwa kalimat itu di lontarkan seorang pemuda yang kini selalu ada di sisinya. Haruskah ia pergi meninggalkannya? Tapi apakah benar ia bisa menerima anak daari pria lain, ia tak akan bisa.
"Maaf, Rei!" guman Aura dengan buliran jernih yang mengalir di pipinya. Keputusan sudah ia ambil, ia harap ini benar.
Note: Menurut kalian cerita Alanta nih gimana? Jawab ya di comen soalnya Aura pengen tahu:)