Alanta

Alanta
Dua Puluh Enam



   SMA Nusa Bangsa di buat gempar akan berita kepindahan Aura yang jelas saja rekayasa William guna menutupi kabar hilangnya Aura. Tak hanya itu sehari setelah kabar tentang Aura berhembus, terdengar bahwa Rei ikut pindah dan kabar itu sudah dikonfirmasi oleh pihak sekolah.


    Namun di balik kabar yang beredar itu, terdapat sebuah rahasia dengan segudang teka-teki yang berusaha di pecahkan oleh William dan yang lainnya.


"Nggak mungkin Kak, Rei nggak mungkin nyembunyiin Aura!" ujar Getta.


   Saat ini William serta Biru dan yang lainnya tengah membahas kecurigaan mereka akan keterkaitan kepindahan Rei dan hilangnya Aura, bahkan keluarga Arespun turut hadir di kediaman Jackson.


"Tapi ini nggak mungkin cuman kebetulan, Ta. Terlalu aneh dan janggal!" celetus Key membalas ucapan Getta.


   Memang semua yang terjadi tepat setelah kepergian Aura terasa amat janggan. Bagaimana tidak janggal, bila tepat setelah mereka pergi ke apartemen Rei pemuda itu di kabarkan pindah sekolah dan yang paling parah tak ada satupun yang dapat menghubungi pemuda itu.


"Apa yang Key bilang bener," seru Aldi setelah berfikir cukup lama.


"Kalaupun ini emang bukan kebetulan, setidaknya aku bersyukur sebab Aura berada di tangan yang benar!" ujar Ayu menatap sinis ke arah lampu yang menggantung di atas kepala mereka.


   Tatapan penuh tanya dan juga bingung terlihat jelas tanpa bisa ditutupi oleh mereka yang mendengarnya kecuali Ares yang terlihat membuang pandangannya, membuat Ayu yang melihat hal itu berdecak kesal.


"Apa maksudmu, Yu?"


"Hah? Bukan apa-apa, hanya menyampaikan pendapat lagi pula tampaknya Ares dan juga Granpa paham akan apa yang ku maksud. Bukan begitu?" ujar Ayu dengan senyum manis di bibirnya.


   Hawa mencekam terasa menguar entah dari mana. Tak ada yang berani mengeluarkan suaranya, semua sibuk akan pikiran mereka masing-masing.


"Ah, rasanya aku muak berada disini jadi aku pergi dulu nee," seru Getta tiba-tiba membuat semuanya terlonjak kaget, bukannya merasa bersalah ia justru tampak mengangjat bahunya acuh sebelum berlalu begitu sana mengacuhkan tatapan pringatan yang Biru layaangkan padanya.


"Aku juga," seru Ayu setelah berhasil mendorong jauh kursi yang ia duduki. Segera ia susul langkah Getta yang hampir mencapai pintu.


"Kalian mau kemana?" tanya Key menatap keduanya dengan raut wajah frustasi. Ia tahu bahwa keduanya tengah kecewa berat, tapi tingkah mereka saat ini benar-benar tidak sopan.


   Mendengar pertanyaan dari Key, Getta dan juga Ayu terppaksa beerhenti. Sepersekian menit keduanya terdiam hingga, Getta memutuskan berbalik menghadapa Key dan lainnya, mengabaikan tatapan tajam Ares yang tampak bergejolak marah.


"Ke nerakan, siapa tahu akau menemukan iblis yang mau membantuku mencari Aura dengan tumbal dua iblis lainnya!" ujar Getta dengan seringai di bibirnya.


"Getta!" bentak Biru. Cukup, ia tak akan membiarkan Getta berbicara lebih jauh dari pada ini.


   Rober, Eros dan Farhan tampak menatap datar perdebatan dihadapan mereka. Tak ada niat untuk marah ataupun membela Ares sebab itu buah dari keegoisan Ares sendiri.


Dengusan kasar Ayu hembuskan,


"Jika kau masih membela mereka, maka jangan harap kau dapat melihat kami berempat Biru, Key dan kau Aldi!" ujar Ayu menatap datar mereka.


   Tepat setelah mengatakan hal itu, Ayu dan juga Getta memilih bergegas pergi meninggalkan tempat yang entah kenapa terasa menyakitkan bagi keduanya. Terbesit bagaimana jeritan Aura pada malam itu, malam yang menjadi petaka bagi sahabat mereka.


"Kenapa jadi begini?" ujar William mengacak suarainya yang perlahan memutih. Nyaris sebulan mereka melakukan pencarian dan fak membuahkan hasil secuilpun seakan-akan setiap pergerakan mereka selalu diketahui Aura.


"Sabar, Will!" seru Robbert. Memang mudah mengatakannya, namun ia tahu melakukannya tak semuda itu. Semua telah mereka lakukan, mulai dari meretas semua cctv yang ada di kota ini, memeriksa semua jadwal penerbangan, kereta bahkan kapal. Hanya saja semuanya tak membuahkan hasil.


"Bagaimana aku bisa sabar, Robert?" ujar William membanting guci yang ada di samping foto dirinya dann Aura dalam kelulusan sekolah menengah pertama cucunya itu.


Semuanya tentu saja di buat terkejut menyaksikan bagaimana guci mahal itu berakhir berserakan di lantai. Tidak cucu, tidak kakek sama-sama suka menghancurkan barang ketika marah. Untung saja mereka berasal dari keluarga kaya kalau tidak, apa yang akan mereka hancurkan. Pohon?


"Mereka hanya sedang kecewa!" ucap Mayang dengan tatapan sayu di matanya. Ia paham betul bagaimana perasaan Aura saat ini, tidaklah mudah menghadapi semua ini dengan tekanan yang terus William lakukan padanya. Hanya saja mereka masih beruntung bila Aura hanya pergi ke tempat lain namun masih memmijak di bumi yang sama, ia hanya takut Aura pergi. Pergi dari dunia ini, ketempat yang tak dapat mereka datanngi selain setelah kematian.


"Apapun akan ku lakukan asal Aura di temukan, termasuk membatalkan pertunangan ini," ujar William memeluk erat bingkai foto yang itu. Mata itu tampak mengembun, di selubungi cairan kristal yang siap tumpah.


"Tidak!" bentak Ares membuat William menatap kosong ke arah pria yang telah membuat cucunya pergi, pergi lagi darinya.


Bught


"Ares!" pekik Mayang begitu mendapati putra bungsunya terkapar di lantai setelah mendapatkan pukulan dari putranya yang lain, kakak Ares. Eros.


"Apa yang kau lakukan, Kak?" bentak Ares menatap marah sang kakak.


   Robert dan Farhan memilih memalingkan pandangannya dari dua kakak beradik itu. Mereka lelah, sungguh. Niat hati ingin memiliki calon menantu yang menarik hati keduanya yang kini justru terancam gagal karna kecerobohan Ares. Marah pun rasanya percumah.


"Apa yang ku lakukan?" ujar Eros membuat Biru, Aldi dan juga Key beranjak dari duduknya bersiap-siap bila terjadi hal yang tak diinginkan.


"Ceh, memukulmu agar kau sadar bahwa walaupun Aura kembali ia takk akan mau menerimamu lagi!" bentak Eros dengan kedua tangan yang mencengkram kerah baju yang dikenakan oleh Ares.


   Selama sebulan ini ia selalu di rundung rasa bersalah begitu mengingat jasa Aura yang telah menolong Tasya, namun apa yang adiknya lakukan? Memperkosan Aura? Rasanya ingin sekali ia menemukan Aura lalu menyerahkan sang adik agar Aura menghukumnya.


"Lalu kalian mau apa?" teriak Ares menyentak paksa lengan Eros. Memandang semua yang ada di sana dengan dingin. Ia berfikir kenapa semua orang kini seakan-akan hendak memisahkan dirinya dengan Aura.


"Aku tak akan melepaskan Aura begitu saja!" ujar Ares dengan wajah yang terlihat angkuh, membuat hati Mayang mencelok sakit.


   Tidakkah putranya itu terlalu egois?


"Kenapa?" tanya Biru dengan kedua tangan yang terkepal. Sejak tadi ia terus menahan kemarahan yang semakin lama semakin menggunung sejak ia mendengar berita pelecehan Aura.


"Karna aku mencintainya!" jawab Ares dengan raut wajah serius.


"Lalu kenapa kau melukainya, sialan!!" benntak Key merengsek maju kehadapan Ares. Ia geram sungguh. Benar-benar geram dengan semua tiangkah laku Ares sejak awal bertemu. Lihat, firasatnya benar adanya. Hal buruk itu terjadi.


"Karna aku ingin ia berada di sisiku. Bagaimana pun caranya!" ujar Ares mendorong dada Key dengan telunjuknya.


"Kau!!"


   Belum sempat Key maju menerjang Ares, Biru dan juga Aldi lebih dulu mennggenggam kedua tangan Key. Mencegah dirinya yang akan menggila terutama saat seringai itu terlihat di bibir Ares.


"Kalian tak akan bisa menjauhkan aku dari Aura sebab aku yakin Aura tengah mengandung anakku!" ujar Ares.


   Kembali semua yang ada ddi ruangan itu merasakan rasa terkejut. Bagaimana mungkin Ares dapat mengatakan hal itu dengan mudah. 


"Jaga ucapanmu, Ares!" bentak Farhan tak lagi dapat menahan kekesalannya pada putra bungsunya ini.


"Aku yakin, Pah!" kekeh Ares membuat William dan Robert memijat kening mereka, bahkan Mayang harus berpegangan pada Eros agar tak jatuh menyentuh lantai sangking terkejutnya.


"Bagaimana kau yakin?" tanya Mayang dengan suara yang bergetar. Rasanya penyesalan itu semakin besar membuat ia nyaris gila.


"Itu tak akan mungkin!" bentak Aldi menatap kosong Ares. Ia tak bisa membayangkan bagaimana frustasinya Auraa saat ini bila apa yang Ares ucapkan itu benar adanya.


"Lalu bagaimana, Ibu menjelaskan keadaanku kemarin?" celetus Ares menatap Mayang lembut. Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu, saat dimana dirinya mengalami mual hebat setiap pagi yang berakhir membuat ia harus terbaring lemah di ranjangnya hampir sepanjang hari sebab ia selalu memuntahkan semua yang ia makan ke dalam watshafel.


"Dokter bilang aku tak sakit apapun dan hanya ada satu kemungkinan yaitu aku menghamili seseorang, Bu!" ujar Ares menjelaskan kembali apa yang sudah Mayang dengar.


"Bisa saja kau menghamili perempuan lain!" celetus Key tiba-tiba. Baginya Ares adalah pemuda ******** yang jelas saja sudah banyak meniduri gadis-gadis di luar sana.


"Demi Tuhan, Aura yang pertama dan terakhir, Kek!" ujar Ares begitu mendapati sang kakek menatap murka padanya begitu mendengar cetusan dari Biru.


   Ares berani bersumpah, ia pertama kali menalukan hubungan intim dengan Aura dan itu hal terakhir yang ia lakukan setelah Aura menghilang. Ia terlalu sibuk mencari Aura.


"Kalau begitu cari Aura hingga ketemu," ujar William setelah lama terdiam, membuat Biru dan Key melayangkan tatapan protes serta Aldi yang menatap kesal ke arahnya.


"Dan ikut aku, ada yang inginku bicarakan!" ujar William menuju ruang kerjanya. Meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bisu pertengkaran mereka yang entah untuk yang keberapa karna Aura.


   Tampaknya William memang harus mengatakan alasan kenapa ia melakukan semua ini agar Ares paham dan tak akan membuat kesalahan lagi.


   Disisi lain, seorang pria tengah memanjat sebuah pohon apel di pekarangan seorang wanita tua. Dengan lihai dirinya memetik satu persatu apel yang dikira sudah masak lalu memasukkannya kedalam keranjang yang ada di punggungnya, sebab bila ia langsung menjatuhkannya ke bawah maka buah itu akan rusak.


"Rei, hati-hati!" seru seorang wanita dengan sebuah dres rumahan yang melekat di tubuhnya. Tidak terlalu ketat sebab ia tak mau melukai jannin yang ada di perutnya saat ini.


"Barisik!" balas Rei membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya sebal. Sebuah tawa mengalun dari pemilik pohon apel itu.


"Eh, Nenek kenapa tertawa?" tanya wanita itu menatap bingung ke arah Nenek yang tengah duduk di kursi yang ada di teras belakang rumah.


"Kalian pasangan yang lucu," ujar nenek itu membuat wanita itu merona malu, biasanya ia justru akan kesal begitu mendengar nenek itu menyebut keduanya pasangan, mungkin saja itu hormon kehamilannya.


"Ini!" ujar Rei begitu ia telah turun dari pohon apel yang cukup tinggi dengan selamat.


"Wah, aku mau!" girang wanita itu begitu melihat sekeranjang apel yang terlihat menggoda dengan warna merah mengkilatnya.


   Segera ia ulurkan tangannya guna mengambil apel-apel yang menggoda itu sebelum sebuah tangan menepis kasar tangannya yang terulur.


"Hei!" pekik wanita itu. Mata safirnya tampak langsung melayangkan tatapan protes pada Rei.


Rei terpaksa merotasikan matanya,


"Ini belum di cuci, nanti kau akan sakit. Tidak kasihan pada anak kita?" ujar Rei dengan mata yang melirik ke arah perut rata milik wanita itu.


"Ups, maafkan mama sayang!" ujar wanita itu langsung mengelus perutnya sayang begitu menyadari kesalahan yang hampir ia perbuat.


"Sini biar nenek yang bersihkan!" ucap Nenek mengambil keranjang berisi apel dari genggaman Rei.


"Tidak usah Nek!" tolak Rei. Ia tak enak hati untuk merepotkan Nenek itu lagi.


"Tak apa," ujar sang nenek sebelum pergi menuju dapur,meingjalkan dua pasang adam dan hawa itu di sana.


"Kau lelah?" tanya wanita itu dengan tangan yang mengelap peluh Rei menggunakan sapu tangan yang selalu ia bawa kemana-mana. Sejujurnya ia kasihan pada Rei yang sering kali ia repotkan.


"Ya, tapi tak apa ini keinginan si jagoan!" ujar Rei sambil membenamkan wajahnya pada perut wanita itu.


"Hhhhh, geli Rei!" tawanya begitu merasakan gesekan pada perutnya.


"Apa kau masih mual, Ra?" tanya Rei setelah membaringkan tubuhnya di samping wanita itu yang tak lain adalah Aura Alanta.


"Tidak, hanya pagi hari dan jika aku mencium bau amis!" jawab Aura dengan kedua tangan yang memindahkan kepala Rei ke pangkuannya, menjadikan pahanya sebagai bantal.


"Baguslah!" ujar Rei dengan mata terpejam menikmati elusan tangan Aura pada kepalanya.


"Ini," seru sang nenek yang tiba-tiba datang membuat Rei hendak bangkit dari posisi tidurnya, namun Aura tahan.


Senyum manis Aura berikan pada si nenek,


"Terimakasih, Nek!" ujar Aura.


"Sama-sama. Nenek mau ke supermarket sebentar, kalian tunggu disini!" ucap si nenek yang sudah siap dengan keranjang miliknya.


"Iya, Nek!"


   Setelah melihat si nenek pergi, Aura tampak mencomot apel yang suudah di potong di atas piring. Bukankah nenek itu baik?


"Enak?" tanya Rei menatap Aura yang tampak menikmati apel yang ia makan itu.


"Enak, manis!" ujar Aura dengan senyum di bibirnya. Ia tak bohong, rasa apel itu memang manis tidak kecul dan ia suka itu.


"Syukurlah," ujar Rei. Setidaknya pilihannya benar.


"Kau mau?" tanya Aura dengan sebuah apel yang ia sodorkan pada Rei. Dengan raut wajah polos Aura menanyakannya.


"Aaa,"


"Enakkan?" tanya Aura begitu apel yang ia berikan telah Rei kunyah. Sebuah anggukan ia dapat sebagai jawaban.


   Keduanya tampak terdiam, membiarkan kesunyian mengendalikan suasana. Terdiam dengan lamunan masinng-masing.


"Ah, aku jadi ingat kejadian malam itu!" seru Aura tiba-tiba, membuat Rei yang sempat menutup matanya kini justru menatap Aura.


"Bukankah kita bodoh?" ujar Aura lagi dengan tangan kanan yang ia gunakan untuk mengelus perut ratanya, tempat sebuah nyawa bersarang nyaman.


Kejadian malam dimana ia hampir melakukan bunuh diri terulang kembali di ingatannya, beruntung seorang wanita paruh baya datang menghentikan aksi nekatnya. Dan kini semua kebutuhannya selama kehamilannya yang sebulan ini di urus oleh wanita itu yang tak lain pemilik pohon apel di hadapan mereka.


"Sudahlah!" ujar Rei bangkit dari tidurnya. Ia rangkul Aura kedalam pelukannya, tidak terlalu erat sebab ia takut melukai jagoannya, anaknya.


"Yang penting kau dan dia baik-baik saja sekarang!" jelas Rei mencoba membuat Aura tenang, sebab ia tahu pada masa kehamilannya hormon di dalam tubuh Aura tak stabil.


"Terimakasih, Rei. Kau sudah mau menjaga kami!" ujar Aura menatap manik jelaga Rei yang selalu menemaninya ketika ia sedang dalam kesulitan.


"Sama-sama!"


"Aku jadi ngantuk!" ujar Aura setelah menguap beberapa kali. Ia usap kedua matanya bak anak kecil yang tengah diserang kantuk.


Senyum geli Rei ukir di bibirnya melihat tingkah Aura yang kekanakan,


"Kita pulang?" tanya Rei yang di balas anggukan oleh Aura.


"Tapi Nenek?" tanya Aura bingung begitu melihat Rei yang mulai membereskan sisa apel keduanya menuju dapur.


"Aku akan menelphonnya nanti," seru Rei setelah kembali untuk membantu Aura.


Sebuah ide jahil melintas di kepala Aura,


"Gendong!" pintanya.


"Is, manja sekali!" seru Rei menatap aneh Aura. Ia heran kemana perginya sifat keras dan juga mandiri Aura selama kehamilannya ini.


"Yasudah kalau tak mau!" senggut Aura kesal, dengan kaki yang ia hentakkan Aura berlalu meninggalkan Rei menuju ruang tamu guna mengambil tas miliknya.


"Hei, ayo!" seru Rei menaarik tangan Aura di depan pintu rumah sanng nenek. Melihat hal itu Aura jelas saja bahagia.


"Yes," sorak Aura.


   Akhirnya keduanya pulang dengan Aura yang berada di gengdongan Rei, dengan gayaa briedstyl jelasnya sebab tak memungkinkan untuk gendong punggung.


"Selamat tidur!" ujar Rei begitu ia sudah membaringkan Aura yang terlelap ke atas ranjang keduanya. Benar-benar menyebalkan, bagaimana ia bisa tertidur selama dalam gendongannya?


"Dan kau jangan nakal pada Mama nee jagoan Ayah!" ujar Rei di atas perut Aura, sebelum menyelimuti Aura.


   Ia pandangi wajah damai Aura yang telah terbuai mimpi, benar-benar cantik. Helanan nafas tanpa sadar meluncur dari bibir Rei.


"Aku hanya akan egois kali ini saja. Hanya kali ini saja, Ra!" ujar Rei memandangi Aura sebelum ia memilih pergi menyiapkan keperluan rencananya untuk kedepannya.