
Kediaman Jackson saat ini tampak diliputi oleh aura yang menegangkan, tak satupun dari orang yang ada di sana bersuara. Semuanya memilih bungkam.
"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya William dengan tatapan yang terlihat tajam dan juga bingung secara bersamaan.
"Ares?" panggil Robert. Ia tahu ada yang tak beres di sini, ia rasa cucunya ini tahu alasan hilangnya Aura dari kediaman Jackson saat ini.
Saat itu, tepat ketika semuanya tengah mengobrol bersama di taman belakang, sebuah berita mengejutkan mereka terima dari Ares.
Beberapa saat yang lalu, Ares mendatangi mereka dengan raut wajah panik dan juga marah. Hal itu jelas membuat semuanya bertanya tanya apa yang terjadi. Rasa-rasanya semuanya berjalan baik-baik saja, walaupun mereka terpaksa menyelesaikan acara tanpa adanya Ares dan juga Aura.
Tetapi, sekarang semuanya berubah kacau begitu mereka mengetahui bahwa Aura melarikan diri di tengah malam begini dengan salah satu mobil gadis itu.
"Aku... aku tak bisa menahannya. Aku benar benar tak bisa," racau Ares dengan raut wajah kalut yang amat kentara.
Mayang yang melihat keadaan putra bungsunya yang nampak kacau, hanya dapat merangkul bahu tegap putranya yang nampak sedikit merosot.
Bughh
"Alex!" seru William terkejut akan apa yang baru saja Alex lakukan pada Ares.
"Ku biarkan ia bertunangan bersamamu tanpa mengindahkan segala permohonannya untuk menolak semua ini tapi, apa? APA yang kau lakukan, Brengsek!!?"
Keluar sudah amarah yang sejak tadi Alex pendam. Ia tak menyangka keputusannya mengabaikan permohonan Aura, berakhir menjadi petaka bagi Aura. Ia menyesal membiarkan pertunangan ini terjadi, karena secara tak langsung ia ikut andil dalam kehancuran Aura saat ini.
Buggh
"Hiks..."
Pecah sudah tangisan yang Mayang tahan begitu mendengar apa yang baru saja Alex ucapkan. Ia tak menyangka putranya, yang ia banggakan berani menghancurkan masa depan seorang gadis, walaupun gadis itu tunangannya.
"Ayah tak akan menolongmu, Ares. Kau yang berbuat maka kau pula yang harus menyelesaikannya!" ujar Farhan menatap datar putra bungsunya. Benar, ia tak akan membantu putranya sebab semua ini ulang anaknya sendiri. Ia ingin anaknya menjadi laki-laki yang bertanggung jawab bukan malah menjadi pengecut.
"A... ayah," lirih Ares begitu menemukan setitih kekecewan hadir di manik onyx sang Ayah.
"Cukup!!" ujar Robert menghentikan semua ini.
"Alex?" panggil Robert kepada Alex yang kini tampak mencoba menguasai dirinya, ia cukup berterimakasih kepada Alex sebab pria itu mau memukul cucunya yang bodoh ini.
"Ya, Tuan?"
Setengah mati Alex mencoba menekan emosinya yang ingin membludak. Ia belum puas kalau belum melihat pemuda sialan itu mati di tangannya sendir. Lihat saja ia tak akan membiarkan Ares menemukan Aura, karena jika ia yang terlebih dahulu menemukan Aura ia akan memberiakan Aura kepada Kevin pemuda yang baru ia ketahui adalah kekasih Aura.
"Cari Aura!! Ku yakin ia kini bersama salah satu di antara mereka," timpal William dengan tangan yang kini memijit pelipisnya. Kepalanya serasa akan pecah begitu memikirkan masalah yang tengah melanda keluarganya saat ini.
"Baik."
"Aku akan mencari, Aura!" celetus Ares tiba-tiba. Membuat semua yang ada di sana memandangnya setelah kepergian Alex dari taman itu.
"Ya, sudah seharusnya begitu," sahut Eros dengan nada sinis yang terdengar jelas di suaranya. Ia kecewa, kenapa adiknya melakukan hal serendah itu apa lagi gadis yang ia sakiti adalah gadis yang menolong anaknya. Ia benar-benar marah pada adiknya.
"Pergilah!" ujar Mayang masing enggan menatap ke arah putranya. Ia kecewa, benar-benar kecewa. Rasanya ia telah gagal menjadi seorang ibu.
"Hahhh."
"Maafkan cucuku, William!" ujar Robert memecah keheningan yang tercipta ketika Ares menghilang dari pandangan mereka yang berada di taman.
"Ya, aku tahu. Tapi bukan itu yang ku permasalahkan."
Terlihat raut wajah frustasi di wajah tua William. Ada sorot mata penuh kekhawatiran dan juga ketakutan di matanya.
"Lalu?" tanya Robert bingung. Apa yang ia tak ketahui?
"Aku takut psikis Aura terganggu sebab bila itu terjadi bisa ku pastikan ia bukanlah orang yang sama lagi!" ujar William.
Jawaban William barusan membuat Eros dan juga yang lain menatap penuh kebingungan ke arah William. Apa maksud ucapannya barusan?
"Apa maksudmu?" tanya Robert mewakili yang lainnya.
Baru saja William hendak menjawab pertanyaan Robert, Farhan telah lebih dulu menyelanya. Tampaknya pria itu mengerti maksud William.
"Aku mengerti."
"Aura dulunya adalah gadis yang ceria tapi semenjak kedua orang tuanya meninggal, ia menjadi anak yang tertutup, dingin dan tak terkendali!" jelas Farhan mencoba menjelaskan apa yang ia ketahui.
"Lalu masalahnya?" tanya Robert masihlah belum paham.
"Ia bisa saja benar benar liar kali ini," sahut William dengan raut wajah lelahnya. Membuat Mayang merasa sedikit kasihan.
"Liar?" ulang Eros bingung sekaligus penasaran.
"Ia bisa membunuh siapapun!" ujar William membuat semuanya minus Farhan tercengang kaget. Seperah itukah? Batin mereka.
"Bagaimana bisa?" tanya Mayang kaget.
"Ia membunuh salah seorang yang melukai Biru ketika mereka terlibat tawuran antar sekolah," ujar William membuat Mayang syok luar biasa.
"Astaga!!" pekik Mayang tak percaya, bagaimana mungkin gadis seperti Aura melakukan hal sekejam itu? Itu mustahil.
Ya, semua itu mustahil. Tetapi apakah kalian pernah mendengar pepat yang mengatakan 'Benda yang telah hancur tak akan bisa kembali utuh' atau ' Keadaan bisa mengubah seseorang' semua itu berlaku di dunia ini, dan Aura adalah salah satu bukti nyata.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" tanya Robert. Ia cukup cemas saat ini, bukan masalah bila Aura membalas cucunya yang ia takutkan adalah Aura malah melukai dirinya sendiri.
"Berdoa saja semoga Aura cepat di temukan."
"Atau berdoa saja ia kini bersama dengan Rei ataupun Biru, sebab hanya mereka berdua yang dapat mengendalikan emosi Aura. Hanya mereka!" tambah William membuat secercah harapan hinggap di hati semuanya. Ya, semoga Aura berad di tangan yang tepat atau ia akan menjadi mesin penghancur bagi dirinya sendiri atau orang lain.
"Semoga!!" pinta semuanya.
***
Pagi hari di kediaman Jackson terasa sama dengan keadaan tadi malam. Suasana tegang dan juga mencekam tampak mendominasi ruang keluarga saat ini.
Beberapa menit yang lalu, pintu kediaman Jackson di dobrak secara paksa oleh Biru dan yang lainnya membuat William yang tengah melaksanakan ritual sarapan merasa terganggu.
"Sialan!!"
Entah sudah berapa kali Biru dan juga Getta melontarkan berbagai macam jenis umpatan dan juga sumpah serapah untuk William.
"Bagaimana mungkin Ares tega melakukan hal ini?" tanya Ayu penuh kebingungan. Ia bingung setan apa yang telah merasuki Ares, hingga ia berani melakukan hal sebejat itu kepada Aura.
Getta yang mendengar pertanyaan bernada bingung dari Ayu, spontan berbalik menuju pintu keluar kediaman Jackson. Ia harus mencari Ares sekarang juga, karena ia harus membunuh pemuda brengsek yang telah membuat sahabatnya itu menderita.
"Lepaskan aku, Al!" ronta Getta begitu sebuah lengan membelit erat pinggangnya, menahan pergerakannya yang akan menjadi derap langkah malaikat maut bagi Ares.
"Hentikan, Ta. Kau bunuh Ares pun tak akan menyelesaikan masalah."
Aldi terlihat sedikit kesulitan menahan segala bentuk rontaan Getta. Tampaknya Getta benar-benar berniat menghabisi Ares saat ini.
"Arghhtt!!" raung Biru menghentikan aksi pemberontakan yang Getta lakukan.
"Biru?" guman Ayu dan juga yang lainnya begitu melihat Biru yang nampak sangat kacau.
"Lihat saja, bila aku yang lebih dahulu menemukan Aura. Ku pastikan ia tak akan bisa mendapatkan Aura kembali, lebih baik Aura ku berikan pada Kevin atau malah tidak sama sekali!" tutur Biru dengan kedua bola mata perunggu yang berkilap berbahaya.
Seharusnya sudah sejak awal, ia pergi membawa Aura menjauh dari segala macam masalah yang menerpa gadis itu. Seharusnya ia tak membiarkan Aura menerima perjodohan ini. Seharusnya ia dapat membantu Aura membatalkan perjodohan ini. Seharusnya... banyak kata seharusnya yang Biru andaikan di pikirannya.
"Kau puas?" tukas Aldi yang kini terlihat menatap lurus ke arah William tengah duduk di sofa tunggan yang ada di ruangan itu.
Satu langkah kedepan Aldi ambil guna melihat lebih dekat wajah seseorang yang selama ini Aldi hormati. Ia pandangi wajah pria itu yang kini terlihat renta dan lelah, namun ia acuhkan rasa iba yang sempat hadir di hatinya.
"Apa sekarang kau puas, Granpa?" ulang Aldi dengan senyum manis, teramat manis untuk bersanding dengan mata yang memicing tajam penuh kekecewaan dan kebencian.
Ayu yang sejak tadi hanya memilih menjadi penonton pun akhirnya membuka suara, "Egomu membunuh cucumu sendiri!" tukas Ayu dengan raut wajah sedih. Ia tahu tak seharusnya mereka semua menghakimi William sebegitu kejamnya, namun sekali lagi mereka tak bisa menampik gejolak kebencian yang perlahan mulai meledak begitu mereka kembali melihat kehancuran Aura, untuk yang ke sekian kalinya dan karena orang yang sama.
Kata-kata Ayu barusan terasa bak belatih yang menghujam trpat di ulu hati Wilkiam, membuat William merasakan rasa nyeri dan juga perih yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Kalian tak mengerti!" ucap William dengan wajah yang terlihat lelah serta tatapan matanya yang terlihat redup.
Sebesit rasa iba dan juga kasihan singgah di hati mereka, namun mereka buang jauh-jauh rasa mengganggu itu. Saat ini, bukan rasa itu yang harus mereka utamakan.
"Apa yang tak kami mengerti? Keegoisanmu?" tukas Biru menatap sinis William yang tengah menatap sayu dirinya.
Denyutan penuh kesakitan William rasakan saat ini, ia tak percaya pemuda yang sudah ia anggap cucunya kini tengah melemparkan tatapan sinis penuh kemarahan padanya.
"Aku hanya ingin ada seseorang yang benar benar akan menjaga Aura ketika aku pergi. Waktuku sudah tak lama lagi."
"Apa maksud ucapan, Granpa?" tanya Ayu bingung dengan pernyataan William barusan.
Kernyitan bingung tampak terlihat di dahi masih-masing dari mereka. Waktu? Apa maksud ucapan William barusan. Ia berkata seolah-olah akan pergi jauh dan tak akan kembali. Berbagai macam pikiran buruk, hinggap di pikiran mereka.
"Kalian tak perlu tahu, yang harus kalian tahu adalah seorang William Jackson amat sangat menyayangi Aura Alanta sampai kapanpun!" ujar William menatap sendu ke arah foto Aura yang terlihat tengah tersenyum di atas terumbu karang dengan deburan ombak sebagai backgroundnya.
"Sebenarnya apa yang coba Granpa lakukan?" tanya Key.
"Kau akan tahu nanti, Key."
Hanya itu yang Key dapat sebagai jawaban dari pertanyaanya. Ambigu? Jelas. Jawaban paling klasik ketika sebuah pertanyaan bernada tanya dilontarkan pada seseorang yang merasa harus merahasiakan jawabannya.
"Dan, Alex!" seru William menatap ke arah tangan kanan yang sudah ia anggap sebagai anaknya itu. Ia tahu jelas kalau Alex masihlah menyimpan kekecewaan padanya, terlihat jelas dimata Alex ketika ia menatap dirinya.
"Maaf!! Kau benar, aku terlalu egois. Hanya saja semua ini ku lakukan demi Aura," tutur William membuat Alex merasa tersentuh. Seumur-umur ia sangat jarang mendengar tuannya itu mengucapkan kata maaf, rasa-rasanya kata maaf adalah hal yang tabu untuk di ucapkan oleh William.
"Tuan,"
"Sebaiknya kalian bereskan kekacauan ini, ku yakin Aura akan segera di temukan. Harus!"
William memilih beranjak dari ruang tamu yang tampak sedikit kacau, ulah Biru dan yang lainnya. Pergi meninggalkan mereka semua dalam lingkaran kebingungan yang tak pasti kapan akan hilang. Meninggalkan banyak pertanyaan yang meronta untuk segera di puaskan dengan jawaban yang mereka ingin dengar.