
Banyak hal telah William lakukan guna membuat Aura menyetujui perjodohan ini, mulai dari ia yang berpura pura sakit, ancaman bunuh diri, teror, bahkan ia mengancam akan menarik semua fasilitas yang Aura miliki, tetapi sayang semua itu hanya Aura anggap angin lalu, dengan muda Aura membalikkan keadaan menjadi William yang terdesak.
William memiliki alasan tersendiri kenapa ia melakukan hal ini, ia hanya ingin agar kehidupan Aura terjamin ketika ia sudah tak ada di dunia ini lagi dan ia ingin ada yang menjaga Aura jadi, ia rasa Ares adalah orang yang tepat. Meskipun, ia tau akan ambisi besar serta obsesi gila Ares yang menginginkan Aura, tetapi dengan adanya dua hal itu William semakin ingin Ares yang mendampingi Aura. Kenapa? Karena dengan adanya ambisi dan obsesi pastilah Ares akan terus menjaga Aura dan tak akan pernah melepaskan bahkan menyakiti Aura. Tetapi apakah kau yakin, Will?
Hanya tinggal satu cara yang dapat William lakukan guna memaksa Aura. Ya, hanya dengan cara ini Aura akan menerima perjodohan dirinya dan Ares.
"Maafkan granpa, sweet heart!" bisik William lirih dengan jemari yang membelai kaca bingkai yang berisikan foto seorang gadis remaja cantik dengan latar belakang sebuah taman bunga mawar.
***
"APA?" bentak Aura begitu mendengar apa yang baru saja Biru sampaikan padanya.
Spontan nampan yang Aura bawa terjatuh, menimbulkan suara berisik benda pecah belah yang terbanting lalu pecah.
"Katakan bahwa kau sedang bercanda, Biru!" murka Aura kepada Biru, membuat Kevin yang tengah menuruni tangga langsung mempercepat langkah kakinya menuju sumber kegaduha.
"Tidak."
"Ada apa?" tanya Kevin begitu ia sampai di taman belakang villa. Ia dapat melihat bagaimana ekspresi marah bercampur tak percaya di wajah Aura.
"Bagaimana bisa Key, Aldi, Getta dan Ayu di culik?" geram Aura.
"Aku tak tahu," guman Biru begitu lirih sarat akan ketakutan serta kesedihan di suaranya.
"Lalu di mana Rei?" tanya Kevin begitu sadar bahwa Aura tak menyebutkan nama pemuda bermata obsidian itu.
"Ku rasa ia juga di culik," sahut Biru dengan suara yang terdengar ragu. Ya ia ragu akan keberadaan Rei, sebab ia tahu Rei tak akan semudah itu diculik.
"SIALL!!!" teriakan Aura barusan mengelegar di setiap sudut villa. Untung saja villa itu ada di pulau pribadi milik Kevin, jadi tak akan ada yang mendengar serta mengetahui keberadaan ketiganya.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Kevin sambil menyodorkan segelas Air putih yang baru saja ia ambil dari dapur kepada Aura.
"Kita pulang!" putus Aura dengan kilatan membunuh di kedua mata safirnya yang kini tampak menggelap.
"Aku tau siapa dalang di balik semua ini," guman Aura dengan geraman di setiap katanya. Percayalah akan ia bunuh siapapun yang berani mengusik hidupnya serta sahabat sahabatnya, akan ia pastikan itu.
"Siapa?" tanya Kevin dan juga Biru bersamaan. Keduanya tampak bertukar pandangan sebelum kembali memfokuskan pandangan mereka ke arah Aura.
"Hanya ada dua kemungkinan, dan aku lebih memilih opsi kedua."
"Hah?" bingung keduanya. Sebenarnya siapa yang tega melakukan ini? Apa para kolegan Aura atau malah seseorang yang mereka kenal dekat? Kerabat misalnya.
"Ck..."
"Sudah lebih baik sekarang kita pulang!" ujar Aura sebelum pergi menuju ke halaman belakang villa.
"Ya," sahut Biru mengikuti Aura dari belakang.
"Baiklah," setuju Kevin menyusul Aura dan Biru ke halaman belakang dimana helicopter tengah menunggu keduanya.
***
Ckitt
Brakk
"Minggir!" perintah Aura terhadap para penjaga yang berjaga di depan pintu utama kediaman Jackson.
"Maaf nona, anda tidak di perbolehkan masuk oleh tuan besar," ujar salah satu dari kelima penjaga yang ada di sana.
"Minggir!!" guman Aura dengan nada rendah yang membuat Biru dan juga Kevin memandang datar dan juga tajam ke arah para penjaga, sedangkan para penjaga di sana harus menahan tubuh mereka agar tak gemetar menahan hawa intimidasi yang kuat dari nona muda mereka.
"Tidak bisa, nona."
"Ku bilang minggir ya minggir!!!" bentak Aura dengan raut wajah datar dengan kilatan tajam di kedua matanya, jangan lupakan senyum bengis yang ia pasang di bibir tipis berisinya itu.
"Non...
Brukk
Belum sempat penjaga berkepala botak itu menyelesaikan ucapannya, Aura telah lebih dahulu menerjang tubuh besar itu dan mematahkan kepalanya membuat semua yang ada di sana menatap ngeri dan juga terkejut ke arah Aura kecuali Biru yang sudah biasa melihat Aura melakukan hal itu.
"Minggir!!" bisik Aura begitu jalannya kembali di hadang oleh dua penjaga lainnya sedangkan dua lainnya lagi tengah mengambil posisi siaga di depan pintu.
"Tung...
Krakkk
Lagi, dengan tanpa perasaan kali ini Aura memarahkan masing masing lengan dari dua penjaga itu. Membuat mereka meraung penuh kesakita.
"Enyah!!!" ujar Aura menatap kedua penjaga yang tersisah itu dengan tajam. Ia akan membebaskan mereka tanpa adanya luka sedikitpun asalkan mereka mau menyingkir, atau mereka akan mengalami hal serupa dengan ketiga penjaga lainnya.
"Tid...
Prangg
Tubuh dua penjaga itu telah di genangi oleh aliran darah dari kepala keduanya akibat hantaman keras dari guci yang Aura dapat dari Biru.
Aura segera melangkah menuju pintu utama, tepat setelah ia membereskan para penjaga yang menghalangi jalannya. Ia bahkan tak memperdulikan tubuh tak berdaya dari para penjaga itu.
Brakk
Bantingan pintu ruang kerja William barusan membuat pemilik ruangan itu menatap terkejut ke arah sang pelaku.
"Wah wah wah, khhhh kau menyewa sampah sampah tak berguna ehh tuan William?" tukas Aura dengan nada mengejek yang amat kentara di suaranya, namun tidak dengan tatapannya yang seolah olah dapat membuat William mati di tempat. Walaupun tatapnnya tak dapat membunuh William, setidaknya tatapannya itu dapat membuat William sedikit gemetar takut dilihat dari respon tubuh yang sengaja William sembunyikan.
"Swe...
"Di mana sahabat sahabatku?" sela Aura.
"Apa maksudmu, sweet?" tanya William mencoba mendekat ke arah di mana Aura, Biru dan juga Kevin tengah berdiri.
"Cari mereka, Biru... Kevin!!" ujar Aura memerintahkan keduanya guna menggeleda kesiaman William.
"Ya."
"Baiklah baiklah!!" sergah William cepat, mencegah Biru dan juga Kevin yang telah berada di ambang pintu ruang kerjanya.
"Bawa mereka keluar!!" perintah William kepada anak buahnya yang entah sejak kapan berada di belakang Kevin dan juga Biru.
Tak berapa lama anak buah William kembali ke ruangan itu. Kali ini mereka tak hanya berempat, melainkan bersembilan dengan Rei, Key, Aldi, Getta dan juga Ayu di cengkraman mereka.
"Mhhhh!!" ronta Getta dan juga Ayu begitu mereka bersitatap dengan Aura.
"Lepaskan mereka!!" geram Aura begitu melihat keadaan sahabat-sahabatnya yang terbilang tak baik baik saja, melainkan dengan kedua tangan yang diikat ke belakang serta bibir yang di tutup oleh lakban hitam sehingga menghalangi mereka berbicara.
"O, tak semudah itu, sweet!" ujar William membuat Aura mengeratkan kepalan tangannya, membuat setetes darah jatuh di atas lantai marmer itu, tetapi tak Aura perdulikan.
"Apa mau mu?" tanya Kevin cepat.
"Terima perjodohan itu maka sahabat sahabatmu akan selamat."
"Kau lihat apa yang ada di balik baju mereka?" lanjut William membuat fokus Aura ke arah baju yang di kenakan oleh sahabatnya.
"Bom waktu," bisik Aura dengan kedua mata yang membulat akibat terkejut dengan hal gila yang dilakukan oleh kakeknya.
"Ya. Dan ini pemicunya," ujar William memainkan sebuah remot dengan saru tombol di atasnya.
Biru yang melihat hal itu tampak terdiam, ia bingung apa yang harus mereka lakukan saat ini?
"Jadi keputusan ada di tanganmu, sweet."
William tampak mandangi Aura dengan tatapn yang sulit di artikan. Raut wajah frustasi cucunya itu mampu membuat ulu hatinya terasa tercabik cabik, ia tahu apa yang ia lakukan saat ini adalah hal yang salah, tetapi ia melakukan semua ini untuk kebaikan Aura juga. Jadi, ia harap Aura mengerti.
"Mhhmmm!!" ronta Rei dan juga Key begitu melihat kedua mata Aura yang menatap ke arah mereka dengan tatapan bersalah dan juga frustasi.
"Maafkan aku Kevin!" bisik Aura lirih. Jujur ia tak sanggup untuk melakukan hal ini.
"No honey. No!!" ujar Kevin mencoba menghentikan Aura.
Kevin tampak akan melangkah mendekati Aura, namun saya ia sudah terlambat tepat ketika Aura menerima syarat yang di ajukan oleh William.
"Ya. Aku terima."
"Bagus," ujar William dengan raut wajah yang terlihat amat sangat puas, membuat anggota TAD beserta Kevin mengumpati pria tua itu.
"Lepaskan mereka!" perintah Aura. Ia harus melepaskan sahabatnya lalu mengurus perjodohan sialan ini.
"Kenakan cincin ini terlebih dahulu di jari tengahmu, maka akan ku lepaskan mereka!" ujar William memerintahkan Aura untuk mengenakan cincin yang ada di dalam kotak beludru berwarna merah dengan bentuk hati, yang baru saja ia berikan.
"Kau tahu granpa?" tanya Aura setelah ia memasang cincin merah dengan berlian berbentuk bunga mawar sebagai satu-satunya penghias cincin itu.
"Aku sangat sangat MEMBENCIMU!!" ucap Aura dengan penekanan di akhir ucapannya, tak lupa ia banting kotak cincin itu tepat di dekat sepatu pantovel yang membalut kaki William.
Tak
William kontan terperanga. Ucapan Aura barusan seakan-akanengenai tepat di jantungnya. Ini bukan candaan, wajah yang kini berada di hadapannya menunjukkan keseriusan.
"Biru bawa yang lain ke rumah sakit!" ujar Aura begitu melihat akan buah William telah melepas bom yang ada di balik baju para sahabtanya.
Mendengar hal itu, Biru segera membawa yang lainnya meninggalakan ruang kerja William. Kini tinggalah Aura, Kevin dan juga William di sana.
"Kevin~" bisik Aura mencoba mendekati Kevin yang tampak terdiam. Aura tahu apa yang kini tengah terjadi pada kekasihnya itu, ia baru saja melanggar janjinya dan juga melukai Kevin. Ia tahu.
"Kau melukaiku, honey!" guman Kevin dengan mata yang menatap ke arah Aura dengan pamdangan hancur yang amat kentara.
"Maaf. Maafkan aku!" ujar Aura masih mencoba mendekati Kevin.
Setitih air mata jatuh membasahi pipi Aura. Beban ini begitu menyakitkannya. Bukan keinginannya untuk menyetujui perjodohan ini, tetapi nyawa kelima sahabatnya terancam akibat dirinya dan ia tak bisa membiarkan itu terjadi.
"Kau.... aku kecewa!!" ujar Kevin sebelum pergi meninggalakan Aura yang kini tampak merosot, jatuh di atas dinginnya lantai marmer.
"Maaf!!" guman Aura mencengkram dadanya. Sesak ia rasa begitu menyadari setitih air mata baru saja mengalir dari manik coklat kesayangannya.
"Hiks... maaf!!" bisik Aura diikuti isak tangis yang ia tahan. Air mata semakin deras menetes, ia begitu rapuh, sedikit saja kau menyentuhnya maka ia akan pecah.
Grep
"Menangislah!" bisik seorang pemuda yang baru saja menarik Aura kedalam pelukan hangatnya.
"Puas kau?" bentak Aura, menepis kasar lengan yang dengan kurang ajar memeluk dirinya. Ia pandangi wajah pemilik lengan itu. Aresta Fardansyah.
"Bukankah ini yang kau inginkan? Ahh maksudku bukankah ini yang kalian inginkan?" tanya Aura menatap lurus ke arah mata onyx milik Ares dan juga mata sang kakek.
Urat-urat di kedua lengannya tertarik, tangannya mengepal menahan amarah, rahangnya terkatup keras, ada kemarahan yang terlihat amat jelas di manik safir Aura yang telah padam, tak secerah sebelumnya.
"Khhhh... tak apa toh aku sudah hancur, jadi apa salahnya hancur untuk ke sekian kalinya?" ujar Aura dengan kedua bibir yang mengeluarkan kekehan lembut dan juga senyum lebar di bibir itu.
"Sweet," sangat jelas terdengar penyesalan di suara William.
"Kalian berdua harus dengar ini. Jika setelah ini kalian menemukan diriku bukanlah Aura yang sekarang, maka semua itu karena kalian. Kalianlah yang menyebabkan diriku begini," jelas Aura dengan pandangan hampa sarat akan kekosongan, namun kata-katanya barusan menikam tepat di pusat luka milik William dan juga hati Ares.
"Jadi mohon bantuannya untuk permainan ini ya granpa ku sayang dan calon tuanganku!" ujar Aura dengan kepala yang sedikit ia tundukkan sebagai salam hormat.
Brakk
Aura lalu pergi dengan segudang amarah yang mengalir di dalam darahnya lalu keluar melalui pori-pori kulitnya.
Argghht
Dughh
Prangg
"********!!"
"Mati saja kalian sampah!!"
Suara gaduh langsung terdengar begitu Aura meninggalkan ruangan William. Barang pecah, jeritan bahkan umpatan dari Aura dapat terdengar jelas di telinga Ares dan juga William.
"Hah~ Alex pastikan kau membersihkan kubangan darah di rumah ini nanti, aku tak ingin ada noda sedikitpun!" perintah William melalui ponselnya kepada Alex. Ia sudah dapat memastikan apa yang baru saja terjadi di luar, apa lagi kalau bukan Aura yang baru saja melampiaskan amarahnya. Bila saja situasinya tidak begini, sudah pasti William akan menghentikan Aura dan menghukum cucunya itu namun sayang keadaan saat ini sedang tak bagus jadi, ia biarkan saja.
"Maafkan granpa, Sweet!" batin William berharap Aura mau memaafkannya.
"Aura memang menarik," bisik Ares begitu melihat kubangan darah di mana-mana, belum lagi beberapa perabotan yang pecah serta potongan-potongan tubuh para penjaga dan hal ini sukses menjelaskan seberapa sadis dan juga seberapa enggan Aura akan perjodohan ini.
***
"Arrgghhhtt!" raung Rei begitu mereka sampai di kediaman Bramasta. Tak ia perdulikan sudut bibirnya yang sobek, ia terus saja mengumpat dan menggeram layaknya hewan buas.
"Sialan!!" umpatnya lagi. Kali ini tak hanay umpatan melainkan diikuti oleh pecahnya beberapa perabotan di kediaman Bramasta.
Prangg
Brukk
Duggh
"Keparatt!!" jerit Rei kembali menghantam dinding yang ada di hadapannya, membuat tangannya kini di lumuri oleh aliran darah yang mengalir.
"Kenapa harus Aura? Kenapa?" jeritnya frustasi.
"Sialann!!!" kembali Rei mengumpat dengan intonasi tinggi, membuat Key, Aldi, Getta, Ayu dan juga Biru hanya dapat menatap Rei dari jauh. Mereka sudah tahu akan perasaan Rei kepada Aura dan mereka tak pwrnah menyangka akan hal itu sebelumnya.
Prangg
Brukk
"Tuhan!!" pekik Getta dan juga Ayu begitu melihat Rei yang dengan bringas menghantamkan kepalanya ke kaca yang ada di dekatnya.
"Rei?" ujar Key spontan mendekat ke arah Rei yang tampak santai mengelap darah yang mengotori wajahnya.
"Apa?" tanya Rei.
"Kau baik baik saja?" tanya Aldi mendapat pelototan dari yang lainnya. Apakah ia bodoh? Jelas-jelas Rei sedang tak baik baik saja, sialan!!
"Hn."
"Ka...
"Aku baik," sela Rei sambil berlalu ke arah kamar mandi di dekat dapur, meninggalkan yang lainnya dalam keterdiaman mereka.
"Tuhan kenapa semuanya jadi seperti ini?" raung Key menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu, ia tutup wajahnya menggunakan lengan kanannya. Bahu Key tampak bergetar menandakan ia tengah menangis.
"Aura hiks."
Akhirnya tangisan Getta dan juga Ayu terdengar di ruang tamu, saling bersahutan dengan perasaan pilu dan juga resah mendominasi suara mereka.
Biru yang tak kuat melihat hal itu lebih memilih melacak keberadaan Aura, menggunakan alat pelacak di GPS yang ada di ponsep Aura.
***
Sebuah mobil sport tampak membelah lengangnya jalan pinggiran kota. Deruan mobil mengalahkan bisingnya suasana malam di hutan perbatasan itu.
Brumm
Ckitt
"Haah Haah Haah~" deru nafas si pengendara tampak sangat memburu, seperti habis laribseratus meter dalam waktu lima menit.
"Siallll!!" teriak si pengemudi memukul stir yang ada di hadapannya.
"Keparatt!!" kembali pengemudi itu meraung dengan kepala yang ia tundukkan di pegangan stir mobil.
"Kenapa granpa melakukan ini? Apa salahku?" guman prngemudi itu yang tak lain adalah Aura. Ia tampak menerawang jauh ke dalam jurang dengan pandangan kosongnya.
"Hiks ibu hiks ayah aura lelah."
Perlahan-lahan setitik demi setitik air mata jatuh kembali, membasahi pipi itu untuk yang kedua kalinya untuk hari ini.
Cobaan apa lagi ini? Kenapa ia tak bisa bahagia? Tidak cukupkah ia menderita karena kehilangan kedua orang tuanya, lalu sekarang apa? Apa ia akan kehilangan orang yang ia sayangi? Apa ia kan kehilangan Kevin?
Terlalu larut dalam fikirannya, membuat Aura tak menyadari akan keberadaan sebuah mobil di belakang mobilnya.
"Aura?" panggil seseorang dari balik kaca mobil Aura.
Tahu dirinya tak akan mendapatkan respon dari Aura, orang itu memilih langsung membuka pintu di samping jok pengemudi.
"Maaf!" ungkap orang itu ketika ia telah berada di dekat Aura.
Hidung merah, mata bengkak dan memerah, jejak air mata di pipinya merupakan hal pertama yang menyambut kedua mata perunggu milik Biru.
"Kenapa ini terjadi padaku, Biru?" tanya Aura masih dengan isak tangis miliknya. Ia genggam erat stir kemudi di hadapannya, mencoba menyalurkan rasa sakit yang mendera hatinya.
"Kenapa?" tanya Aura menatap mata perunggu milik Biru, membuat Biru sedikit tersentak kaget begitu mendapati tatapan hampa dan juga kesakitan di kedua manik sebiru laut kasvian favoritnya itu.
"Apa salahku? Apa karna aku sering membunuh?" racau Aura dengan menatap kedua tangannya, seolah-olah ia melihat darah melumuri kedua tangannya itu.
"Sttt tenanglah!" bisik Biru menarik Aura ke dalam pelukannya, ia sadar terlalu banyak kontak fisik yang ia lakukan kepada Aura beberapa hari ini.
"Aku lelah."
"Tidurlah! Aku akan menjagamu!" ujar Biru memerintahkan Aura untuk tidur, setelah ia menukar posisi mereka berdua. Kini Biru yang berad di balik kemudi bukan Aura, gadis itu tampak berusaha menyamankan dirinya.
"Maaf. Maafkan aku yang tak berguna menjagamu, Ra!" bisik Biru tepat di telinga Aura. Ia benar benar merasa tak berguna
Brumm
"Ambil mobilku di tebing dekat hutan perbatasan kota!" perintah Biru pada seseorang yang baru saja ia hubungi.