Alanta

Alanta
Delapan Belas



Sebulan sudah Aura dan juga Kevin menjadi sepasang kekasih dan selama itu juga Ares dan juga Rei menjauh dari Aura. Keduanya tampak enggan bertegur sapa dengan Aura.


"Sebenarnya apa yang tengah terjadi?" guman Aura memandang langit malam yang bertaburkan bintang, mengajaknya berbincang dalam sepi lewat balkon kamarnya.


"Stev?" guman aura lirih dengan kepala yang ia dongakkan ke atas. Seolah olah ia tengah berbincang dengan stev.


"Katakan padaku apa keputusan yang ku ambil salah? Apakah keputusanku menyakiti yang lain?" tanya Aura dengan raut wajah putus asa. Sungguh rasa ini benar benar menyesakkan dadanya, mengganggu tidur malamnya yang selalu dihantui rasa bersalah.


"Kevin terlihat bahagia. Ares tampak marah padaku sedangkan Rei, ia tampak enggan berbicara padaku."


Semua terasa membingungkan. Jujur saja ia masih ragu akan penyebab kekacauan ini, ia berusaha menepis jauh pikiran itu. Tidak mungkin bila Ares dan juga Rei mencintainya.


Aura tampak memijat pelipisnya, kepalanya pusing memikirkan semua ini.


"Kenapa semuanya menjadi sekacau ini?" bisik Aura lirih.


Kriett


Tap Tap Tap


Suara pintu kamar yang di buka serta derap langkah yang mendekat tak membuat Aura beranjak dari balkon kamarnya bahkan ia tak berpaling sama sekali, sekedsr untuk melihat siapa orang yang berani memasuki kamarnya tanpa seizinnya.


"Angin malam tak baik untuk kesehatanmu, Sweet Heart."


Sebuah dekapan hangat Aura dapatkan dari pemilik suara bass itu.


"Aa."


"Kau ada masalah?" tanya pria itu sembari memberikan sedikit elusan pada tangan dan juga lengan Aura. Berharap dapat sedikit menghalau dinginnya angin malam ini.


"Kau bisa cerita padaku. Ingat kau sudah seperti adikku Sweet!" bujuk pria itu ketika tak ada sedikitpun sahutan dari Aura.


"Bukankah janji adalah hutang yang harus di bayar, Alex?" tanya Aura setelah sekian lama terdiam.


"Ya."


Dengan raut wajah yang sedikit bingung Alex menjawabnya.


"Apa yang akan terjadi bila janji itu tak di tepati?" tanya Aura lagi. Kali ini ia memilih memutarkan tubuhnya tanpa melepas dekapan hangat Alex. Jadilah kini mereka berpelukan dengan posisi saling berhadapan.


"Kekecawaan serta amarah mungkin. Kau tahu jika kau sudah mengucapkan janji maka artinya kau harus menepatinya apapun resikonya, " jawab Alex dengan mata yang terus memandang lurus maa safir milik Aura. Ia tampak mencoba mencari penyebab resahnya Aura.


"Kenapa kau bertanya tentang janji?" ujar Alex memandang intens Aura.


Untuk sepersekian detik ia dapat merasakan raut wajah Aura yang berubah serta tubuhnya yang menegang. Namun tak berselang lama semua kembali seperti biasa, seakan akan tak terjadi apa apa.


"Tak ada."


"Swe...


Kriett


Suara pintu yang terbuka mengalihkan atensi keduanya. Segera Alex melepaskan dekapannya dari Aura.


"Tuan?" ujar Alex begitu melihat William berada di depan pintu kamar Aura.


"Sweet ada yang ingin granpa bicarakan padamu!" ujar William berjalan pelan mendekati keduanya.


"Ahh... kalau begitu saya permisi."


Setelah mengacak rambut Aura, Alex segera pergi meninggalkan kamar Aura. Menyisahkan Aura dan juga William.


"Apa?" tanya Aura dengan nada datar. Membuat William harus menghelan nafas sabar.


"Kau akan di jodohkan dengan cucu teman granpa!" ujar William dengan nada tegas yang tak dapat di bantah.


"Granpa bercandakan?" tanya Aura dengan seringai di wajahnya. Ayolah perjodohan? Ini bukan jaman Siti Nurbaya, ini jaman moderen.


"Tidak Sweet. Granpa serius."


"Siapa?" ujar Aura dengan nada datar serta mata safir yang menggelap memandang sedingin es kearah William.


"Kau akan tahu besok malam Sweet, mereka akan datang kemari untuk makan malam bersama."


Dengan sedikit kegugupan William mengatakan hal itu. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan sifat serta sikap Aura yang seperti ini, namun ia tak pernah bisa kenahan dirinya bila Aura sudah mengeluarkan aura intimidasi serta diktator miliknya.


"Kalau aku menolak?" ujar Aura dengan seringai tipis di bibirnya. Amat sangat tipis hingga William tak menyadarinya.


"Kau tak akan bisa menolaknya Sweet!!" ujar William dengan intonasi suara yang meningkat satu oktav.


"Ak...


"Alex akan mengawasimu hingga makan malam tiba!!" bentak William sebelum meninggalkan Aura.


Blamm


"Arghhtt!!!" jerit Aura tepat setelah pintu kamarnya tertutup sempurna.


"Ya tuhan apa lagi ini?" raungnya dengan tubuh yang merosot di sebelah meja di balkon kamarnya.


Prang


"Sialan!!! ****!!! ***!!! Keparat!!!" umpat Aura dengan suara keras. Tak ia perdulikan guci yang baru saja ia pecahkan. Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana ia mengacaukan perjodohan ini. Persetanan dengan granpa.


Sedangkan diruang tengah Alex dan juga William duduk mendengarkan segala umpatan serta makian yang Aura lontarkan untuk William.


"Haah~maafkan granpa Sweet. Ini demi kebaikanmu!" ujar William dengan tangan yang mengusap kasar wajahnya. Ini keputusan yang berat.


"Tuan apa itu benar?" tanya Alex sembari memandang ke arah tangga, berharap Aura memilih turun lalu memaki mereka. Itu lebih baik dibandingkan Aura diam di kamar membanting semua barang, ia takut Aura kembali melukai dirinya.


"Ya."


"Apa nona tak akan berusaha untuk memberontak?" ujar Alex dengan raut resah.


"Kalaupun iya. Aku memiliki rencana agar ia mau menerima perjodohan ini," jawab William dengan senyum di bibirnya. Rencana apa yang tengah kau fikirkan ehh William? Berpura pura sakit atau membuat skandal antara Aura dan pria yang akan di jodohkan dengannya?


"Baik."


"Sweet Heart?" batin Alex menghawatirkan Aura, tepat setelah ia mendengar suara bantinga dan juga benda pecah. Segera Alex meninggalkan William guna memeriksa keadaan Aura saat ini.


***


Pagi ini Aura tak seperti biasanya, ia terlihat tampak lebih murung dan pendiam. Seluruh penghuni kelas terus memandangi Aura dengan pandangan berbeda beda, ada yang penasaran ada pula yang kebingungan termasuk seluruh anggota TAD dan juga Ares.


"Ada apa denganmu, Ula?" tanya Kevin dengan posisi kursi yang ia hadapkan ke arah Aura.


"Kevin?" bisik Aura lirih dengan kedua mata yang memandang sayu ke arah Kevin.


"Ya."


Ingin rasanya Aura mengatakan apa yang membuat ia seperti ini, tapi ia takut Kevin khawatir dan bertindsk gegabah. Ia tak mau Kevin terluka.


Dipandangnya wajah sang kekasih.


"Aku... aku tak apa hanya kurang tidur saja. Banyak dokumen yang harus ku urus."


"Kau seharusnya tak memaksakan dirimu honey. Kau bisa meminta bantuan padaku," ujar Kevin menggenggam tangan Aura yang berada diatas meja. Dipandangnya wajah Aura yang terlihat sedikit memucat.


"Maaf. Aku tak ingin merepotkanmu."


Dengan raut wajah bersalah Aura mengucapkan hal itu. Melihat kekhawatiran di bola mata coklat kekasih hatinya itu membuat Aura semakin takut mengatakan tentang perjodohan itu.


"Aku suka di repotkan oleh dirimu. Itulah gunanya diriku sebagai kekasihmu honey."


Senyum menggoda serta tatapan nakal Kevin layangkan kepada Aura. Membuat Aura kesal dengan tingkah kekasihnya yang terbilang genit padanya itu.


"Aiss berhentilah merayuku!" kesal Aura melepaskan genggaman tangan Kevin.


"Hhhh... kau cantik."


Pecah sudah tawa yang kevin tahan sejak melihat wajah memerah Aura. Menurutnya Aura tampak lucu dengan kedua pipi yang merona.


"Kevin!!!" jerit Aura kesal. Membuat Kevin segera menarik Aura ke pelukannya. Biasanya ini akan berhasil meredakan amukan Aura.


"Aku mencintaimu honey."


Deg


Tuhan jahatkah ia kepada Kevin? Ia tak mau mengecewakan Kevin. Bagaimanapun caranya ia harus membatalkan pertunangan ini, harus!


"Aku juga mencintaimu Kevin." bisik Aura mengeratkan pelukannya. Ia pejamkan kedua matanya guna meresapi kehangatan dari pelukan Kevin serta aroma mind yang menguar dari seraga Kevin.


Tanpa keduanya sadari terdapat dua pasang mata yang menatap ke duanya dengan pandangan yang berbeda beda. Marah dan sayu. Onyx dan obsidian.


"Cih. Lihat saja malam ini kau akan menjadi milikku sayang!!" guman seorang pemuda dengan mata onux yang menatap tajam ke arah keduanya.


"Haah~rasa ini menyebalkan!" guman pemuda berambut hitam dengan tangan yang mengusap pelan dadanya. Berharap dapat menghilangkan denyutan menyakitkan di dadanya.


***


Kini Aura dan juga Kevin tengah berada di gerbang SMA NUSA BANGSA. Banyak siswa maupun siswi yang berlalu lalang guna kembali ke rumah mereka masing masing.


"Kau mau jalan jalan?" tanya Kevin yang kini tengah duduk di atas motor sport hijau miliknya.


"Tidak. Aku ingin pulang saja," jawab Aura dengan wajah yang sedikit lesu. Ia masih memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam. Rasa rasanya ia enggan untuk pulang.


"Baiklah. Kau membawa mobimu sendirikan?" tanya Kevin dengan jemari yang memeluk pinghang ramping Aura ketika melihat segerombolan pria yang memandang lapar ke arah sang kekasih.


"Tidak. Alex akan menjemputku."


Aura tampak tak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Kevin, justru ia tampak menikmatinya. Ia bahkan semakin merapatkan tubuhnya ke arah sang kekasih mengabaikan tatapan iri dari siswi lain yang melihat kemesraan keduanya.


"Aku akan menunggu hingga jemputanmu tiba!" ujar Kevin dengan mata yang menatap dengan tatapan membunuh ke arah segerombolan pemuda yang berani melontarkan godaan kurang ajar kepada Aura. Ingin rasanya ia menghampiri gerombolan itu lalu memberikan mata serta mulut mereka semua pelajaran.


"Pulanglah. Sebentar lagi hujan."


Aura mencoba melonggarkan sedikit rangkulan Kevin, namun sayang bukannya menjauh ia malah di tarik semakin merapa kearah dada Kevin.


"Dan meninggalkanmu?" tanya Kevin dengan raut wajah yang tampak masam.


"Membiarkan para **** disana menghampirimu. Big no!!!" ujar Kevin menunjuk ke arah gerombolan pemuda yang sejak tadi membuat ia kesa.


"Terserah."


Akhirnya Aura hanya dapat pasrah akan kebebalan sang kekasih. Ia lebih memilih menikmati bagaimana tangan Kevin mendekapnya hangat serta bagaimana pemuda itu terus melemparkan rayuan kearahnya, bahkan ia membiarkan Kevin mencuri ciuman kecil di pelipis atau kepalanya. Mereka bahkan mengacuhkan ke adaan sekitar.


Para siswa maupun siswi yang melihat kemesraan keduanya hanya dapat berdecak iri serta kagum. Bahkan Getta dan juga Ayu yang sejak tadi memandang keduanya dri jauh hanya dapat menggigit jari mereka akibat gemas dengan tingkah keduanya. Sedangakan Key dan juga Aldi hanya memperhatikan bagaimana ketua mereka menikmati dekapan sang kekasih.


Tanpa mereka sadari tiga diantara mereka memandang ke arah Aura dan juga Kevin dengan pandangan yang berbeda.


"Semoga semua baik baik saja!" batin Biru menatap ke arah Ares serta Rei lalu ke arah gerbang dimana  dua muda mudi tengah dimabuk asmara.


Tin Tin


Suara klakson dari mobil Lamborghini Veneno biru metalik membuat beberapa siswa menatap kagum mobil yang hanya ada beberapa di dunia, termasuk Aura dan juga Kevin.


"Alex sudah datang."


Dengan segera Aura melepaskan dekapan hangat Kevin, dan ia dapat melihat bahwa Kevin tampak terpaksa melepaskan dekapannya itu. Membuat tanpa sadar sebuah senyum terukir di bibir pink Aura.


"Baiklah aku pulang, hati hati di jalan bila kau sudah sampai hubungi aku!" pesan Aura memandang wajah kesal Kevin.


"Ya. Kau juga honey."


Sekali lagi dengan raut wajah masam, Kevin melepas Aura. Entah kenapa tiba tiba saja perasaannya jadi tak enak.


"Aku mencintaimu."


Sebelum beranjak pergi meninggalkan Kevin, Aura menyempatkan diri untuk memberikan sebuah ciuman tepat di bibir Kevin tak lupa kalimat ia mencintai pemuda itu.


Brumm


"Aku juga mencintaimu, Ra."


Mobil yang ditumpangi Aura baru saja melaju meninggalkan gerbang dan berhasil membuat Kevin tersadar dari keterkejutannya, akibat serangan mendadak yang baru saja dilayangkan oleh Aura.


"Amat sangat mencintaimu, hingga rasanya aku bisa gila bila kau pergi dari sisiku!!!" guman Kevin dengan kepala yang ia dongakkan ke atas guna melihat awan kumbolonimbus yang terbentang di langit. Segera Kevin meninghalkan gerbang sebab tak ada lagi alasan kenapa ia harus berada disana.


***


Sepanjang jalas menuju kediaman William, Aura lebih memilih memandang keluar jendela mengabaikan Alex yang duduk di sampingnya. Ia kembali mengingat bagaimana respon Kevin ketika ia mendadak mencium pemuda itu.


"Siapa pemuda tadi dan kenapa kau menciumnya?" ujar Alex setelah lama diam.


"Kevin Anggara."


"Siapa dia Sweet?" kbali Alex bertanya. Ia harus mengorek informasi tentang pemuda itu.


"Apa itu penting?" ujar Aura memandang sinis ke arah Alex dan hal itu tentu saja mengejutkan Alex, sebab selama ini Aura tak pernah sekalipun memandang sinis kearahnya. Ini yang pertama kali.


"Kekasihmu?" ujar Alex kembali mencoba memancing Aura.


"No."


"Lalu apa?" tanya Alex sedikit frustasi. Bila hanya teman tak mungkin mereka berpelukan apa lagi didepan umum dan ia tak tahu Aura dekat dengan pria lain kecuali Key, Biru, Rei dan juga Aldi.


"Friend with benefit mungkin."


Ckitt


Ucapan Aura barusan membuat Alex memijak rem secara mendadak, untung saja mereka telah sampai di halaman Kediaman Jackson.


Blamm


"Aura!!" teriak Alex mencoba memanggil Aura yang telah keluar lebih dahulu.


Tap Tap Tap


Alex tampak berlari mengejar Aura yang telah menaiki tangga, mengacuhkan para pembantu yang melihat keduanya.


Kriett


Blamm


"Sweet apa maksud ucapanmu tadi?" ujar Alex begitu keduanya sampai di kamar Aura.


"Yang mana?" tanya Aura tanpa memperdulikan kehadiran Alex. Ia lebih memilih melepas sepatu serta atribut sekolahnya kecuali baju.


"Friend with benefit tadi? Kau tak ada main dengan pemuda itu kan?" ujar Alex dengan geraman di akhir ucapannya. Ayolah ia tak akan membiarkan itu terjadi.


"Entah."


Aura tampak menjawab dengan acuh, membuat Alex semakin geram di buatnya.


"Au..


"Maaf tuan dan nona. Tuan besar meminta nona segera bersiap!" ujar seorang pembantu memotong ucapan Alex barusan.


"Ini masih terlalu sore untuk bersiap?" ujar Aura memandang dingin ke arah pembantu itu membuat wanita paruh baya itu sedikit bergetar takut, akibat tatapan intimidasi Aura.


"Tuan yang memerintahkannya nona."


Dengan raut yang tampak takut wanita itu mengatakannya, membuat Aura mengerutkan dahinya bingung.


"Hn. Pergilah!" ujar Aura kepada wanita itu.


"Au...


"Alex keluar!!! Aku ingin bersiap."


Kembali Alex harus menelan apa yang ingin ia katakan.


"Baik."


Dengan segera Alex meninggalkan kamar Aura sebelum ia harus kembali bertengkar dengan Aura.


"Apa maksud ucapan Aura tadi?" batin Alex memandang bingung pintu kamar Aura.


"Jangan sampai Alex dan granpa tahu hubunganku dan juga Kevin." guman Aura memeluk erat boneka panda yang ia dapat dari Kevin ketika mereka pergi ke taman bermain.


***


Meja makan di kediaman Jeckson tampak sedikit ramai, dengan beberapa orang yang mengisi kursi yang biasanya kosong itu.


"Jadi dimana Aura, William?" tanya seorang pria paruh baya namun masih tampak gagah, tampaknya ia seumuran dengan William. Pria itu tampak mengenakan kemeja abu abu yang dibalut jas rompi berwarna hitam. Ia tampak gagah di usianya yang tak lagi muda.


"Ia sedang bersiap siap."


"Ahhh... aku tidak sabar bertemu dengannya."


Satu satunya wanita yang ada disana tampak memasang raut wajah gembira, ia tampak cantik dengan gaun biru yang membalut tubuhnya serta rambut hitam yang ia sanggul membuat ia tampak terlihat lebih anggun.


"Pasti ia sangat cantik?" tanya wanita itu dengan raut antusias , sembari memandang ke arah sebuah bingkai yang diletakkan diatas lemari di ruang makan.


"Kau benar bu. Ia memang sangat cantik."


Suara bass barusan mengalihkan atensi wanita itu dari bingkai foto ke arah seorang pria dewasa yang tampak menawan dengan kemeja hitam. Helain hitamnya ia sisir rapi serta raut wajah ramah dengan mata onyx yang menatap hangat wanita itu.


"Ehh.. kau mengenalnya, Eros?" tanya wanita itu dengan raut sedikit terkejut, sedangkan Robert serta William memilih diam memperhatiak keduanya.


"Ya. Dia yang menyelamatkan Tasya, bu."


"Benarkah?" ucap wanita itu dengan raut wajah kaget dan juga tak percaya. Jadi gadis yang akan dijodohkan dengan putra bungsunya adalah gadis yang menyelamatkan cucunya waktu itu?


"Ya begitulah," timpal William dengan senyum di wajah senjanya. Sebenarnya ia juga tak menduga bahwa temannya akan mengajukan perjodohan untuk cucunya dengan cucu bungsunya yang ternyata adalah adik dari Eros, ayah anak yang di selamatkan cucunya waktu itu.


"Aku semakin tidak sabar bertemu dengannya!!" pekik wanita itu dengan suara yang tertahan, membuat Eros serta Robert menggeleng menatap tingkah lakunya yang mirip anak kecil.


"Sabarlah sedikit, Mayang!" ujar seorang pria yang sejak tadi memandang dalam diam tingkah sang istri.


"Ayolah sayang," ujar Mayang dengan nada suara yang terdengar menja penuh rengekan. Membuat sang suami terpaksa merotasikan matanya akibat jengah dengan kelakuan sang istri.


"Tapi dimana anak itu?" kembali Mayang mengeluarkan suaranya. Kali ini ia tampak memasang wajah garang.


"Ck... ini acara perjodohannya tapi kenapa ia belum datang?" gerutu Mayang melirik jam tangan keluaran terbaru Gucci yang baru saja ia beli.


"Mungkin ia terjebak macet bu."


"Aisss... anak itu benar benar!" gerutu Mayang kesal dengan tingkah putra bungsunya. Awas saja bila dia sampai terlambat.


"Sudah sudah!!" lerai Robert membuat Mayang memilih menutup rapat mulutnya, sebelum sang mertua marah padanya.


William yang melihat hal itu memilih memanggil Alex guna mendekat padanya. Alex yang melihat postur tubuh William segera mendekat.


"Sebaiknya kau panggil Aura sekarang, Alex!" ujar William memerintahkan Alex untuk memanggil cucunya.


"Baik tuan."


Segera Alex mengundurkan diri dari ruang makan menuju kamar Aura yang berada di lantai ata.


"Sweet?" panggilnya kala pintu kamar telah terbuka lebar.


"Hn."


Hanya gumanan yang ia dapat ketika menatap seorang gadis cantik dengan balutan gaun merah maron lima centi di atas lurut serta rambut navy yang ia sanggul sebagian menyisahkan anak rambut di masing masing pelipisnya, membuat ia tampil canti tanpa perlu mengenakan riasan wajah yang tebal hanya perlu lip blous pink serta bedak di wajahnya, ia sudah tampil amat cantik.


"Ayo turun. Semua sudah menunggumu di meja makan."


"Hn."


"Hah~kenapa ia sangat dingin?" batin Alex begitu ia kembali mendengar dua hurup konsosnan yang entah Aura dapat dari mana. Rasa rasanya ia ingin memenggal kepala pencipta gumanan itu.


Segera ia ikuti langkah Aura yang tampak menyususri tangga menuju ruang makan.


Tap Tap Tap


Suara derap langkah kaki terdengarendekat ke arah ruang makan, membuat suara tawa yang sebelumnya terdengar kini tak lagi terdengar begitu Aura menapakkan kakinya di dalam ruangan itu. Semua mata tertuju padanya. Ada yang menatap kagum, ada yang terpukau dan ada juga yang terlihat emm memuja.


"Sweet hear, kemari!!!" ujar William begitu sadar dari keterkagumannya akan penampilan sang cucu malam ini, sebab biasanya Aura tak akan mau menyentuh dress maupun gaun bila bukan untuk acara formal perusahaan.


"Wahh cantik sekali."


Celetus Mayang menatap terpukau ke arah Aura. Ia merasa yang berdiri di hadapannya kini bukanlah manusia, melainkan seorang malaikat. Benar benar mempesona. Aura yang di pancarkannya sangat sulit untuk di tolak.


"Hn. Trimakasih," guman Aura datar. Membuat William sedikit kesal dengan tingkah Aura yang tak berubah.


"Sweet!!" ucap William dengan nada peringatan yang ia tujukan untuk Aura.


"Tak apa, Will."


"Tak bisa, Robert. Itu tak sopan," ucap William dengan nada tegas serta sorot mata yang memandang Aura sedikit tajam. Ayolah ia tak akan benar benar tega mengintimidasi cucunya, ia tak mau kejadian beberapa lalu terulang kembali, ia akan berusaha untuk tak menekan Aura.


"Maaf," ucap Aura dengan sesikit membungkukkan badannya. Membuat Robert serta Farhan terpukau akan sikap Aura barusan. Jelas saja mereka terpukau, karena biasanya anak muda jama sekarang harus diberitahu dahulu baru meminta maaf sedangkan Aura tidak.


"Benar benar menantu idaman!" batin Farhan menatap tertarik ke arah Aura. Benarkah? Kau yakin eh Farhan?


"Hhhh... tak apa sayang," ujar Mayang berjalan menghampiri Aura yang masih berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


"Hai, kau ingat denganku... mama?" ujar Eros membuat Aura menatap terkejut ke arah pria itu.


Deg


"Ka.. kau?" gagap Aura begitu manik safirnya bertabrakan dengan manik onyx hangat milik Eros.


"Khhh... ya ini aku," kekeh Eros menatap menggoda ke arah Aura.


"Ah.. baiklah jadi Sweet kau akan kami jodohkan dengan cucu teman granpa, Robert."


Ucapan William barusan mengalihkan atensi Aura dari Eros. Ia tampak membulatkan matanya. Apa ia akan di jodhkan dengan pria yang telah beristri? Jangan gila.


"Dengan dia?" ujar Aura menunjuk ke arah dimana Eros tengah dusuk dengan berpangku tangan sembari menatap dirinya penuh damba. Apa apaan tatapannya itu?


"Bukan."


"Lalu?" tanya Aura dengan alis yang terangkat bingung. Ia tampak memandang ke arah Mayang yang kini tengah melemparkan senyum lembut ke arahnya.


"Deng....


"Aku."


Suara seorang pria dari balik punggung Aura membuat semua yang ada disana terkejut termasuk Aura. Segera ia tolehkan kepalanya guna melihat siapa gerangan yang telah berani memotong ucapan sang kakek.


"Kau!!!" bentak Aura dengan jari telunjuk teracung ke arah pemuda bermata onyx yang tengah melemparkan seringai lebar ke arahnya.


"Hai sayang!" sapa pemuda itu dengan seringai yang tak kunjung luntur dari bibirnya. Membuat Aura ingin menghajar wajah itu sekarang juga.


Sial katakan padanya bahwa semua ini hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang tak pernah ingin ku impikan. Kalau ini memanglah mimpi, akan ku lakukan segala cara guna terbangun dari mimpi sialan ini.