Alanta

Alanta
Dua puluh



Bisakah kau membayangkan, ketika kau terbangun di pagi hari wajah seseorang yang kau cintai menyambutmu?


Sama seperti yang Aura alami saat ini. Cahaya matahari yang mengusik tidurnya, membuat ia terpaksa membuka kelopak matanya yang sebelumnya terpejam rapat. Namun tampaknya hal itu justru membuat ia mendapatkan pemandangan bagus, wajah tampan Kevin lebih dahulu menyambut indra penglihatannya.


Sudah hampir lima menit Aura habiskan untuk memandangi wajah Kevin, yang tampak menggemaskan. Ia tak mau beranjak dari ranjang karena ia takut mengusik tidur nyaman sang kekasih, apa lagi melihat wajah damai Kevin.


Entah dorongan dari mana Aura menggerakkan jemarinya menyusuri rahang lalu pipi Kevin. Ia jelajahi wajah sang kekasih dengan belaian lembut, kembali takut mengusik sang kekasih.


Tegakah ia menghancurkan wajah damai itu? Tegakah ia meninggalkan Kevin? Tentu saja jawabannya tidak. Sekalipun memang mereka tidak di takdirkan bersama, selama nafas dan detak jantungnya masih ada di tubuh ini dan selama mereka masih di bawah langit yang sama, Aura akan berusaha untuk tetap di sisi Kevin. Apapun yang terjadi, itu janjinya kepada Stev.


Tap


Aura tampak tersentak kaget, begitu merasakan tangan lain menggenggam tangannya yang berada di pipi Kevin. 


"Pagi sayang!" sapa Aura begitu Kevin membuka matanya. Warna coklat madu yang selalu memandang hangat dan memuja ke arahnya. Ia takut pandangan itu berubah suatu saat nanti.


"Pagi honey!" balas Kevin dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Sebaiknya kita cepat bangun. Kau tahu ini sudah pagi?" ujar Aura ingin beranjak dari ranjang, namun terhenti akibat pelukan erat di pinggangnya. Apa lagi kalau bukaan ulah tangan Kevin.


"Sebentar lagi."


"Ahhh... Kevin itu geli. Lepaskan!" pekik Aura ketika Kevin dengan sengaja menyusupkan kepalanya di balik tengkuk Aura. Tengkuk adalah hal yang paling sensitif di tubuh Aura.


"Tidak," tolak Kevin mempererat pelukannya.


"Ayolah sayang! Sebentar lagi kita harus sekolah, ingat?" kembali Aura berusaha membujuk sang kekasih. Ia tak mau mereka terlambat sekolah, sebenarnya bukan ia takut di hukum melainkan ada hal yang harus mereka urus secepatnya. Apa lagi kalau bukan rencana kabur mereka.


"Morning kiss?" ujar Kevin menarik Aura menghadap ke arahnya. Kau tahu posisi keduanya saat ini benar benar intim.


"Tidak!" tolak Aura dengan pipi yang di hiasi rona merah. Ayolah... kenapa kekasihnya ini menjadi mesum?


"Kyaa!!" pekik Aura kaget ketika Kevin memutar posisi mereka menjadi Aura yang berada di bawah Kevin. Dengan santainya Kevin menidurkan kepalanya di dada Aura, membuat rona di pipi Aura menjalar ke telinganya. Ini terlalu dekat.


"Tak akan ku lepaskan sebelum aku mendapatkan morning kiss ku."


Ancam Kevin menggenggam erat kedua tangan Aura, mencegah pemberontakan yang akan Aura layangkan.


"Baiklah," pasrah Aura, membuat Kevin menengadahkan kepalanya ke arah Aura. Menanti hadiah yang akan ia dapatkan di pagi hari.


Dengan wajah yang sudah semerah tomat, Aura menyelipkan satu ciuman di bibir Kevin yang sedikit terbuka.


Cup


Hanya sekilas tak sampai sepuluh detik, Aura sudah menarik dirinya. Ia langsung membuang wajahnya menghindari kontak mata dengan Kevin. 


"Apa itu kau sebuh morning kiss?" ujar Kevin menarik dagu Aura, supaya gadis itu menghadap ke arahnya.


"Ya."


"Yang benar seperti ini."


Cup


Dengan tanpa permisi, bibir tipis Kevin menempel di bibir tebal berisi milik Aura. Tak hanya menempel bibir Kevin juga melumat bibir bawah milik Aura, membuat Aura tersentak kaget.


"Emm... akh."


Erangan kecil lolos dari bibir Aura ketika lidah Kevin menyentuh bibir bawahnya, membujuk agar ia mau membuka bibirnya perlahan dan membiarkan lidahnya mengeksplor rongga mulut Aura.


"Ke... kevin!!" erang Aura menyerukan nama Kevin. Astaga otaknya tak dapat berfungsi saat ini.


"Haah haah."


Nafas keduanya tampak memburu ketika Kevin melepaskan panggutannya dari bibir bengkak milik Aura.


"Manis," ujar Kevin sembari mengelap sisa salivah yang ada si sudut bibir Aura.


Bluss


Tanpa di komandoi kedua pipi Aura memerah bak buah kesukaannya. Rasa panas menjalar di kedua pipinya menambah keyakinan akan sebarapa malunya ia saat ini. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Benar benar di luar kendali.


"Su.. sudah sana!!" tanpa Aura sadari, ia sedikit berteriak sebelum mendorong Kevin untuk segera turun dari ranjang menuju kamar mandi, guna bersiap siap.


"Aku akan menyiapkan sarapan," ujar Aura sambil membereskan ranjang yang sedikit kusut akibat ulah keduanya.


"Hhhh... I love you honey!!" teriak Kevin diiringi dengan tawa yang terdengar renyah dari dalam kamar mandi, membuat Aura menggelengkan kepalanya melihat tingkah children Kevin.


"Love you too!!" balas Aura dengan cara yang sama. Sama sama berteriak. Ck... sekarang siapa yang bertingkah children heh?


***


Saat ini keduanya tengah menikmati sarapan yang telah di buat oleh Aura. Hanya sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi serta segelas susu untuk keduanya. Sederhana namun romantis bila di nikmati bersama dengan orang yang kau sayangi, jomblo mana tahu.


"Bagaimana tentang rencana kita semalam?" tanya Kevin sambil menikmati segelas susu yang Aura sediakan di atas meja makan. Sedangkan Aura, ia tampak tengah mencuci piring kotor bekas keduanya di wastafel. Bukankah ia benar benar calon istri idaman?


"Kita akan membahasanya nanti bersama Biru," sahut Aura sambil mencuci tangannya.


"Baiklah."


"Sudah siap?" tanya Kevin begitu melihat Aura berjalan menghampirinya.


"Ya."


"Ayo!" ujar Kevin dengan tangan kanan yang menggenggam tangan kiri Aura. Bergandeng tangan menuju bagasi tempat mobil Kevin berada.


***


"Wah... Aura dan juga Kevin tampak serasi ya?"


"Manisnya."


"Ahh.. bikin iri aja."


Kurang lebih begitulah teriakan teriakan yang Aura dan Kevin dapat ketika keduanya keluar dari mobil Kevin. Entah bagaimana setiap kali keduanya ditemukan tengah bersama pastilah semua orang akan meneriaki mereka.


"Cih... mereka berisik," decak Aura dengan raut wajah jengkel. Mungkin kalau mereka berteriak dengan intonasi pelan bukan masalah, tapi ini mereka berteriak dengan kencang saling bersahutan lagi. Rasa rasanya telinga Aura akan pecah bila terus begini.


"Kemarilah!!" ujar Kevin yang langsung di paytuhi oleh Aura. Dan kejadian selanjutnya mampu membuat seluruh siwa yang melihatnya menjerit iri.


"Kyaa. Kevin romantis banget!!" teriak siswa lain begitu melihat Kevin dengan romantisnya memasangkan handset ke telinga Aura.


"Cih," decak pemilik mata onyx, yang sejak tadi melihat interaksi keduanya.


***


"Wah wah wah... kayaknya ada yang berangkat bareng nih?" celetus Key dengan nada menggoda serta alis yang ia naikkan.


"Yoi," timpal Aldi ikut menggoda Aura dan juga Kevin yang baru saja menginjakkan kakinya di dalam kelas.


"Dah biasa kalik," ujar Getta dengan kedua mata yang ia rotasikan, akibat jengah dengan tingkah Key dan Aldi yang belakangan ini gemar menggoda pasangan kasmara ini.


"Iya. Kayak baru liat aja."


Ayu tampak menimpali ucapan Getta barusan. Memang ini sudah menjadi hal yang biasa sejak sebulan yang lalu. Keduanya kerap kali datang dan pulang bersama.


"Iri? Bilang," ujar Aura melirik keduanya sinis.


"Eh.. enggak kok non."


"Yah. Ceman ih kalian berdua," celetus Ayu dengan nada yang terdengar mengejek, jangan lupakan tatapan matanya yang seakan akan merendshkan keduanya.


"Sudah sudah."


Mendengar Biru yang sudah angkat suara guna melerai ketiganya, mau tak mau membuat mereka diam tak berkutik. Mereka takut membuat Biru marah.


Brakk


Pintu kelas lagi lagi terbuka secara kasar beberapa minggu ini, tanpa rasa bersalah pelaku pembantingan itu melangkah mendekati Aura dan juga Kevin.


"Bukankah sudah ku bilang kalau kau akan menjadi milikku nee sayang?" ujar Ares dengan senyum yang terlihat aneh di wajahnya,  belum lagi tatapan matanya yang berkilat tajam serta mengandung emosi yang tampak besar.


"Kau mau apa?" ujar Kevin dengan geraman di akhir ucapannya. Ia tampak memasang posisi siaga guna menjaga Aura dari Ares.


"Mau ku? Tentu saja mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."


Ares tampak menyeringai begitu ia mengatakan hal itu dengan lantang, tanpa adanya beban.


"Kau pikir Aura barang apa?" ucap Kevin emosi akan ucapan Ares barusan. Ia pikir Aura barang apa yang bisa ia klaim miliknya begitu saja? Hell no, di sini ia kekasih Aura.


"Jangan coba coba untuk mendekati Aura lagi, Ares!" ucap Kevin dengan nada peringatan di setiap kata yang ia ucapkan. Ia tak akan membiarkan Ares mendekati Aura lagi. Tidak akan.


"Kenapa? Dia calon tunanganku?" balas Ares dengan senyum manis di bibirnya, membuat beberapa siswi yang ada di dalam kelas menjerit terpesona sedangkan Getta dan Ayu menatap bingung Ares.


"Hah?" spontan anggota TAD minus Aura dan Biru memberikan respon yang sama. Kelimanya tampak terkejut dengan apa yang baru saja Ares katakan, termasuk Rei.


"Sial!!" batin Rei mengumpat. Jujur saja akan lebih baik kalau Aura menjadi kekasih Kevin dari pada menjadi tunangan Ares, sebab ia merasa Ares bukanlah pemuda yang baik dilihat dari tatapan matanya yang sarat akan ambisi dan obsesi.


"Dia kekasihku. Sialan!!" bentak Kevin marah. Siapa pula yang tak akan marah bila kekasihmu ingin direbut orang lain? Katakan siapa, bila perlu seret ia ke hadapanku sekarang!


"Oh ya. Tap...


"Sial."


"Enyah kau dari hadapan kami, Ares!" ucap Aura mengusir Ares. Karna bisa di pastikan bila Ares tak beranjak pergi maka ruang kelas ini akan menjadi arena adu kekuatan oleh Kevin dan juga Ares. Aura tak mau hal itu terjadi, ia masihlah menyayangi kekasihnya.


"Kau akan menjadi milikku, Ra!" ujar Ares bersungguh sungguh sebelum ia pergi meninggalkan ruang kelas.


"Sebenarnya ada apa?" batin penghuni kelas lainnya yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran mereka.


"Tunangan?" batin Ayu dan juga Grtta bingung. Sejak kapan Aura dan juga Ares bertunangan? Sebenarnya apa yang sudah mereka lewatkan.


"Tak akan ku biarkan," guman Kevin dan juga Rei lirih. Mereka tak akan membiarkan Aura jatuh ketangan pria seperti Ares, karena ia pria yang berbahaya.


"Tuhan!!" batin Aura dan juga Biru meraung nelangsa akan apa yang menimpa mereka. Tak bisakah tuhan membiarkan mereka hidup tanpa ada masalah?


***


Saat ini anggota TAD dan juga Kevin tengah berada di kantin guna mengisi perut mereka yang mulai berdemo sebab rasa lapar yang semakin mendera.


Seperti biasa mereka lebih memilih menggunakan meja yang berada di sudut kantin agar terhindar dari kebisingan hiruk pikuk kantin, maklum saja hampir seluruh siswa maupun siswi angkatan kelas 11 berada di area kantin.


"Kau mau pesan apa honey?" tanya Kevin kepada Aura yang kini tengah menyelusupkan kepalannya di lipatan tangannya di atas meja.


"Jus tomat saja dan cup cake," jawab Aura tanpa perlu repot repot mengangkat kepalanya. Jujur, ia tengah pusing dengan masalah yang melanda hubungannya dan juga Kevin. Ia sudah mendapatkan ide untuk rencana kaburnya bersama Kevin, lagi pula ia sudah membicarakan rencananya itu dengan Biru, dan Biru pun setuju dengan rencana Aura.


"Ahh... Samakan saja," ujar yang lain begitu mendapati Kevin menatap ke arah mereka, seakan akan menanyakan apa yang hendak mereka pesan.


"Baik. Tunggu sebentar," ujar pelayan yang tadi di panggil oleh Kevin guna mencatat seluruh pesanan mereka. Segera setelah ia mencatat pesanan di meja itu, ia langsung bergegas mengambil pesanan mereka.


"Kau baik baik saja honey?" tanya Kevin sambil memberikan belaian lembut di kepala serta punggung Aura. Ia tahu keadaan kekasihnya ini tidaklah sedang baik baik saja, ia tahu Aura tengah memikirkan masalah yang menerpa mereka.


"Ya."


Biru yang melihat interaksi keduanya hanya dapat menghelan nafas antara prihatin dan juga lelah. Ia bingung kenapa Aura selalu mendapatkan masalah? Apa tuhan tak ingin membiarkan sahabatnya ini untuk bahagia?


Sedangkan Rei yang melihat hal itu hanya mampu mengeram rendah, menahan gejolak panas yang semakin merambat membakar hati serta dadanya. Ia harus menahan rasa cemburunya atau ia akan kembali kehilangan Aura.


"Ini pesanannya," ujar pelayan itu dengan senyum dan juga nada ramah yang di balas senyuman oleh Ayu dan Getta.


"Terimakasih," ucap Ayu mewakili teman temannya.


Pelayan tersebut segera pergi setelah meletakkan pesanan mereka.


"Ini honey," ujar Kevin menyodorkan pesana sang kekasih. Ia memang meminta pelayan memberikan banyak coklat pada cake milik Aura, berharap dapat mengembalikan mood kekasihnya itu yeahh walaupun ia tahu kekasihnya itu tak terlalu suka akan makanan yang terlalu manis.


"Makasih sayang," balas Aura tak lupa meberikan senyum manis kepada Kevin. Ia tahu kekasihnya ini tengah mencoba membantu mengembalikan moodnya yang tengah buruk sejak kedatangan Ares tadi pagi, syukurlah pria itu tak kembali ke dalam kelas hingga bel istirahat berbunyi. Setidaknya ia tak akan melihat pemuda itu untuk sementara waktu, kejam memang tapi mau bagaimana lagi ia sudah terlanjur kesal dengan Ares.


"Ahh... sweet. Mau juga ih!" tutur Getta melihat kemesraan keduanya. Ahh... ia jadi iri melihatnya.


"Noh... sama Aldi aja," sahut Key membuat Getta memberikan pelototan maut ke arah Key, sedangkan yang di beri pelototan hanya nyengir tanpa rasa bersalah.


"Nggak mau."


"Kau pikir aku juga mau?" tukas Aldi begitu mendengar penolakan Getta. Dari pada bermesraan dengan Getta ia lebih memilih adu kekuatan dengan Aura, sebab baginya itu sangat menjijikkan. Ia tak terlalu suka dengan hal hal berbau romansa.


"Kal..


Ittai yo~ Ittai yo~ Kotobate Shigeteo~


Dering ponsel Aura memotong paksa apa yang akan Ayu ucapkan. Segera Aura merah ponsel yang ada di atas meja trpat di sampingnya.


Alex is calling...


"Hallo."


"Granpa masuk rumah sakit," ujar Alex dengan nada suara yang terdengar penuh kekhawatiran serta harapan.


Entah hanya perasaan Aura saja atau memang ucapan Alex terdengar bergetar?


"Oh," guman Aura sebelum memutuskan sambungan secara sepihak, membuat yang lain menatap ke arahnya sebab sebelumnya mereka sempat melihat perubahan di raut wajah Aura.


Tut~Tut


"Ada apa?" tanya Biru mewakili pertanyaan yang lainnya.


"Granpa masuk rumah sakit," jawab Aura santai. Ia tampak kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda oleh telpon dari Alex barusan.


"Apa?" kaget yang lainnya minus Kevin dan juga Aura.


Kevin tampak mencerna ucapan Aura barusan. Kalau firasatnya tak salah sebentar lagi akan ada drama baru di mulai guna membuat hubungannya dan Aura terpisah, tentu saja dengan cara licik.


"Kau serius, Ra?" tanya Getta memandang Aura dengan raut wajah tak percaya, sebab melihat respon Aura yang nampak biasa biasa saja seolah olah tak ada yang terjadi dengan granpa.


"Ya."


"Kenapa kau tampak biasa saja?" ujar Aldi dengan kernyitan di dahinya ditambah dengan anggukan yang lainnya.


"Hn," guman Aura masihlah asik dengan cake bertabut coklat batang di atasnya. Ia tampak lebih tertarik dengan cake itu di banding dengan sekitarnya.


"Ra?" panggil Ayu begitu melihat sifat acuh yang Aura perlihatkan kepada mereka.


"Ini hanya akal akalan granpa, agar aku mau menerima perjodohan sialan ini. Cihh trik murahan," tukas Aura dengan tangan yang memotong cake malang itu dengan bringas.


"Bagaimana kalau granpa benar benar sakit?" cetus Ada Getta lagi, membuat Aura terpaksa membanting garpu dari genggaman tangannya. Ia muak sekarang, ia benci bila seseorang terus berbicara ketika ia sedang makan. Ia ingin makan dengan tenang tanpa ada keributan.


"Kau tahu, Ta? Granpa tak memiliki riwayat penyakit apapun," sergah Aura dengan intonasi suara yang meningkat, membuat beberapa siswa lain menatap ke arah mereka yang langsung di hadiahi lirika tajam oleh Biru, Key dan juga Aldi membuat siswa itu mengalihkan perhatian mereka dengan gugup.


"Tap...


"Bisakah kita membahas yang lain?" sela Aura sebelum Getta menyampaikan argumennya kembali. Ia tak ingin membahas hal itu atau ia akan menghancurkan apa yang ia lihat dan ia pegang sekarang.


"Ahh... Cup cake ini enak sekali," tandas Ayu mengalihakan pembicaraan, untung saja keduanya langsung sadar akan apa yang baru saja terjadi.


"Kalian tak ingin coba?" tanya Ayu dengan nada yang ia buat seriang mungkin.


"Ahh... aku mau satu."


Setelah itu tak ada satupun dari mereka yang membahas tentang keadaan William, mereka lebih memilih membahas hal lainnya.


***


Brakk


Pintu ruang rawat VVIV nomor 2 itu terbanting secara kasar, membuat seorang dokter dan juga pria paru baya mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.


Di sana berdiri seorang gadis berseragam SMA yang di balut jaket berhodi berwarna merah. Ia tampak memandang dingin ke arah pria paru baya, entah kenapa suhu di ruangan itu tiba tiba terasa dingin.


"Tak usah berakting."


Dengan lantang gadis itu mengatakan hal tersebut dengan sorot mata yang memanvarkan emosi.


"Sekali ku bilang tidak ya tidak!!" lanjut gadis itu dengan desisian di akhir ucapannya. Apakah pria ini tuli? Sudah berapa kali ia menolak, tetap saja pria ini memaksa. Keras kepala sekali.


"Tuan benar benar sakit, nona!" sela sang dokter tanpa di tanya.


"Aku tak bertanya!" celetus gadis itu menatap tajam ke arah sang dokter yang tiba tiba menegang.


"Apa perlu ku bunuh dokter sialan ini di hadapanmu, baru kau mau mengakui aktikmu ini granpa?" ujar gadis itu mengancam pria yang ia panggil granpa itu. Sebuah pisau lipat tengah ia mainkan di tangan kanannya, belum lagi apa yang ia sembunyikan di balik jaketnya, sebuah pisau Eickhorn dengan panjang 17,5 cm yang sengaja ia perlihatkan.


"Tu... tuan?" gagap sang dokter begitu melihat salah satu pisau mematikan yang ada di dunia, kini tengah mengancam nyawanya.


"Ck.. ya."


Akhirnya pria paru baya yang tak lain adalah William memilih mengakui aktingnya. Ia tak menduga bahwa Aura mampu mengetahui bahwa ia hanya berakting, belum lagi dua senjata tajam yang salah satunya tak pernah William bayangkan ada di tangan sang cucu perempuannya. Ingat perempuan, hols shit dari mana cucunya mendapatkan benda mematikan itu?


"Cih... trik murahan," desis Aura melempar pisau lipat yang sejak tadi ia mainkan ke arah sang dokter. Nyaris pisau itu menancap tepat di lehernya, namun Aura tak sejahat itu ia sengaja melesetkan lemparannya hingga mengenai lemari kayu yang ada di belakang sang dokter. Bersyukurlah kau Aura masih berbaik hati padamu, jadi enyahlah kau dari sini.


Dengan keadaan yang masih syok berat, dokter iu berlari meninggalkan ruang rawat William.


"Dengar granpa. Aku tak mau bertunangan dengan Ares. Aku tak mencintainya," ujar Aura mencoba bersabar. Mereka harus berbicara dengan kepala dingin, atau semua akan berakhir sia sia. Kau tahu bukan maksudku?


"Tapi kau harus mau!" ujar William penuh penekanan sarat akan peeintah yang enggan untuk di bantah.


"Apa kau berniat melakukan perjodohan bisnis granpa? Apa yang kau dapat dari perjodohan ini? Saham? Tender miliaran atau...


"Cukup Aura!!" bentak William memotong ucapan Aura. Ia tak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Aura. Bukan seperti itu.


Sedangkan Aura ia bukannya terkejut malah terkesan biasa saja. Ingat biasa saja. What happens for you, Ra?


"Kau akan tetap bertunangan dengan Ares!" ujar William tetap pada keputusan awalnya. Sebenarnya apa yang membuatmu tetap kekeh menjodohkan Aura, Will?


"Maka kau akan menemukan mayatku terbujur kaku esok hari di kediamanmu William Jackson!" ancam Aura dengan mata yang memandang dingin serta tajam ke arah William, segera ia langkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


Brakk


"Aura!!!" teriak William meneriaki sang cucu. Tidakkah kau sadar, Will? Beberapa minggu ini kau sering meneriaki nama Aura?


"Sial!!" umpat Aura dan juga William dari tempat yang berbeda. Ahh... ikatan batin antara cucu dan kakek masih ada rupanya?