
"Kau!!!" bentak Aura dengan jari telunjuk teracung ke arah pemuda bermata onyx yang tengah melemparkan seringai lebar ke arahnya.
"Hai sayang!" sapa pemuda itu dengan seringai yang tak kunjung luntur dari bibirnya. Membuat Aura ingin menghajar wajah itu sekarang juga.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Mayang begitu melihat keduanya tampak sudah saling mengenal, walaupun keduanya tidak tampak akrab.
"Aura teman sekelasku, bu."
"Wahh.. kebetulan sekali ya," ujar Mayang dengan nada girang mengabaikan raut wajah tak suka dari Aura.
"Jadi bagaimana?" tanya Farhan mengalihkan pembicaraan ketika ia menyadari adanya raut tak suka serta kebencian yang terpajang di wajah Aura
"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu!" ujar William membuat Aura terpaksa mendudukkan dirinya di tengah tengah antara Mayang dan juga Eros, namun entah dewi kesialan masih menaunginya atau bagaiamana Ares duduk tepat di hadapannya.
"Sialan," batin Aura mengumpat apa lagi dengan lancangnya Ares menggunakan ujung sepatunya guna menyenggol kaki Aura yang berada di bawah meja, sialnya lagi tak ada satupun yang menyadari hal itu kecuali Eros yang sejak tadi menatap wajah tak nyaman Aura serta tatapan penuh ambisi yang di layangkan Ares ke arah Aura.
"Jadi Ares apa kau menerima perjodohan ini?" tanya William begitu mereka menyelesaikan acara makan malam.
"Ya. Tentu saja."
Dengan raut wajah penuh keyakinan dan juga tatapan yang menyiratkan akan ambisi yang besar, Ares menyetujui perjodohan.
"Bagus."
"***," lagi lagi batin Aura mengumpat. Ingin ia berteriak sekarang juga di hadapan semua orang termasuk kakeknya sendiri, ia tak mau di jodohkan dengan Ares.
"Aura?" ucap Robert membuat Aura tersentak kaget, sebab sejak tadi ia tengah melamun memikirkan cara bagaimana kabur dari sini.
"Apa?" tanya Aura memandang datar ke arah Robert. Robert yang mendapat tatapan seperti itu bukannya marah ataupun kesal, ia malah merasa terpukau dan tertantang. Gadis seperti Aura justru merupakan menantu idaman dalam keluarga Fardansyah.
"Kau menerima perjodohan ini? Ares sudah menyetujuinya," ujar Farhan mengambil alih pembicaraan. Sejujurnya ia sejak tadi sudah merasa tertarik dengan Aura, tertarik dalam artian penasaran akan sosok calon menantunya itu.
"Tidak."
"Aura!!!" bentak William begitu mendengar kata penolakan keluar dari bibir kisabble milik cucunya. Bukankah ia sudah bilang bahwa Aura harus menyetujuinya? Lalu kenapa cucunya ini malah menolaknya?
"Kenapa?" tanya Mayang mencoba menengahi sebelum terjadi pertengkaran antara Aura dan juga William.
"Aku tidak mencintainya," jawab Aura dengan raut wajah yang amat tenang.
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu," celetus Farhan mencoba memancing Aura. Ia ingin melihat samapai dimana Aura dapat mendebat mereka.
"Aku tak perduli."
Dengan raut wajah acuh tak acuh Aura membereskan gaunnya, bersiap meninggalkan ruang makan. William yang melihat Aura akan beranjak segera mengeluarkan ancamannya.
"Aura kalau kau menolak seluruh aset milikmu akan granpa sita!!" ancam William membuat Aura berhenti bergerak dan hal itu membuat William menyeringai penuh kemenangan.
"Will!!!" bentak Robert begitu mendengar ancaman yang William lontaran ke pada Aura. Farhan dan juga Eros pun ikut menggeram tertahan melihat pertengkaran keduanya. Bukan ini yang mereka inginkan.
"Lakukan. Aku tak perduli."
Segera setelah mengatakanhal itu, Aura melangkah meninggalkan ruang makan yang sebentar lagi akan menjadi kapal pecah akibat amukan tuan besar.
"Sweet!!!" bentak William menegakkan tubuhnya dari kursi. Aura sudah sangat keterlaluan baginya. Aura atau kau yang keterlakuan disini, William?
"Aura Alanta!!" teriak William menyerukan nama Aura, namun sayang gadis itu telah hipang di balik pintu ruang makan.
"Bukankah dia gadis yang menarik, bu?" celetus Ares tiba tiba. Membuat semua mata memandang ke arahnya yang tengah menundukkan kepalanya. Membuat semua orang tak tahu jenis ekspresi apa yang ada di wajah Ares.
"Maksudmu?" tanya Mayang bingung. Pasalnya seharusnya putra bungsunya ini marah akan penolakan Aura barusan, tapi kenapa nada suara terdengar gembira dan baik baik saja tanpa adanya emosi.
"Disaat gadis lain ingin menjadi kekasihku ia malah menolakku," ucap Ares memandang Mayang dengan senyum lebar di bibirnya.
"Eehh."
"Tenang saja bu, ia akan menjadi menantu ibu."
Masih dengan senyum lebarnya, Ares berdiri dari kursinya lalu menatap kearah pintu dimana Aura menghilang dari pandangannya.
"Ya kupastikan itu terjadi, bu. Apapun caranya!" guman Ares pelan namun masih dapat di dengar oleh yang lainnya. Semua menatap gusar ke arah Ares.
Tanpa ada yang menyadarinya, sebuah seringai serta kilatan aneh tampak muncul di bibir serta mata Ares. Farhan serta Eros sempat melihat kilatan itu, keduanya tampak mengira ngira cara apa yang akan di gunakan oleh Ares, sebab keduanya tahu apa yang di inginkan oleh Ares haruslah ia dapatkan meskipun dengan cara kotor maupun licik.
***
"Sialan. **** itu benar benar!!" raung Aura mengumpati Ares. Apa yang salah dengan pemuda itu, kenapa ia malah dengan gampangnya menerima perjodohan ini? Jangan hilang kalau pria itu mencintainya?
Aura terus saja bergerak gelisah. Sejak tadi yang ia lakukan hanya bolak balik di depan pintu balkon kamarnya, sampai sebuah ide gila melintas di kepalnya.
"Ahh... aku punya ide."
Segera ia ambil ponsel yang sejak tadi berada di atas meja riasnya. Ada yang harus ia lakukan dengan ponsel itu. Menghubungi seseorang mungkin.
"Hallo," ujarnya begitu seseorang yang ia telpon mengangkat sambungan telpon itu.
"Hallo. Ada apa kau menghubungiku malam malam?" suara serak serak basah yang sudah pasti milik seorang pemuda menyambut indra pendengaran Aura.
"Kau harus menolongku sekarang!!" ujar Aura dengan intonasi yang terdengar datar serta nada yang memerintah.
"Menolongmu? Kau sedang dalam masalah?" tanya pemuda itu. Terselip nada khawatir dari ucapannya, apa lagi ditambah dengan suara gaduh dari sebrang telpon.
"Ya."
"Baiklah. Apa yang harus ku lakukan?" tanya pemuda itu.
"Tunggu aku di ujung komplek!!" Ujar Aura dengan tangan kiri yang mengobrak abrik lemari pakaiannya.
"Baiklah. Aku kesana sekarang!" ujar pemuda itu. Terdengar suata derap langkah antara sepatu dengan lantai kramik, tampaknya pemuda itu tengah berlari.
"Tiga pulung menit lagi, aku kesana," ujar Aura sebelum memutuskan sambungan telpon itu secara sepihak, mengabaikan umpatan dari pemuda yang ia hubungi.
"Cih... kau pikir aku akan mati tanpa fasilitas ini?" gerutu Aura setelah mengganti gaun yang tadi ia kenakan dengan baju kaos oblong putih di balut kemeja kotak kota berwarna merah dengan celana levis membalut kaki jenjangnya. Jangan lupakan sebuah masker hitam serta topi yang membantu ia menutupi identitasnya. Apa kau berniat kabut, Ra?
"Jangan harap aku mau menerima perjodohan gila ini," gerutunya sebelum membuka pintu balkon.
"Aku harus menghancurkan cctv sialan itu dulu!!" ujar Aura menatap cctv yang terpasang di dinding dekat balkonnya. Jujur sebenarnya cctv itu tak berguna sama sekali tapi tetap saja, ia bisa menangkap gambar Aura ketika Aura berada di halaman depan.
Aura tampak mencari sesuatu yang dapat ia lempar ke cctv itu, peduli setan bila cctv itu rusak toh memang itu yang ia mau.
Akhirnya ia mendapatkan sebuah kerikil dengan ukuran cukup besar terselip di antara tangkai bunga yang menghiasi vas yang ada di meja balkon. Setidaknya ini cukup untuk memecahkan lensa cctv sialan itu.
Takk
Dan berhasil. Ku rasa ke ahlian melemparmu harus di beri acungan jempol, Ra. Buktinya dalam sekali lempar kaca cctv itu telah rusak.
Ia harus bergegas sebelum para penjaga menyadari bahwa ia tengah melancarkan aksi kaburnya.
Syutt
Dengan lihai ia bergantung turun menggunakan tali tambang yang sengaja ia letakkan di kamarnya guna berjaga jaga bila ke adaan mendesak, seperti sekarang ini contohnya.
Rasa panas pada telapak tangannya ia acuhkan. Yang terpenting baginya sekarang adalah keluar dari sini.
Dengan langkah yang mengendap endap ia mencapai dinding pagar yang ada di samping taman, sebab hanya di sanalah tempat yang tak memiliki penjaga.
Aura tampak mempersiapkan ancang ancang untuk memanjat tembok setinggi dua meter itu.
Tap Tap Tap
Hupp
Brukk
Pendaratan yang cukup mulus walaupun ia harus merasakan sesikit nyeri pada kakinya akibat lompatan yang terburu buru. Ahh~ternyata keahlian memanjatnya belum hilang.
"Sialan," umpat Aura di sela sela larinya. Mengabaikan kakinya yang sedikit berdenyut, Aura memilih menyusuri jalan menuju ujung komplek.
Brakk
"Haah haah haah."
Dengan nafas yang masih memburu Aura mendudukkan dirinya di jok mobil yang ia duga sebagai mobil jemputannya, sebab hanya ada satu mobil di ujung komplek ini.
"Ini!" ujar pemuda itu memberikan sebotol air mineral ke pada Aura.
"Thanks."
"Jadi sekarang kita kemana?" tanya pemuda itu begitu Aura dapat mengontrol nafas serta menetralkan rasa lelah dan juga nyeri di kakinya.
"Rumah Kevin!" jawab Aura.
"Selarut ini?" tanya pemuda itu bingung. Ayolah... kalian juga akan bingung bila seorang perempuan meminta diantar ke rumah seorang pria di jam malam. Apa yang Aura pikirkan?
"Nanti ku jelaskan yang jelas bawa aku pergi dari sini!" kesal Aura membuat pemuda tersebut memilih menuruti kemaun Aura, dari pada ia mengambil resiko mendapat amukan Aura. No thanks.
"Satu lagi ini mobil hasil balapan mu kan?" ujar Aura membuat pemuda itu memandang Aura dengan alis yang terangkat. Bingung.
"Ya."
"Matikan lampunya sampai keluar komplek agar cctv tak dapat menangkap nomor platmu!!" perintah Aura dengan mata yang menatap tajam ke arah cctv yang terletak di pohon yang ada di hadapan mereka. Untung saja posisi mobil ini berada dalam gelap.
"Tunggu sebenarnya ini ada apa, Ra?" tanya pemuda itu semakin bingung, apalagi begitu ia mendengar ucapan bernada perintah barusan.
"Kau akan tahu nanti. Sekarang lakukan saja apa yang ku katakan!" ujar Aura mulai kesal membuat pemuda itu mengunci rapat bibirnya. Bisa bahaya kalau sampai ia salah berbicara.
"Rumah Kevin di jalan mawar kompleks Melati blok A nomor 1."
"Ya."
Setelah mendapatkan alamat yang di tuju. Pemuda itu segera menjalankan mobil Bugatti hitam miliknya tanpa menghidupkan lampu tentunya. Bersyukur ada beberapa lampu di pinggi jalan komplek kalau tidak entah apa yang terjadi.
Skip Time
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya Aura dan juga pemuda itu sampai di rumah Kevin.
Segera Aura turun dari mobil tak lupa melepas atribut penyamaran milikknya tadi.
"Permisi."
"Eeh... nona Aura," kaget satpam penjaga rumah Kevin. Ia memang sudah mengenal Aura, sebab tuan mudanya sering kali mengajak Aura kemari. Jadilah ia mengenal Aura sebagai kekasih tuannya.
"Kevinnya ada?" tanya Aura dengan nada yang terdengar ramah. Walaupun ia dingin dan datar, ia tahu kapan harus bersikap seperti itu dan kapan harus bersikap ramah. Lagi pula ia bersikap dingin hanya pada orang asing serta beberapa orang yang tak ia sukai.
"Ada non. Silahkan masuk!" ujar satpam itu ramah.
"Untuk apa kita kesini, Ra?" kembali pemuda itu bertanya setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Kevin yang cukup besar.
Aura tampak mengacuhkan pertanyaan pemuda itu, ia lebih memilih berjalan memasuki rumah Kevin membuat pemuda itu meletakkan kelima jarinya di depan dada.
"Sabar~" guman pemuda itu menyusul Aura yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam.
"Kevin?" panggil Aura kepada Kevin yang tampak tengah duduk di ruang tamu dengan setumpuk kertas di atas meja. Kevin tampak mengenakan pakaian kasual, hanya kaus oblong berwarna putih yang mencetak jelas tubuh atletisnya lalu celana levis sedengkul yang memperlihatkan betapa kokoh kaki itu.
"Ehh... honey?" kaget Kevin begitu menemukan sang kekasih yang kini tengah menghampirinya di ikuti seorang pemuda yang ia kenal. Sedang apa pemuda itu di rumahnya?
"Ada apa dan.... Biru?" tanya Kevin ikut menghampiri Aura yang tampak berjalan sambil menunduk.
"Ada apa hmm?" tanya Kevin lagi. Bukannya menjawab Aura malah menabrakkan tubuhnya ke arah Kevin. Memeluk erat tubuh sang kekasih.
Brukk
"Bawa aku pergi!!" pinta Aura dengan nada suara yang terdengar sumbang dan bergetar.
"Ada apa?" tanya Kevin untuk ke sekian kalinya. Ia tampak membalas pelukan Aura tak kalash erat.
"Ares... Ares menyetujui perjodohan itu."
Kembali Aura berbucara dengan suara yang semakin bergetar. Ditambah dengan pelukan yang mengerat serta kaus depan Kevin yang terasa basah.
"Apa honey menangis?" batin Kevin bingung.
"Perjodohan?" ucap Kevin dan juga Biru bingung.
"Hiks... bawa aku pergi Kevin. Kumohon!!!" akhirnya tangisan yang sejak tadi Aura tahan pecah begbegitu ia menyampaikan keinginannya kepada Kevin. Membuat Biru terlonjak kaget mendengar suara tangisan Aura.
"Apa lagi yang granpa lakukan?" batin Biru menggeram marah.
"Kita akan pergi!" putus Kevin dengan mata yang berkilat tajam. Ahh~jadi Ares ingin bermain main dengannya ehh?
"Tunggu dulu!" ujar Biru mencegah keduanya.
"Apa lagi?" tanya Kevin dengan raut wajah dingin dan tatapan tajam.
"Haah~aku dan Ares di jodohkan dan sialnya Ares menerimanya," ujar Aura ketika ia sudah bisa mengendalikan tangisannya. Tapi ia tak mengurangi sedikitpun dekapannya di pinggang Kevin.
"Dan kau menerimanya juga?" tanya Kevin sedikut emosi. Ia takut Aura meninggalkannya.
"Tentu saja tidak!! Kalau aku menerimanya mana mungkin aku ada disini. Granpa menyita semua fasilitasku sekarang yang ku punya adalah apartemen di pinggir kota serta beberapa mobil sport hasil taruhan balapanku!!" ucap Aura sebelum melepaskan dekapannya dari Kevin. Ia sedikit kesal dengan pertanyaan Kevin barusan. Apa apaan coba pertanyaannya itu?
"Syukurlah kau menolaknya honey."
Kembali Kevin menarik Aura ke dalam pelukannya begitu mendengar ucapan Aura barusan. Ia sungguh sangat lega.
"Tentu saja," jawab Aura sebelum menarik rahang Kevin guna menunduk ke arahnya. Satu ciuman ia sematkan di bibir sang kekasih, tanpa mengindahkan ke hadiran Biru yang sejak tadi menjadi penonton setia kemesraan keduanya.
Cup
"Ekhemm!!" dehem Biru dengan suara yang keras. Membuat Aura terpaksa melepaskan panggutannya di bibir manis Kevin.
"Mengganggu kau tahu, Biru?" ucapan bernada sindiran terlontar dari mulut manis Aura.
"Oh ayolah."
"Jadi sekarang bagaimana? Kalau kalian keluar kota ku yakin semua penerbangan bahkan kereta sudah di jaga oleh bawahan granpa. Tetapi kalau kalian tidak pergi malah mereka akan lebih mudah menangkap kalian," ujar Biru memberikan pendapatnya. Tampaknya ia berada di pihak Aura dan juga Kevin saat ini. Ya saat ini entah ke depannya.
"Sebaiknya kau istirahat dulu honey. Kita akan pikirkan lagi besok!" ujar Kevin mengelus sayang kepala Aura, membuat Aura semakin menyelusupkan kepalanya nayam di dada Kevin. Harum mind dan juga mentol membuat Aura sedikit rileks.
"Hmm."
"Pergilah ke kamarku nanti aku menyusul, masih ada beberapa dokumen perusahaan yang harus ku urus!" tambah Kevin.
"Aku akan menemanimu!" ujar Aura menolak perkataan Kevin. Ia akan menemani kekasihnya saja.
"Tidak."
"Kalau begitu bawa ke kamar saja!" ucap Aura memberikan saran dengan nada memaksa.
"Baiklah."
"Kalian sekamar?" tanya Biru membuat keduanya menatap ke arah Biru.
"Ya."
"Kenapa?" tanya Aura begitu melihat raut wajah tak suka di wajah Biru. Apa lagi yang salah?
"Apa kau gila? Tidak mana boleh aku membiarkan Aura sekamar denganmu!" ujar Biru menarik pergelangan tangan Aura dan menyembunyikan tubuh Aura di balik bahunya.
"Biru! Sudah, sebaiknya kau pulang. Aku tak mau granpa curiga, kau tau bukan granpa akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya, termasuk menyingkirkan Kevin dan dirimu?" ujar Aura dari balik punggung Biru.
"Aku tak mau itu terjadi. So pliss Biru!!" mohon Aura dengan raut wajah memelas menahan tangis. Ia tak mau ke hilangan dua pria yang amat ia sayangi dan cintai. Tidak hanya karna dirinya menolak bertunangan dengan Ares.
"Oke. Kali ini ku biarin tapi lain kali tak akan ku biarkan dan kau!! Jangan macam macam."
"Hanya satu macam," ujar Kevin menarik pinghang Aura merap ke padanya. Entah sejak kapan Aura sudah berada di dalam dekapan Kevin lagi.
"Kau!!!" bentak Biru menuding Kevin dengan telunjukknya.
"Cukup. Kevin ayo!!" lerai Aura begitu melihat Biru yang telah mengambil ancang ancang ingin menyerang Kevin.
"Aku pulang," pamit Biru kepada dua pasang kekasih itu.
"Thanks, Bir. Hati hati di jalan. Segera hubungi aku bila kau telah sampai!" ujar Aura kepad Biru. Tak lupa senyum manis ia berikan kepada pemuda yang telah ia anggap sebagai kakak laki lakinya itu.
"Ya. Nice dream Sweet heart," ujar Biru menghampiri Aura.
Cup
"Too Biru," balas Aura setelah memberikan satu ciuman si pipi kanan Biru dan dibalas dengan satu ciuman di kening Aura.
Cup
Setelah itu Biru segera melangkah meninggalkan ruang tamu rumah Kevin menuju halaman dimana mobilnya berada.
Setelah memastika mobil Biru telah menjauh, Kevin segera membalikkan tubuh Aura menghadap ke arahnya.
"Ad..
Cup~ Cup
"Dengan begini sudah ku hapus bekas ciuman Biru tadi. Aku tak suka milikku di sentuh orang lain!" ujar Kevin setelah mencium kening dan juga bibir Aura. Membuat Aura merona akibat ucapan serta perlakuan Kevin yang kelewat posesiv padanya, namun ia suka.
"Ke.. kevin!!" gugup Aura dengan kedua pipi yang merona.
"Hhhh... ayo ke kamar!" ujar Kevin dengan tawa yang mengalun merdu di bibirnya, membuat Aura tanpa sadar memasang senyum manis di wajahnya.
"Aku mencintaimu," bisik Aura begitu mereka telah berbarin di atas ranjang berukuran king size milik Kevin.
Aura memilih menyeluspukan kelapanya di dada Kevin, mencari posisi yang pas untuk ia tidur. Dan ia mendapatkannya di dekapan hangat milik Kevin.
Cup
"Aku lebih mencintaimu honey!" bisik Kevin mencuri satu ciuman di bibir Aura. Hanya menempel tanpa ada pangutan maupun lumatan, ia tak ingin mengganggu Aura yang tampak sudah terlelap.
"Tak akan ku biarkan siapapun merebutmu dariku honey. Siapapun, termasuk Ares dan juga Rei!" ujar Kevin mempererat dekapannya kepada Aura, sebelum ikut menyusul Aura yang telah lebih dahulu pergi memasuki alam mimpi.