
Malam itu malam yg sangat dingin desiran angin yg menyeruak terasa masuk kedalam pori-pori kulit.Hujan deras yg membuat tubuh Alanta basah kuyup tetapi Alanta tidak menghiraukannya ia tetap mencari pertolongan karna keadaan ayahnya yg semakin memburuk.
"Siapapun tolong aku".Teriak Alanta terisak dengan air mata yg terus mengalir .
Jalanan terlihat sangat sepi membuat Alanta semakin tidak tenang
"Menyedihkan sekali".Batin Alanta
Hingga saat Alanta melihat mobil yg melaju Alanta berlari dan melambay-lambaykan tangannya agar orang itu keluar dan menolongnya.
"Apa kau sudah bosan hidup".Ucap seseorang dengan suara yg tinggi dan tatapan tajam yg membuat Alanta ketakutan.
"Tolong saya tuan antarkan saya kerumah sakit ayah saya sedang sakit dirumah".Ucap Alanta dengan tertunduk.
"Apa aku seperti supir taxi sehingga kau memerintahku untuk mengantarkanmu, rupanya kau tidak tau siapa aku". teriak Diers yg semakin membuat tubuh Alanta bergetar hebat.
"Ti..tidaak tuan aku hanya meminta pertolongan padamu apa kau tega melihat anak dibawah umur sepertiku masih berkeliaran meminta belas kasihan orang lain".Ucap Alanta lirik dengan suara yg serak.
Diers terdiam sejenak merasa kasihan dengan gadis yg ada dihadapannya.
Alanta kembali bicara "Ayolah tuan tolong aku" ucap Alanta lirih terlihat mata yg berkaca-kaca.Diers semakin tidak tega melihatnya.
"Baiklah dimana rumahmu akan kuantarkan kerumah sakit."Ucap diers dingin.
"Terimakasih tuan terimaksih saya akan membalas kebaikan tuan kelak".Ucap Alanta sambil menyeka air matanya yg sudah ingin mengalir.
"Cepat masuk dan katakan dimana rumahmu sebelum aku berubah pikiran".Ucap Diers dingin.
Hening tidak ada pembicaraan apapun didalam mobil.
"Disitu tuan"Ucap Alanta menunjuk salah satu rumah yg kecil
Diers tak menjawab sepatah kata pun dan menghentikan mobilnya.
"Ayah apa yg terjadi bertahanlah aku akan membawamu kerumah sakit". ucap Alanta terisak menggoyang-goyangkan tangan ayahnya.
"Diamlah tidak akan terjadi apa-apa aku akan menolongmu, kau membuat gendang telingaku serasa ingin meledak".Ucap Diers ketus
Dia membantu membopong ayah Alanta untuk masuk kedalam mobil.
Alanta masih terisak didalam mobil melihat kondisi ayahnya.
"Apa kau bisa diam aku tidak konsen menyertir"ucap Diers dingin
"Apa kau tidak merasakan bagaimana jika kau ada diposisiku"ucap Alanta berteriak.
Diers yg mendengar itu menatap wajah Alanta kesal "ingin sekali aku merobek mulutnya"Batin Diers
"Berani-beraninya kau meninggikan suaramu didepanku"Tak kalah Diers berteriak
"Ahh baiklah maafkan aku"Ucap Alanta pasrah.
"Jika bukan karna ayah aku tidak sudi meminta pertolongan padamu sialan"Batin Alanta
Diers tak menggubris permintaan maaf Alanta ia hanya fokus menyetir dengan wajah datarnya.
"Apakah masih jauh tuan saya semakin cemas melihat ayah saya bisakah lebih dipercepat".Ucap Alanta
"Apa kau hanya hanya bisa menyusahkan orang lain diamlah aku sedang menyetir".ucap Diers ketus ia semakin kesal saat Alanta banyak bicara seperti sedang diintrogasi saja batin Diers.
"Baiklah baiklah aku tidak akan berani bersuara lagi maafkan aku tuan."ucap Alanta lirih.
Diers melihat Alanta jelas sekali terlihat luka dan kesedihan dimatanya ia merasa iba pada Alanta.
"Apa pedulinya aku bahkan aku tidak mengenalnya" Batin Diers.